Rabu, 02 Maret 2011

Memelihara Hujan


Aku mau memelihara hujan. Mau aku kumpulkan dulu, baik di dalam gelas, di dalam plastik, di tas, di dompet, juga di saku bajuku. Nanti hujan mau aku bawa masuk ke dalam rumah. Pokoknya mau aku pelihara!

Aku kunci rapat di dalam toples kaca. Biar hujan hidup di dalam sana saja. Hujan tidak akan aku beri selimut, biar dia yang selama ini terkenal dingin belajar menghangatkan dirinya sendiri. Tidak akan aku beri lilin, kalau hujan benar-benar punya cinta yang tulus, cinta akan meneranginya dan menunjukkan jalan yang paling terang. Tidak akan aku beri makan, nanti kalau hujan gendut tidak ada yang suka apalagi menaruh hati padanya. Tidak akan aku pinjami baju, biar hujan-hujan yang lain tertarik kepada hujanku.

Toples kacanya ada diujung teras belakang. Kalau sedang turun hujan, hujan sering menggaruk-garuk toples kacanya. Hujan iri tidak bisa berpasang-pasangan seperti yang lain. Sebenarnya tidak tega melihat hujan seperti itu, hujan juga butuh kebebasan keluar kesana kemari, pergi ke rumah makan, pergi ke mall, beli kutek, beli underwear, beli bando, beli jepit, hujan butuh hidupnya. Ah tapi apa, nanti kalau dibebaskan, hujan bisa lupa diri. Hujan suka lupa waktu kalau sudah mulai menunggu. Selama ini, hujan belum pernah curhat menunggu apa ataupun siapa. Biasanya malam hari setelah membanting pintunya aku temukan hujan meringkuk di dalam toples kaca sambil menangis, mukanya ditutup bantal, oh ya dia juga membawa ikat rambut warna kuning ada inisial 'H' di sana. Lipstick, bedak, maskara, blushon luntur semua. You-can-see polkadotnya juga lusuh. Seluruh tubuh hujan basah kuyub, mungkin hujan kehujanan, mungkin itu air mata. Kalau sudah begini, aku mengetuk pun tidak akan dihiraukannya, padahal seringkali aku bawakan susu coklat dan biskuit agar hujan lebih tenang. Sudahlah, tidak ada yang bisa disalahkan. Namanya juga perasaan.

Mungkin ini resikonya pelihara hujan betina. Sensitif, mudah menangis, galau setiap waktu, menye hidupnya, suka rahasia-rahasiaan, suka membanting pintu kalau marah, nada bicaranya seringkali meninggi, tertutup sekali.

Tenanglah hujan, aku disini, aku wanita sama sepertimu dan aku juga sendiri kok. Aku juga kesal waktu keadaan menuntutku untuk mematung disini sementara masih banyak hal yang harus aku perjuangkan. Ngomong-ngomong, kita sama. Kalau sudah menangis, tidak satupun orang bisa menggangguku ataupun menenangkanku, aku juga jarang curhat tentang perasaanku kepada yang lain, aku lebih suka menyimpan sendiri, daripada aku utarakan lalu semuanya tidak sejalan bisa-bisa aku rapuh lagi.

Hey hujan, kalau kamu mau nanti aku carikan hujan jantan. Tapi kamu harus janji, kamu harus carikan Robin untukku juga ya. Caranya terserah kamu saja. Kamu boleh buat dia basah kuyub, boleh buat dia kedinginan, pokoknya buat dia mampir dirumahku dan mengobrol panjang, percayalah cinta tumbuh dengan sendirinya karena kebersamaan. Nanti kalau sudah, kita pamer yuk. Kamu bergandengan dengan hujan jantan, aku juga akan bergandengan dengan Robin. Kita double-date, kita dilamar bersama, kita menikah bersama, nanti anak kita lucu-lucu pastinya.

Kalau sudah, bangunkan aku ya hujan. Ceritakan padaku juga tentang mimpi panjangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar