Selasa, 29 Maret 2011

Bank Harapan


Sudah lama aku dan keluarga tidak berduduk santai di koridor ruang tengah. Para tetangga biasa menyebutnya 'kapal' karena berbentuk panjang dan dulu kami sering menghabiskan waktu untuk bercanda disana sambil duduk berhadapan, yah seperti di atas kapal begitulah. Justru malam ini ketika semua berkumpul disana, aku kecewa. Karena sebuah masa depan. Tiba-tiba kami membicarakan tentang masa depan, masa depanku lebih tepatnya. Orang rumah bilang aku salah ambil jurusan. Harusnya aku tidak perlu pindah ke jurusan Ilmu Sosial, harusnya aku memang tetap di jurusan Ilmu Alam, kata mereka begitu. Maaf ya Ibu, waktu itu berkali suara ku meninggi, bukan bermaksud menentang, hanya saja aku tidak suka kecewa di akhir. Biarlah aku tetap dengan Ilmu Sosialku, dengan Akuntansiku, Ekonomiku, dengan les private yang sering membuatku jemu. Biarlah aku tidak merasa kecewa karena memilih jurusan Ilmu Sosial terutama memilih kelas dan teman-temanku sekarang ini.

Mengapa disaat serius seperti waktu itu Ibu masih sempat bercanda? Tidak tau juga benar benar bercanda atau bermaksud menyindir. 'Kayak nabung di bank harapan aja kalau kamu masuk IPS' Oh Ibu mengertilah, jangan sangkut pautkan antara masa depan ku dengan hal-hal yang tidak masuk akal begitu. Baiklah aku mengerti kalau suatu saat nanti ketika aku lulus kumlaud dan menjadi Akuntan ataupun Ekonom, kemungkinan besar aku memang akan bekerja disana, tetapi yang tempo hari disebutkan 'Bank Harapan' kok sepertinya mengganjal begitu ya, 'Harapan'nya itu lho tidak enak sekali didengar.

Kalau berbicara tentang harapan, Ibu atau siapapun, tidak perlu khawatir. Ibarat sakit aku sudah kebal. Aku sudah kebal kok dengan harapan-harapan. Dari harapan yang sering membawa ku terbang untuk sekedar dapat menikmati awan bak arumanis merah jambu di pasar malam dan pada akhirnya aku harus terpental jatuh. Atau harapan yang membawa aku berenang lebih dalam menikmati kesedihan yang berkarak di terumbu karang, kesana lebih dalam jauh lebih dalam lagi sampai aku tenggelam. Aku sudah berpengalaman dengan harapan, sekarang saja aku mulai sering berkirim pesan pendek dengan harapan untuk mencari waktu yang tepat agar bisa berkencan di taman bunga tidur berdua.

Seperti yang Ibu katakan juga tempo hari sebelum aku memutuskan untuk membanting pintu kamar sehingga bantal yang tadinya haus sudah aku beri minum airmata. Seingatku Ibu bilang 'kalau menabung di bank harapan mau tidak mau bonusnya ya harapan'. Baiklah untuk itu aku setuju. Tetapi ketauilah bahwa ketika kau sudah berani memprioritaskan Ilmu Sosial di hidupmu -karena kebanyakan orang merasa gengsi untuk menuju kearah sana- bukan berarti kau sedang menabung harapan untuk sekedar disimpan rapih, namun harapan senantiasa berjalan sejajar bersamamu untuk mendukung juga bisa berjalan dibelakang mu untuk menopang ketika kau jatuh. Harapan itu sebenarnya baik kok asal kau menyambutnya dengan baik. Harapan tidak suka diberi embel-embel ataupun nama belakang 'Kosong'.

Saran saya, ucapkanlah amin cukup lantang secara hati dan lisan siapa tau harapan-harapan kosong itu memang diciptakan kosong seperti gelembung agar dapat menjadi wadah untuk doamu biar bisa terbang dan cepat sampai ke Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar