Senin, 28 Maret 2011

Menyumbang Air Mata


''Ayo menyumbang air mata''

Kata Hilda, teman sekelasku, Jumat lalu. Seperti sebelum-sebelumnya juga memang setiap hari Jumat diedarkan toples plastik putih untuk pemberian infaq. Dasar Hilda, bisabisanya seperti itu. Sepertinya, hidupnya cukup mellow. Kalau berbicara dengannya, tak satupun cerita luput dari hal percintaan. Kisah cintanya sendirilah yang biasa dia pamerkan. Ya begitulah siapapun akan tau sendiri gaya berbicaranya, ekspresi mata dan bibirnya tidak pernah lepas.

Namun kali ini aku bingung, mengapa dia harus berkata 'ayo menyumbang airmata' sambil menyodorkan toples tersebut. Mungkin saja Hilda bercanda, karena memang suasana kelas sedang mendukung untuk galau, soalnya waktu itu gerimis ditemani suaminya, tanah kering, sedang melahirkan petrichor. Mungkin juga Hilda asal ceplos, tampak seperti melamun ketika berbicara hal itu, matanya juga kosong, sekiraku dia baru sepenuhnya sadar ketika aku tertawa terbahak tentang perkataannya barusan.

Bisa juga Hilda serius mengatakan itu. Mungkin Hilda kekurangan air mata. Sudahlah Hil, jangan membuang air mata mu sia-sia begitu. Kedepannya masih banyak momen yang memang mengharuskan mu untuk mengeluarkan air mata -bukan menangis- seperti tahun depan kau mungkin akan terharu melihat nilai ujian mu yang memuaskan lalu matamu harus sedikit berair ketika kau terpaku di depan papan pengumuman universitas favoritmu yang tintanya baru saja mengering bertuliskan Hilda Fredy Ardiansyah. Apapun itu Hil, jangan membuat sesuatu menjadi sia-sia, air mata sekalipun.

Sekiranya juga kau salah orang Hil kalau meminta ku untuk menyumbang airmata. Belakangan ini aku malah tidak bisa menangis, makanya aku sering uring-uringan sendiri karena masih ada yang mengganjal di dalam dada. Mungkin air mata ku membeku disana.

Ngomong-ngomong kalau Jum'at depan kau akan meminta sumbangan air mata lagi, ajak aku ya. Nanti aku bawa botol, bawa cangkir, bawa plastik, kalaupun perlu air mata akan aku simpan di dompet. Aku harap kau mengerti maksudku Hil. Aku menyimpan air mata mereka di sana bukan untuk cadangan kalau sewaktu-waktu aku ingin menangis, namun agar air mata jaga jarak dengan kelenjar air mata dan tidak bisa bertemu dan tidak akan bisa menangis lagi. Semoga saja kau tertarik dengan ideku ini, Hil. Memang seperti dipaksakan, karena kalau tidak begini kita semua akan miskin Hil, kita harus meminta minta, harus memohon orang untuk sekedar menyumbangkan airmatanya.

Semoga siapapun mau menyumbangkan air matanya untukku dan Hilda, lewat selang transparan yang aku selipkan di ekor mata mereka. Setuju Hel? Eum maksudku setuju Hil?

1 komentar: