Rabu, 02 Maret 2011

Frustasi


Sekarang saya frustasi. Jangan kaget yang kemarin sempat melihat saya seperti sedang jatuh cinta, rambut di kepang, pakai ikat rambut dan bando merah, sering menyisir, sering bercermin. Kemarin saya memang sedang jatuh cinta. Pergi ke sekolah jadi lebih semangat. Mengikuti pelajaran jadi lebih mudah. Sehari-hari isinya senyum melulu. Pokoknya asyik deh.

Tidak seperti sekarang ini, saya frustasi. Jangan tanya kenapa, karena kau pasti sudah tau sebabnya, resiko jatuh cinta ya patah hati. Sekarang saya frustasi karena patah hati. Mengganjal sekali rasanya di dalam hati sana, ingin menangis, ingin merobek-robek kertas, ingin mencoret-coret meja, ingin memukul orang, ingin bilang kalau kau cukup hebat dapat membuat saya berubah drastis begini.

Asal kau tau saja, rambut saya sudah mulai tidak karuan, saya ikat sekenanya saja, saya bando agar terlihat sedikit rapih bagian depannya. Saya jadi malas sarapan ataupun pergi ke kantin. Kutek saya yang setengahnya sudah mengelupas saya biarkan saja. Pakai underwear sedapatnya. Sudah tidak butuh lagi dengan sisir dan juga cermin. Yang jelas, saya malas berangkat pagi-pagi sekali. Saya juga sudah tidak mau menunggu mu untuk sekedar lewat dan tersenyum.

Kau sadar tidak kalau saya sedang frustasi? Kenapa sih kau dulu harus tersenyum setiap kali bertemu, harus malu-malu untuk meminta nomor handphone saya, harus mengobrol panjang di teras rumah saya, harus mengajak saya bercanda, harus membuat saya tenggelam jauh di setiap inci hidupmu. Buat apa semua itu kalau akhirnya saya dihadapkan dengan patah hati lalu frustasi.

Mungkin saya juga yang terlalu berlebihan dan GR. Mungkin kau pikir semua itu hanya sebatas teman. Mungkin memang jalan pikiran pria tidak pernah se-sensitif wanita.

Terimakasih sebelumnya. Ngomong-ngomong saya lebih terlihat cantik ketika frustasi begini, kesannya lebih natural.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar