Kamis, 10 Maret 2011

Piknik


Karena cinta bukan diukur dari sedalam apa otakmu untuk memikirkannya, tetapi sedalam apa hatimu untuk mencintainya.

Saya butuh piknik!

Saya butuh berpiknik. Tetapi saya mau berpiknik sendiri, tidak dengan teman, tidak dengan keluarga sekalipun. Saya mau berpiknik seorang diri.

Saya mau menyiapkan ransel besar. Isinya kaos, celana pendek, underwear, bando, ikat rambut, kutek, sandal, kalender, dan headset. Tidak lupa makanan, minuman, dan camilan. Saya mau berangkat tengah malam, saya mengendap-endap keluar dari kamar agar tidak ketauhan kalau saya akan berpiknik. Lalu saya berlari sekencang mungkin, agar cepat sampai ke tempat tujuan. Tidak, memang tidak butuh alat transportasi karena saya berpiknik bukan disembarang tempat. Saya berpiknik di otak mu.

Aha benar. Sesampainya di otak mu, saya akan membuka tenda warna ungu kembang-kembang, tidak perlu pakai lampu biar bulan menjadi penerangnya saja, tidak perlu pakai selimut biar malam mau berbagi hangatnya, tidak perlu pakai tikar mau beralaskan rumput saja. Ah otak mu memang tempat yang indah tiada duanya. Ada gemercik air sungai, pohon-pohon tinggi menjulang, sepertinya kalau pagi hanya sedikit sinar matahari yang dapat meloloskan diri, disana memang sejuk dingin begitu ya. Pokoknya malam ini saya mau tidur nyenyak, besok paginya saya mau menyambut hari dengan semangat. Saya mau memasak sarapan untuk kita berdua, apa ya? Telur mata hati saja bagaimana? Lalu minumnya teh celup panas tanpa gula. Setelah itu saya mau menikmati hujan disana, sambil tetap tiduran diatas rumput, mencium petrichor, mendengarkan hentakkan tungkai kaki hujan. Berpiknik di otakmu adalah tiada duanya. Besok pagi, kamu bangun siang saja agar saya bisa berpiknik lebih lama.

Tetapi ngomong-ngomong, saya sering dengar obrolan dan bercandaan kecil entah dari siapa. Setau saya itu suara mu, lalu siapa sih wanita yang kau ajak berbicara malam-malam begini? Saya ikuti sumber suaranya. Saya mengintip lewat semak-semak. Saya tidak terima, tempat itu lebih menakjubkan daripada otakmu. Dan yang saya lebih tidak terima, disana kau sedang mengobrol hangat dengan seorang wanita sambil tiduran dan menikmati bintang. Ternyata saya punya tetangga. Ternyata ada yang sedang berpiknik juga. Kalau saya berpiknik di otakmu, wanita itu justru kau izinkan untuk berpiknik di hatimu.

Bodoh. Saya memang bodoh!

Seharusnya saya mencari tempat berpiknik yang lebih layak daripada ini. Mentang-mentang kau sudah mau membukakan otak mu untuk saya bukan berarti saya dapat memiliki mu seutuhnya terutama hatimu itu, yang memang sedang untuk berpiknik wanita lain. Lalu, saya akan malu. Saya melangkah gontai keluar dari otak mu, padahal belum pagi, hujan mengantar saya pulang, saya mengendap lagi untuk masuk melalui jendela kamar. Saya malu, padahal saya sudah gembar-gembor kepada malam, hujan, rumput, tanah, sampai daun jendela, kepada siapapun saja saya berkata bahwa sepulang dari berpiknik saya akan membawa seseorang kemari untuk menata masa depan bersama saya. Semoga saja mereka terutama daun jendela tidak tau kalau saya pulang dengan tangan hampa.

Apa sih salah saya? Kenapa kamu tidak pernah memberi tempat terbaik dihidupmu untuk saya. Saya pikir ketika di otakmu sudah ada saya maka kamu akan terus menerus memikirkan saya, ternyata tidak. Karena cinta bukan diukur dari sedalam apa otak mu untuk memikirkan atau dipikirkan, tetapi sedalam apa hatimu untuk memberi dan menerima rasa cinta itu sendiri dari satu sama lain.

Saya salah tempat untuk berpiknik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar