Selasa, 29 Maret 2011

Jejak Cinta


Seperti berjalan atau sedikit berjinjit atau berlari kecil diatas pasir, jejak kaki akan terlihat disana. Hatiku itu laut lepas, ada pantainya juga, ada pasir, pohon kelapa, angin sepoi, bisa melihat sunset juga sunrise. Kalau weekend, Cinta sering berjalan-jalan disana, untuk merasakan bagaimana rasanya iri melihat yang lain berkencan sambil bermain ombak pantai. Untuk menitikkan air mata ketika ia harus menikmati eskrim sendiri. Untuk mengepal tangannya, geram, ketika cinta tidak berpihak kepada Cinta. Goblok ya, maumaunya Cinta tersiksa begitu. Kalau jadi aku, weekend paling enak menghabiskan waktu untuk tidur saja. Tapi aku akui, Cinta itu cukup kuat, tidak pasif demi apa yang ia mau, diam-diam aku salut.

Cinta, jejak kakimu kecil, jari kakimu lentik, telapak kakimu mulus. Andai saja mereka tau betapa cantiknya bagian dirimu yang tidak terlihat itu. Pasti sekarang kau sudah punya pacar, setiap malam minggu kau tidak akan mematung di kamar, kau harus bolakbalik beli pulsa karena cepat habis untuk telfon ataupun berkirim pesan pendek, paginya matamu pasti masih merah karena tengah malamnya kau ditelfon kekasihmu yang menunggu gratisan dari operatornya, dan Cinta pasti juga akan menjadi orang nomor satu ketika kekasihnya ada acara ngeband atau tanding basket atau sekedar lomba membaca AlQuran tingkat RW. Percayalah Cinta, kau pasti akan mendapatkan cinta kok tenang saja. Maksudku cinta sejati cinta yang benar-benar cinta, bukan cinta sembarang cinta yang diobral sana obral sini. Dibalik penantian panjang pasti akan ada sebuah rencana besar dari Tuhan yang paling baik.

Sini Cinta, berlari kecil lah di tepi pantai hati ku. Aku doakan semoga seseorang yang sedang 'sendiri' sama seperti juga akan mengikuti jejak kakimu diatas pasir. Oh ya jangan lupa kau berlari ke arah ku ya, jadi ketika benar-benar ada seseorang mengikuti jejak kakimu, ia akan menemukan ku terpatung menantinya. Semoga kau mau berkorban untukku sedikit, Cinta. Karena aku telah lajang lebih lama daripada kau yang sering gontaganti status di jejaring sosial facebook.

Bank Harapan


Sudah lama aku dan keluarga tidak berduduk santai di koridor ruang tengah. Para tetangga biasa menyebutnya 'kapal' karena berbentuk panjang dan dulu kami sering menghabiskan waktu untuk bercanda disana sambil duduk berhadapan, yah seperti di atas kapal begitulah. Justru malam ini ketika semua berkumpul disana, aku kecewa. Karena sebuah masa depan. Tiba-tiba kami membicarakan tentang masa depan, masa depanku lebih tepatnya. Orang rumah bilang aku salah ambil jurusan. Harusnya aku tidak perlu pindah ke jurusan Ilmu Sosial, harusnya aku memang tetap di jurusan Ilmu Alam, kata mereka begitu. Maaf ya Ibu, waktu itu berkali suara ku meninggi, bukan bermaksud menentang, hanya saja aku tidak suka kecewa di akhir. Biarlah aku tetap dengan Ilmu Sosialku, dengan Akuntansiku, Ekonomiku, dengan les private yang sering membuatku jemu. Biarlah aku tidak merasa kecewa karena memilih jurusan Ilmu Sosial terutama memilih kelas dan teman-temanku sekarang ini.

Mengapa disaat serius seperti waktu itu Ibu masih sempat bercanda? Tidak tau juga benar benar bercanda atau bermaksud menyindir. 'Kayak nabung di bank harapan aja kalau kamu masuk IPS' Oh Ibu mengertilah, jangan sangkut pautkan antara masa depan ku dengan hal-hal yang tidak masuk akal begitu. Baiklah aku mengerti kalau suatu saat nanti ketika aku lulus kumlaud dan menjadi Akuntan ataupun Ekonom, kemungkinan besar aku memang akan bekerja disana, tetapi yang tempo hari disebutkan 'Bank Harapan' kok sepertinya mengganjal begitu ya, 'Harapan'nya itu lho tidak enak sekali didengar.

Kalau berbicara tentang harapan, Ibu atau siapapun, tidak perlu khawatir. Ibarat sakit aku sudah kebal. Aku sudah kebal kok dengan harapan-harapan. Dari harapan yang sering membawa ku terbang untuk sekedar dapat menikmati awan bak arumanis merah jambu di pasar malam dan pada akhirnya aku harus terpental jatuh. Atau harapan yang membawa aku berenang lebih dalam menikmati kesedihan yang berkarak di terumbu karang, kesana lebih dalam jauh lebih dalam lagi sampai aku tenggelam. Aku sudah berpengalaman dengan harapan, sekarang saja aku mulai sering berkirim pesan pendek dengan harapan untuk mencari waktu yang tepat agar bisa berkencan di taman bunga tidur berdua.

Seperti yang Ibu katakan juga tempo hari sebelum aku memutuskan untuk membanting pintu kamar sehingga bantal yang tadinya haus sudah aku beri minum airmata. Seingatku Ibu bilang 'kalau menabung di bank harapan mau tidak mau bonusnya ya harapan'. Baiklah untuk itu aku setuju. Tetapi ketauilah bahwa ketika kau sudah berani memprioritaskan Ilmu Sosial di hidupmu -karena kebanyakan orang merasa gengsi untuk menuju kearah sana- bukan berarti kau sedang menabung harapan untuk sekedar disimpan rapih, namun harapan senantiasa berjalan sejajar bersamamu untuk mendukung juga bisa berjalan dibelakang mu untuk menopang ketika kau jatuh. Harapan itu sebenarnya baik kok asal kau menyambutnya dengan baik. Harapan tidak suka diberi embel-embel ataupun nama belakang 'Kosong'.

Saran saya, ucapkanlah amin cukup lantang secara hati dan lisan siapa tau harapan-harapan kosong itu memang diciptakan kosong seperti gelembung agar dapat menjadi wadah untuk doamu biar bisa terbang dan cepat sampai ke Tuhan.

Senin, 28 Maret 2011

Menyumbang Air Mata


''Ayo menyumbang air mata''

Kata Hilda, teman sekelasku, Jumat lalu. Seperti sebelum-sebelumnya juga memang setiap hari Jumat diedarkan toples plastik putih untuk pemberian infaq. Dasar Hilda, bisabisanya seperti itu. Sepertinya, hidupnya cukup mellow. Kalau berbicara dengannya, tak satupun cerita luput dari hal percintaan. Kisah cintanya sendirilah yang biasa dia pamerkan. Ya begitulah siapapun akan tau sendiri gaya berbicaranya, ekspresi mata dan bibirnya tidak pernah lepas.

Namun kali ini aku bingung, mengapa dia harus berkata 'ayo menyumbang airmata' sambil menyodorkan toples tersebut. Mungkin saja Hilda bercanda, karena memang suasana kelas sedang mendukung untuk galau, soalnya waktu itu gerimis ditemani suaminya, tanah kering, sedang melahirkan petrichor. Mungkin juga Hilda asal ceplos, tampak seperti melamun ketika berbicara hal itu, matanya juga kosong, sekiraku dia baru sepenuhnya sadar ketika aku tertawa terbahak tentang perkataannya barusan.

Bisa juga Hilda serius mengatakan itu. Mungkin Hilda kekurangan air mata. Sudahlah Hil, jangan membuang air mata mu sia-sia begitu. Kedepannya masih banyak momen yang memang mengharuskan mu untuk mengeluarkan air mata -bukan menangis- seperti tahun depan kau mungkin akan terharu melihat nilai ujian mu yang memuaskan lalu matamu harus sedikit berair ketika kau terpaku di depan papan pengumuman universitas favoritmu yang tintanya baru saja mengering bertuliskan Hilda Fredy Ardiansyah. Apapun itu Hil, jangan membuat sesuatu menjadi sia-sia, air mata sekalipun.

Sekiranya juga kau salah orang Hil kalau meminta ku untuk menyumbang airmata. Belakangan ini aku malah tidak bisa menangis, makanya aku sering uring-uringan sendiri karena masih ada yang mengganjal di dalam dada. Mungkin air mata ku membeku disana.

Ngomong-ngomong kalau Jum'at depan kau akan meminta sumbangan air mata lagi, ajak aku ya. Nanti aku bawa botol, bawa cangkir, bawa plastik, kalaupun perlu air mata akan aku simpan di dompet. Aku harap kau mengerti maksudku Hil. Aku menyimpan air mata mereka di sana bukan untuk cadangan kalau sewaktu-waktu aku ingin menangis, namun agar air mata jaga jarak dengan kelenjar air mata dan tidak bisa bertemu dan tidak akan bisa menangis lagi. Semoga saja kau tertarik dengan ideku ini, Hil. Memang seperti dipaksakan, karena kalau tidak begini kita semua akan miskin Hil, kita harus meminta minta, harus memohon orang untuk sekedar menyumbangkan airmatanya.

Semoga siapapun mau menyumbangkan air matanya untukku dan Hilda, lewat selang transparan yang aku selipkan di ekor mata mereka. Setuju Hel? Eum maksudku setuju Hil?

Cinta Tidak Bisa Dibeli


Pernah aku menabung pesan pendek, namun sepertinya tidak bisa membuat aku kaya. Lalu pernah juga menabung di Bank Harapan di ujung jalan sana, justru aku hanya mendapat untung sebuah harapan. Susah ya mendapatkan uang, harus berusaha matimatian. Uang tidak mengalir begitu saja seiring kebersamaan dan berjalannya waktu.

Beda dengan cinta. Cinta dapat datang tanpa diduga seiring berjalannya waktu. Dan disitu juga susahnya. Kalaupun berusaha matimatian tapi cinta tidak berpihak, yasudah, bukan salah bunda mengandung juga. Siapapun tidak dapat membeli cinta. Karena cinta tidak di jual di kaki lima walaupun pedagangnya sudah pasti punya. Cinta tidak ada di swayalan, karena alergi AC. Juga tidak ada di deretan peralatan rumah tangga, cinta takut terkena pisau, patah. Tidak mau di toko elektronik, nanti kalau kesetrum cinta tidak pink lagi. Terus kalau orang kaya yang tidak punya perasaan mau beli cinta dimana?

Jangan salah, sebenarnya Tuhan menjual cinta.

Beberapa hari yang lalu aku lihat di website Tuhan, banyak yang sedang bernegosiasi disana, ada yang terus-terusan memilih, ada yang marah marah karena tidak menemukan seleranya, ada juga yang seperti aku, sekedar melongok untuk melihat melihat saja, karena aku tidak punya uang. Sebenarnya aku ingin langsung berkunjung ke kios-Nya, lagi-lagi gagal karena tiket pesawat mahal.

Eh tapi kata Tuhan yang ternyata tau aku sedang memperhatikan website-Nya, Dia bilang 'Jangan takut mahal. Mereka saja yang tidak paham. Sebenarnya cinta yang Aku tata rapih di dinding surga bukan dihargai dengan uang'

Lagi-lagi aku bingung. Tuhan suka sekali mengagetkan ku. Namun setelah aku pikir lama, benar juga. Mana mungkin Tuhan butuh uang. Kata-Nya, kalau mau mendapatkan cinta dari Tuhan, aku harus membuang sifat burukku dan satu per satu cinta akan diterbangkan dari surga untukku. Yang jelas, gratis!

Ngomong-ngomong kalau nanti cinta sejati sudah berpihak kepadaku, aku akan memberikan setengahnya untuk mu. Dijaga ya, jangan sampai dikerubuti lalat sekalipun kau sedang di kaki lima. Diberi selimut agar tidak kedinginan kalau kau sedang pergi ke swalayan. Kau juga begitu, jagalah jarak sejauh mungkin dari pisau ataupun listrik agar tidak teriris dan kesetrum karena cintaku sekarang ada di saku baju yang tidak mungkin pernah kau lepas apalagi kau cuci. Itu lho baju bersaku yang aku rajutkan dari hujan agar cinta mu tidak perlu malu lagi ketika berjalan-jalan dengan ku.

Sepertinya memang tidak perlu membeli cinta. Cintaku dikantungi tepat didepan hati cintamu.

Rabu, 23 Maret 2011

Kutek

Sedang mencoba fokus pada satu warna kutek saja, tidak mau gonta-ganti terlalu cepat karena pada akhirnya hanya akan sia-sia saja.

Biasanya aku suka gonta-ganti dalam memakai kutek. Aku sesuaikan dengan bando, ikat rambut, jepit, sapu tangan, sampai underwear. Biar lucu. Biar menarik. Biar tidak bosan. Tapi kok lama-lama kuku ku jadi banyak yang rusak garagara gonta-ganti warna kutek setiap hati seperti itu ya. Kalau aku teruskan, bukannya kuku ku semakin indah justru kuku ku mungkin akan lepas dari ujung jariku, karena kuku kuku itu sudah benar-benar rapuh, serius.

Aku juga sedang ingin fokus kepada satu orang saja. Tidak keroyokan seperti sebelumnya. Menurutku semakin banyak pilihan maka semakin banyak juga setan yang mengasut sana menghasut sini, setan yang sok bijaksana-bijaksini. Aku hanya tidak ingin keburu rapuh. Aku bosan berhenti ditengah jalan lalu kembali lagi ke awal lalu berjalan lalu berhenti ditengah jalan lalu kembali lagi ke awal, begitu melulu.

Mungkin seiring berjalannya waktu. Seiring kuku ku yang mulai mengelupas, aku akan sadar. Gonta-ganti kutek hanyalah melalukakn hal sepele tanpa berfikir panjang untuk sesuatu yang lebih penting. Juga, sesuatu yang hanya satu bukan berarti membosankan justru terkadang dapat memberi hal lebih kepada yang lain.

Kutek kutek ku, aku akan meninggalkan mu sesegera mungkin yang aku bisa. Agar kuku ku tidak lagi rapuh, agar aku dapat fokus terhadap satu warna kutek saja yang sekiranya bermanfaat untuk hidupku, agar kesananya menjadi lebih berarti.

Kalau untuk kutek yang lain, mungkin kita bisa sebagai teman, eum...maksudku aku tidak akan membuangmu, aku akan menyimpan mu di tempat yang tidak se-spesial ketika aku menyimpan mu sebelumnya.

Jadi aku akan tentukan dari sekarang, kutek warna apa yang akan menemaniku mulai dari hari ini, besok, lusa, sampai hanya waktu yang sanggup mengelupasnya bersama perih.

Kupu Kupu Di Dalam Dada

*terimakasih inspirasinya untuk Christoper Nelwan dengan lagunya Jari Jari Cantik

...

Siapakah engkau gerangan

Putri dari khayangan

Jemarimu begitu cantik

Hatiku tergelitik

Seperti ada kupukupu menari dalam dadaku

...

Namanya saja sedang jatuh cinta. Kalau sudah terlanjur ku masukkan ke dalam hati memang agak susah keluarnya. Jangankan dia, kupukupu pun aku biarkan keluar masuk sepuasnya ke dalam dada sana. Kupukupu memang agak jelek sifatnya, mereka cuma mau datang kepada orang yang sedang jatuh cinta saja, lalu kalau sudah patah hati, kupukupu akan pergi tidak bertanggung jawab. Ya begitulah kupukupu, sukanya datang kepada orang yang sedang penuh cinta. Lalu kalau lapar kupukupu akan memakan cinta, cinta bisa dibuat camilan, bisa ditumis, bisa digoreng, ya terserah kupukupu saja, pokoknya dimakan sampai cinta habis lalu akan ditinggal terbang begitu saja kalu sudah habis.

Bodohnya, aku tetap membiarkan kupukupu hadir dalam setiap momen jatuh cinta ku. Mungkin inilah sebabnya mengapa aku seringkali patah hati. Cintaku sering keburu habis ditengah jalan!

Seperti sekarang, kupukupu mulai berdatangan. Tau saja kalau cintaku sedang banyak-banyaknya. Jarijari kupukupu suka jahil, suka menggelitik hatiku, suka menggaruk jantungku sampai aku sering berdebar begini. Tetapi kali ini tidak seperti jatuh cinta yang biasanya. Kali ini kupukupu lebih mengerti posisiku bagaimana, posisi seseorang yang sedang berusaha matimatian untuk mendapatkan orang yang dicintainya, yang sepertinya juga butuh banyak energi.

Aku harap kupukupu tidak terlalu rakus agar cintaku tidak cepat habis dimakannya bersama dengan waktu. Karena mengusahakan seseorang yang dicintai tidak semudah hal yang lain. Kadang korban tenaga, kadang korban logika, lebih sering korban perasaan, makanya aku butuh banyak energi, kalau nanti cintaku habis ditengah jalan dimakan kupukupu lalu aku harus maju dengan siapa padahal cinta satusatunya bekalku, satu satunya harta ku, karena cintaku untuknya adalah sesuatu yang paling besar dihidupku.

Aku berdoa agar kupukupu cepat diajak kencan lalu pacaran lalu menikah lalu punya anak, sampai kakek-nenek kupukupu tetap didalam dada sana. Karena kalau kupukupu semakin lama betah disana berarti semakin lama pula cintaku bertahan. Cintaku yang tidak habis habis. Aku tidak perlu lagi harus patah hati ditengah jalan.

Hey, kupukupu. Aku kan sedang butuh banyak energi untuk mendapatkan seseorang yang aku cintai, nanti kalau aku lapar, aku minta seporsi tumis cinta atau cinta goreng atau cinta apapun saja yang kau ambil dari dalam dadaku ya, cintaku mau aku makan saja biar aku tidak perlu punya cinta kalau hanya harus disakiti begini.

414 Pesan Pendek

Masih ingat dengan postingan saya beberapa waktu lalu tentang 'Tabungan Pesan Pendek' ? Iya itu lho. Yang waktu itu saya menulis sambil senyum senyum sendiri. Kopi pekat juga terasa manis. Mi instan pakai 10 cabai seperti spageti saja. Daun jendela saya buka lebar, saya mau pamer dengan siapapun yang diluar sana kalau ternyata masih ada yang mau berkirim pesan pendek dengan saya. Laptop toshiba pun sampai bergidik ngeri, dia kira saya sedang tersenyum dengan siapa. Padahal saya tersenyum dengan 414 teman saya. Teman teman saya yang saya simpan dengan rapih di rumah kontrakannya, namanya rumah Tabungan. Mengapa saya sebut rumah kontrakan? Karena saya yakin, sebanyak 414 pesan pendek itu tidak akan bertahan lama. Lihat saja buktinya sekarang.

Padahal sempat di satu pagi, saya pamerkan. Sepertinya saya bangga sekali punya tabungan pesan pendek yang saya simpan sebagai kenang kenangan antara kau dan saya. Kaupun tidak merasa keberatan sama sekali waktu itu, malahan meminta saya untuk menunjukkan. Lalu kita duduk dibawah kipas angin sambil senyum senyum sendiri. Ah saya rindu. Tidak tidak! Tidak rindu. Eum maksud saya tidak boleh rindu.

' 414 messages in folder Tabungan have been deleted, would you delete this folder too?' itu kata handphone saya...

Itu kata handphone saya setelah tombol backspace nya saya pijat pijat pelan cukup lama. Saya berfikir, diam. Saya harus hapus tabungan pesan pendek ini atau tidak. Bukannya kalau ingin menghapus segala sesuatu apapun itu, yang menjadi dasar harus sudah terhapus. Kalau yang sepele saja tidak kuat untuk menghapusnya bagaimana tentang level menghapus selanjutnya yang jelas jelas lebih sulit. Yasudah, akhirnya saya hapus. Agar saya mampu untuk ke level selanjutnya.

Menyesal? Siapa sih yang tidak menyesal kalau dirinya dihapus duluan, kalau masalah balas menghapus itu mungkin masalah balas dendam. Sudahlah jangan munafik, bahwa cinta, sakit, dendam, mereka itu bersaudara kok jadi tidak jarang kalau sering berhubungan satu sama lain. Keputusan saya sudah bulat, sebulat dambaan hati saya sekarang ini.

' 414 messages in folder Tabungan have been deleted, would you delete this folder too?' itu kata handphone saya...

Ada yang tau kata hati saya?

Jangan bilang siapapun, kata hati saya, foldernya jangan dihapus siapa tau kalau ada rejeki saya bisa menabung lagi. Tapi dikesempatan berikutnya saya akan menabung yang jelas-jelas bisa saya andalkan untuk masa depan saya.

Secuil Perjalanan




Kalau sudah begini aku memang tidak bisa diganggu. Hanya duduk di kursi rotan atau sekedar berdiri kuda-kuda di depan jendela kayu kamar ku. Seharusnya memang tidak perlu diberi kanopi, agar hujan dapat bercumbu langsung dengan jendela diteruskan selingkuh dengan kisikisinya. Membuat luntur cat luar kamar ku. Melahirkan lumut lumut kecil disetiap tepinya. Lalu menetes turun sampai ke tanah, meresap disana, sampai cacing yang awalnya haus kini mati kekenyangan air. Ketika itu hujan dihadapkan pada banyak pilihan. Bisa meresap ke akar pohon untuk kepentingan bersama, bisa membuat genangan sia-sia, bisa juga mencari jalan ke laut lepas untuk menjadi hujan yang baru.

Enak sekali jadi hujan. Kalau aku jadi hujan, jelas aku akan memilih jalan ke laut agar aku dapat menguap lalu menetes sebagai hujan baru. Lahir kembali tanpa dosa, seperti tidak pernah punya salah, seperti segala sesuatu sudah dimaafkan, seperti dirindukan banyak orang untuk sebuah kehadiran. Kalau memang begitu aku akan berjanji, berjanji memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku buat, belajar untuk meminta maaf, belajar untuk lebih kuat, belajar untuk lebih ikhlas, bukannya sesuatu itu yang penting usahanya kan kalau hasilnya itu urusan Tuhan lagipula biar Tuhan juga punya kerjaan.

Sayangnya sebagian besar dari hujan memilih untuk membentuk genangan air. Apa gunanya sih? Paling tidak kalau hujan menyerap ke akar pohon, hujan bisa bermanfaat untuk orang lain. Atau bisa juga kembali lagi ke laut untuk menguap dan menjadi hujan baru, kalaupun dibilang egois hujan memikirkan dirinya sendiri seperti tidak masalah daripada harus menjadi sia-sia seperti di genangan air. Hujan mandi lumpur katanya biar kulitnya mulus, pakai hair mask lumpur juga biar rambutnya mengembang indah ketika dikibaskan, lalu hujan hanya akan bersandar. Ada yang bergosip ria, ada yang sambil pacaran, ada yang pasif. Yang jelas sebagian besar dari hujan sudah memilih sesuatu yang tidak berguna untuk siapapun termasuk dirinya sendiri, menurutku.

Mau bagaimana lagi, ini memang sudah perjalanan hidup masing-masing.

Sabtu, 19 Maret 2011

Kenangan Menangis


Embernya sudah mau penuh. Sejak tanggal 4 Maret 2011 lalu aku coba untuk menjepit semua kenangan yang pernah ada dengan cara menggantungkannya di tali jemuran samping rumah. Sudah cukup lama juga. Makanya ember itu hampir penuh. Penuh terisi air. Air mata kenangan. Kalau tidak dijepit menggantung begitu air matanya agak susah keluar. Mungkin itu salah satu cara yang terbaik untuk sekarang ini daripada perasaan kenangan harus mengganjal karena kenangan-kenangannya itu sendiri.

Ada apa saja ya?

Ada foto aku dan dia. Ada kalender yang penuh coretan spidol ungu, yang cukup banyak bentuk hati aku gambar disana disekitar tanggal ulang tahunnya. Karena kalendernya bonus dari pesawat makanya nama pesawat itu aku ganti namanya. Oh iya ada pesawat pesawatan kertas dari dia tulisannya 'ILU' dengan bentuk hurufnya yang latin besar-besar, sudah aku jawab 'ILUTOO' namun belum sempat aku terbangkan ke tempatnya karena kami keburu marahan. Ada tabungan pesan pendek di handphone ku darinya. Semua aku jemur, aku jepit, aku gantung di tali jemuran. Kalau mereka mau menangis, biarlah menangis sepuas puasnya. Mungkin mereka cukup sedih karena sekarang 'pembuat kenangan' sudah pergi.

Kasihan ya kenangan.

Biasanya kenangan selalu tertidur pulas di sofa ketika mendengarkannya memetik gitar, suka mengomel ketika dia bau rokok, suka cemburu kalau dia mulai hobi membuka situs porno, suka marah kalau dia lebih mendengarkan headsetnya daripada cerita hidup kenangan, suka ikut badmood kalau dia juga tidak semangat begitu, kenangan juga suka tertawa paling keras dari bercandaan datarnya itu, suka bangun subuh subuh untuk memasakkan jamur crispy favoritnya, suka membawa ikat rambut double setiap hari Jumat. Hey kenangan, kita tidak jauh beda, kita sama.

Oh iya kenangan, sebenarnya aku sudah pesan kue tart spesial untuknya sekitar 3 bulan lagi tepat dihari ulang tahunnya. Namun sepertinya tidak jadi, karena dia yang dulu sudah pergi, dan aku tidak suka dia yang baru.

Ngomong-ngomong, aku masih ada tidak ya di kontak favoritnya di handphone putihnya itu? Kalau dia memakan jamur kira-kira ingat tidak dengan aku? Kalau melihat hujan, kalau mencium petrichor apa aku juga sempat terbesit dibenaknya? Atau jangan jangan tidak sama sekali. Jangan jangan dia akan membuang kenangan kenangan dari ku sejauh mungkin, di tempat terpencil yang tidak ada taxi, agar kenangan kenangan dari ku untuknya tidak mungkin kembali kepadanya lagi.

Kenangan, jangan menangis lagi. Sudah cukup. Aku tidak akan membuang mu kok. Tenang saja. Aku menjepit dan menggantung mu begini supaya air mata mu keluar semua dan menjadi kenangan yang kuat yang baru yang tidak pantang menyerah. Nanti kalau sudah, kenangan ikut aku yuk jalan-jalan ke mall siapa tau bertemu seseorang pembuat kenangan baru yang lebih bertanggung jawab. Agar kenangan tidak perlu menangis lagi.

Karena siang bolong ini, dari ujung tali jemuran, kenagan berbisik kepadaku, 'Jangan buang aku ya.'

Surat Kaleng #8 untuk Vid-Havid

Ini surat kaleng yang ke-8. Belakangan ini saya suka angka 8. Karena saya sedang kepincut dengan seseorang yang berinisial tepat diurutan ke-8 dari alfabet. H! Iya, huruf H. Saya suka girang sendiri kalau secara sengaja ataupun tidak melihat jam tepat pukul 08:08. Tetapi yang saya bicarakan diatas tadi bukan H untuk Havid. Tidak kok, saya tidak sedang jatuh cinta kepada Havid. Saya jatuh cinta dengan H yang lain.

Oh iya jadi namanya Havid Dwi Pradipta. Kami bertemu di pertengahan 2010 lalu. Saya punya panggilan istimewa untuknya; Vid-Havid. Ucapkanlah itu dengan cepat. Saya biasa memanggilnya seperti itu, diawali dari setiap pagi sampai siang kadang kalau dapat bonus sms dari operator saya biasa melanjutkannya sampai malam. Iya untuk sekedar menyapa; Vid-Havid. Kalaupun dia tidak membalas sapaan dari saya itu bukan suatu hal yang luar biasa bagi saya. Karena Havid memang jarang menggubris saya, eum maksudnya, jarang menggubris tentang sapaan dari saya tadi.

Saya kagum dengan Havid.

Semoga siapapun termasuk seseorang yang sedang naksir Havid tidak salah persepsi ketika membaca ini. Saya hanya kagum, sudah itu saja. Saya kagum dengan segala sesuatu yang ada padanya, bukan dengan Havidnya. Mengerti? Baiklah jadi begini maksud saya, kalaupun ada seseorang yang memiliki segala sesuatu seperti Havid, dari sifat, kepribadian, sampai jiwa ke-bapak-an nya, saya pun juga akan kagum, mungkin juga kepincut kepadanya. Jadi tidak terpaku kepada Havid saja, namun terhadap segala sesuatu yang terdapat padanya.

Kepribadiannya dari A-Z yang kalau dirinci tidak akan ada buruknya. Saya tidak sedang gombal, tidak sedang mengelu-elukan, saya juga bukan tipe orang yang hiperbola. Havid memang seperti itu. Saya nyaman ketika harus melihatnya dari arah belakang saja. Ataupun ketika Ruthana, teman sebangku saya, harus berteriak kalau pagi ini Havid terlalu tinggi sampai menutupi teman-teman dibelakangnya yang ingin melihat papan tulis, tanpa banyak kata dia hanya menoleh saja lalu sedikit merendahkan posisi duduknya. Ini dia! Tidak banyak bicara seperti yang lain dan bertindak tangkas. Bayangkan saja, air wudhu pun merasa nyaman sampai sampai enggan untuk enyah tergesa dari ujung rambutnya yang menantang langit, mukanya selalu segar, kata orang bercandaannya garing namun disana justru saya dapat tertawa renyah.

Saya dan dia ada sedikit persamaan -bukan fisikli- yaitu tentang masa depan. Sering saya lihat matanya selalu berair ketika berbicara tentang masa depan, tidak jauh beda dengan saya. Berbicara sedikit tentang BAPEPAM, tentang AKUNTAN, tentang EKONOM, tentang apapun yang kami cita-citakan, tentang sesuatu yang dibicarakan lantang di depan kelas. PeDe ya? Kami memang seperti itu. Bukannya sombong, kami hanya optimis saja kok. Biasanya kalau ada guru yang mendoakan yang paling baik untuk kami semua, saya menjawab 'Amin' dengan suara cukup lantang. Namun Havid justru tidak mengeluarkan suara, dan saya yakin, dia mengucapkan 'Amin' dengan cara yang berbeda, cukup dalam hati saja, karena Havid tipe orang yang cenderung tenang.

Havid kalau melakukan apa-apa tidak pernah berfikir dua kali, itu kurang, dia akan berfikir lebih dari seribu kali tentang akibat baik buruknya nanti. Sederhana, mandiri, ah banyak pokoknya. Tidak akan habis kalau saya jabarkan.

Havid, besok kalau kamu sudah jadi BAPEPAM dan saya sudah jadi AKUNTAN (AMIN) kita reunian yuk, lalu bercerita kepada dunia, cerita dengan sedikit gombalan dan sedikit pamer, mengenang tentang motivasi yang membuat saya mungkin kamu juga menjadi kuat begini, tentang bercandaan garing, dan tidak lupa kita akan bercerita tentang sepenggal cerita yang sengaja tidak saya tulis disini, karena itu rahasia kita. Iyakan Vid-Havid?

Sudah dulu ya, Havid. Saya mau meneruskan tugas Akuntansi dulu.

Salam hangat,

Akuntan


Dasar Fisik!


Beberapa hari yang lalu aku dengar dari kerumunan anak kecil yang sedang bermain lompat tali bilang begini kepada temannya ''Halah koe ki elek, kae lho bolo mu sing elek sisan wae!'' (re:kamu tuh jelek, itu lho pasangan mu yang jelek sekalian saja). Deg! Menusuk, sampai dalam hati sana. Serius.

Gobloknya aku tanggapi mereka, ''Heh seng genah nek ngomong!'' (re:Kalau bicara yang benar!) ah benar kan mereka jadi nglunjak kalau ditanggapi, habis aku benar-benar tidak tahan, masih kecil saja sudah berani menilai orang lain dari fisik apalagi besok kalau sudah besar. ''Santai to mbak, raksah mbek nangis mbarang hahaha'' (re:santai aja mbak, ngga usah pakai nangis segala hahaha).

Oh Tuhan kata anak kecil itu aku menangis. Aku raba-raba pipi ku memang basah, pandanganku juga sudah tidak secerah tadi pasti karena air mata yang berebut keluar dari ekor mata. Ah iya benar, aku menangis. Menangis untuk hal yang mereka pikir sepele. Tapi buat aku tidak.

Ini memang bukan hal sepele. Mereka sudah berani mengelompokkan orang lain berdasarkan fisik semata. Baiklah kalau mereka fikir itu bercandaan belaka, tetapi bercandaan ada batasnya. Jangan sampai menyinggung hal hal sensitif seperti itu.

Kalau yang cantik berpasangan dengan yang tampan lalu yang jelek dengan siapa? Dengan yang jelek juga? Sebenarnya bukan cantik atau tampan ataupun jelek, masalahnya disini adalah aku tidak suka sekali dengan cara pandang mereka, cara mereka menilai sesuatu dari luarnya saja tanpa mau berusaha untuk menguak apa yang ada didalamnya. Baiklah aku maklumi mereka masih kecil. Masih belum mengerti baik buruk dari segala hal. Lagi pula buat apa aku pusing pusing sedangkan anak yang dibilang 'jelek' tadipun tidak mempersalahkan semuanya, malahan yang sudah aku bela tadi juga ikut menertawaiku ketika aku tertangkap sedang menangis.

Ah dasar fisik! Selalu saja menjadi hal paling sensitif dihidup ini.

Sebenarnya masih ada yang mengganjal, ingin bilang kepada anak-anak kecil tadi :

'' Semoga kalau sudah dewasa nanti kalian akan berubah, aku hanya tidak ingin kalian akan membuang mereka yang sudah mati-matian naksir kalian karena (mungkin) fisiknya yang tidak sempurna saja dan kalian belum mencoba untuk mengerti perasaannya. ''

Tapi aku urungkan saja, kalau nanti aku dikira curcol-curhat colongan- pasti aku akan tambah malu. Aku tidak ingin terlihat lemah didepan anak anak kecil itu.

Sayap Airmata


Air mata butuh sayap

Biar cepat enyah dari ekor mata

Biar make up ku tidak luntur

Biar tisuku tidak cepat habis

Biar sekalikali bantal kering

Biar mereka kira aku kuat

Tapi sekarang,

Air mata sedikit berat dan bertambah banyak

Doyan makan, doyan ngemil

Kasihan, sayapnya tidak kuat


Air mata menangis...

Kamis, 17 Maret 2011

Surat Kaleng #7 untuk Jarum Jam


Jarum jam, apa kamu tidak capek lari-lari di lingkaran kaca sempit begitu? Aku saja yang hanya melihat sudah capek kok. Jangan kaget ya jarum jam, aku memang sering memperhatikan kamu. Kalau kamu sedang berlari lucu sekali, pantat kamu goyang ke kanan-kiri hihi. Aku biasanya duduk diujung ranjang sambil melihat mu yang ngos-ngosan begitu.

Kalau boleh, disurat ini aku sarankan kepadamu, jangan terlalu perfeksionis!

Aku paham betul kalau semua orang butuh waktu, terutama untuk proses menyembuhkan sakit dari masa lalu. Tetapi tidak dengan aku, waktu yang berjalan hanya membuat semuanya semakin berat saja. Dengan berjalannya waktu semuanya bisa berubah-ubah, moodku naik turun, jatuh cinta patah hati jatuh cinta patah hati begitu melulu, kadang kadang semangat seringnya menangis. Coba waktu itu aku patahkan saja kamu, jarum jam. Aku patahkan agar kamu tidak bisa lari cepat-cepat lagi, biar waktu berhenti disana ketika aku dan dia memang sedang bahagia. Kalaupun memang begitu aku dan dia akan bahagia terus, tidak seperti sekarang ini, kami justru marahan seiring berjalannya waktu.

Puas kamu, jarum jam? Katanya seiring kamu berlari luka akan sembuh, justru luka mulai hobi bertadangan kepadaku. Lalu kamu mau bertanggung jawab? Kamu mau keluar dari jam, mau pakai rok mini, mau berdandan, mau tampil sexy terus naik taxi kerumahnya untuk sekedar meminta maaf dan memperbaiki hubungan ku dengannya? Iya begitu? Bukannya membaik di aku, justru jarum jam akan dipacarinya. Aku cukup tau kalau tipe wanita yang dia idam-idamkan seperti model begitu. Itu yang paling aku benci dari dia, menilai segalanya hanya dari fisik.

Ah jarum jam kalau kamu memang tidak bisa bertanggung jawab untuk memperbaiki hubungan ku dengannya, awas saja ya! Akan aku ganti jam di dinding kamarku menjadi jam digital yang jelas jelas tidak punya jarum jam.

Robin H


Aku tidak tau hujan itu siapa. Hujan anaknya siapa akupun tidak tau. Mungkin hujan itu doyan makan, mungkin jarang mandi, mungkin alergi pakai bedak, mungkin suka teh celup, mungkin kontrakan barunya di teras belakangku, mungkin malas olahraga, mungkin ingin naik vespa, mungkin juga hujan selalu terharu ketika berbicara tentang masa depannya. Jujur aku tidak tau hujan siapa.

Selama ini belum ada hujan yang mengajak aku kenalan, sudah pasti aku tidak tau mereka. Mungkin diantara ribuan hujan itu ada yang bernama Nidaus atau Fenita yang dekat dengan Tuhan, Siti yang gemar bercermin, Lia yang sedikit ambisius, Ayuning yang eum pintar, atau mungkin ada juga Ruthana hujan yang tomboy begitu. Oh iya mungkin ada juga hujan yang suka merokok, yang suka keluar malam, yang suka gitaran, ada juga mungkin ya hujan yang labil. Ah sudahlah itu aku hanya sedang mengira-ngira saja kok. Siapa tau benar, siapa tau hujan memang punya nama, siapa tau orang tua mereka harus googling dulu untuk mendapatkan nama yang cocok.

Eh tapi aku tertarik dengan hujan yang satu itu. Itu lho yang di parkiran sana, yang mengutak-atik vespanya. Kalau tidak salah namanya Robin, di sebrang sakunya ada tanda pengenal cukup besar untuk ukuran hujan. Sebenarnya aku sudah mengajak dia kenalan kemarin. Tapi dia pasif, aku kesal. Terus tahi-semutnya itu lho paling susah dilupakan, apalagi rambutnya yang bergelombang, matanya yang berair, bibirnya lebar. Ah Tuhan memang paling bisa membuat perpaduan sempurna seperti wajah Robin itu.

Kok tiba-tiba aku jadi takut ya. Takut kalau tidak jodoh. Aku dan dia kan beda jauh, bukan karena aku manusia sedangkan dia hujan, atau karena kami beda garis jenisnya. Tetapi karena latar belakang. Aku begini dia begitu. Memang sih sebenarnya buat apa memikirkan latar belakang masing-masing kalau sudah pasti bisa membuat masa depan bersama. Tetapi disini masalahnya aku dan Robin belum pasti. Kalaupun diukur dengan pizza aku merasa 3/4 bagiannya akan gagal, sedangkan 1/4 bagiannya belum tentu sempurna ya baru semacam harapan begitu.

Wah pusing juga ya naksir hujan. Ngomong-ngomong aku tidak pernah sekuat ini untuk ukuran 'naksir'. Baru naksir saja sudah seperti 'sayang' begini rasanya. Wah jangan-jangan aku sudah benar sayang. Oh Tuhan bagaimana ini. Kan sebelumnya aku sudah pernah bilang, biarkan aku sayang pada-Mu saja ya Tuhan, karna Kau satu-satunya yang tidak pernah menyakitiku. Lalu kalau aku benar sayang dengan Robin nanti kalau aku sakit hati lagi bagaimana? Aah aku paling tidak bisa menjaga perasaanku sendiri.

Dasar Robin H!

Ah apa? Robin H? Oh iya di tanda pengenalnya namanya ROBIN H. Kira-kira 'H'nya siapa ya? Jangan jangan Robin Hood a tidak mungkin, atau Robin Hujan iya mungkin itu. Ha Ha Ha three-Ha ada-ada saja orang tuanya memberi nama imut seperti itu.

Ah apapun itu lekas kemari Robin H, meneteslah tepat di atas bibirku.

Kata Tuhan


Kata Tuhan :

'' Beritahukan kepada teman-teman mu termasuk kau juga jangan asal berdoa 'Ya Tuhan kalau dia memang jodoh ku dekatkanlah, kalau dia bukan jodoh ku tolong jodohkanlah', karena menurut-Ku kalau sudah terbesit untuk berdoa seperti itu berarti kau sudah terobsesi dan bukan lagi cinta. Ingatlah, obsesi yang berlebihan itu tidak baik! ''

ba(L)ikan


Sudah aku coba untuk mengajak mu baikan. Tidak mungkin juga selamanya kita begini, seperti tom & jerry saja. Oh tidak, masalah kita ini lebih rumit daripada tom si kucing yang terus menerus berburu jerry si tikus. Jadi kalaupun mereka sedang musuhan yasudah mereka musuhan itu saja (titik) Malamnya mereka tidak akan memikirkan ''Aduh besok gimana ya?'' ''Nyapa duluan ngga ya?'' ''Ih kok malah kepikiran gini sih'' ''Ngapain coba deket-deket sama cewek lain!'' Jelas sekali musuhan kita ini berbeda dengan kucing dan tikus yang selalu uring-uringan begitu. Justru disitulah kelebihan kita sebagai manusia, kita punya perasaan yang hewan tidak punya. Aku masih sering memikirkan bagaimana suatu saat nanti waktu akan menuntut kita untuk berbicara terbuka satu sama lain, bagaimana perasaanmu ketika melihat jamur makanan favoritmu yang sering aku bawakan untukmu, apa yang kamu pikirkan waktu kamu melihat hujan. Apakah aku masih sering terbesit di pikiran mu sana? Apakah masih ada sepetak hati mu untuk sekedar menyimpan kebiasaan ku dalam diam?

Aku hanya ingin ba(L)ikan.

Setelah kita baikan nanti, aku tidak akan menuntut apa-apa. Aku tidak akan menuntut untuk bercanda dengan mu di setiap saat waktuku, untuk kamu panggil dengan suara khas mu, untuk kamu jadikan kontak handphone ku sebagai kontak favorit di handphone mu, untuk sekedar senyum, ataupun kamu yang memakai kacamata yang memaksakan wajahmu agar mirip Afgan padahal menurutku lebih keren kamu daripada Afgan. Serius aku tidak meminta semua yang biasa kita lakukan berdua terulang menjadi sebuah kebiasaan seperti dulu lagi, aku hanya mau kita baikan.

Kalaupun setelah baikan kita tidak seakrab dulu lagi ya tidak masalah, asal hatiku sudah lega, nanti aku akan buktikan kalau memang tidak ada yang namanya mantan teman.

Mau tidak BA(L)IKAN?

Terserahlah


Siang kemarin sempat terbesit dibenakku untuk meminta maaf, walaupun sebenarnya aku tidak tau letak salah ku dimana, sebenarnya juga aku merasa bahwa aku tidak salah sama sekali. Kamu saja yang labil. Seharian aku lihat kamu murung, tidur diujung ruangan dibawah kipas angin. Awalnya aku mau membangunkan mu untuk sekedar bilang ''Kalau ada salah aku minta maaf ya'' atau ''Kok belakangan ini kamu beda sih? Aku ada salah sama kamu ya? Aku minta maaf deh, asal jangan diem-dieman gini terus'' Intinya waktu itu tekad ku sudah bulat untuk meminta maaf.

Namun kata teman mu, kamu sedang badmood. Yasudah aku tunggu sampai kamu sedikit reda agar tidak terbawa emosi ketika kita harus bicara nanti.

Aku menunggu cukup lama. Berapa hari ya? Sekitar 3-4 hari. Aku lihat kamu badmood melulu, bawaannya misuh-misuh, kenapa sih? Sampai aku dengar kamu mengumpat ku, bukannya aku tidak berani menulis kalimatmu waktu itu disini, hanya saja aku malas untuk mengingat-ingatnya dan blog ku terlalu indah untuk diselipkan kalimat tidak bermutu seperti itu.

Aku jadi malas untuk meminta maaf.

Kamu jadi nglunjak. Masih tidak tau mau mu apa.

Kalau boleh aku mau bicara sedikit. Jadi begini ya, tolong sekali jagalah perasaan orang lain. Sudah itu saja. Tidak seperti belakangan ini, kamu rajin sekali mengumpat, misuh-misuh, marah-marah, badmood. Apa kamu pikir kalau orang lain melihat mu seperti itu mereka akan iba? Tidak, tidak mungkin, mereka justru akan berpikiran kalau kamu sedikit, maaf, freak!

Jadi sekarang terserah kamu sajalah. Air mataku juga sudah malas menetes hanya demi kamu. Eh serius, aku sedih aku sakit tetapi aku tidak bisa menangis. Bodoh! Berarti aku lemah disitu, iya aku tidak bisa menangis. Harusnya aku bisa menangis, bisa berteriak, agar lega. Ah tapi apa, sampai detik ini pun aku masih belum lega.

Sudahlah, terserah kamu! Anggap saja bangku tempat aku biasa duduk itu kosong, dan tanpa kamu suruh aku akan menganggap bangku diujung ruangan dibawah kipas angin juga kosong.

Selesaikan semuanya?

Minggu, 13 Maret 2011

Surat Kaleng #6 untuk Pagi


Selamat pagi, Pagi.

Tidak perlu aku tanyakan kabarmu, karena sedikit banyak aku tau bagaimana keadaan mu sekarang.

Dari selentingan, Matahari diculik dari Pagi ya? Sebenarnya diculik yang lain atau memang matahari sudah tidak mau dengan mu lagi, Pagi? Jangan bilang matahari mau berpindah haluan, matahari ada di malam hari. Ah tidak bisa tidak boleh, Tuhan kan sudah menciptakan segalanya berpasang-pasangan sejak awal.

Katanya matahari tidak lagi hangat, matahari membuat pagi kepanasan. Pagi sering keringatan, sering ada yang menetes dari atas sana, itu keringat atau hujan atau jangan-jangan air mata? Wah kalau airmata berarti kita sama dong, Pagi. Aku juga lagi suka menangis.
Kita menangis untuk hal yang sama.


Kehilangan.


Pagi, kau kehilangan matahari mu dan aku juga kehilangan matahari ku. Ha-Ha lucu ya. Sekarang suasananya mendung terus. Aku sudah tidak sesemangat dulu lagi, bawannya ingin marah-marah terus. Pagi, kapan-kapan kita protes yuk. Kita bawa spanduk besar, tulisannya 'Kembalikan Matahari Ku'. Nanti kita teriak sekencang-kencangnya pakai speaker mushola, sepertinya kalau kita pinjam sebentar tidak masalah asal kita ada izin saja dengan pengurusnya. Kita bisa bakar ban bekas ditengah jalan, bisa bawa batu untuk lempar sana lempar sini, bisa melalukan apa saja untuk protes, semacam demo begitulah. Tapi Pagi, jangan sampai kita meniru mereka yang sampai menjahit mulutnya segala, itukan sakit, aku hanya tidak ingin lebih sakit. Eum bodoh sekali! Kita kan belum tau harus protes dengan siapa? Harus dengan Tuhan? Kalau setiap sakit hati harus lari ke Tuhan, kasihan kan Tuhan juga butuh waktu untuk mengobati luka hatinya sendiri. Lalu ke gedung DPR? Ke pabrik? Ke perusahaan? Ah nanti mereka kira kita karyawan yang ingin bonus semata. Kita hanya butuh cinta kan, Pagi.



Namun, ini masalah perasaan.
Perasaan tidak bisa dipaksakan.
Kalau dipaksakan nanti berantakan.
Ah berantakan sekalipun tidak ada yang memperdulikan.

Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Pagi, untuk merebut matahari mu kembali? Kamu mau diam saja, mau jalan ditempat, mau saja dilompati siang, mau terus-terusan mendung, mau membuat teh celupku lekas dingin, mau tetap melaksanakan semua rencana pasif mu itu? Kamu yakin?

Kalau boleh menyela, rencana ku sih tidak jauh beda dengan mu, Pagi. Aku mau pasif saja. Kan tadi aku sudah bilang, Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan sejak awal. Jadi kalau memang jodoh tidak akan kemana kok. Siapa tau Pagi bisa mendapatkan mataharinya kembali, dan aku bisa mendapatkannya kembali.

Yasudah kalau begitu rencana protes bersamanya gagal saja. Lebih baik sekarang kita berdoa bersama agar Tuhan mau menjodohkan kita dengan matahari impian kita masing-masing, amin.

Sudah dulu ya, sampai bertemu untuk menangis bersama di pagi berikutnya, Pagi.



Seperti Digantung


Kalau setiap orang yang pernah 'menggantung' orang lain mengaku dengan sendirinya, pasti penjara cepat penuh.

Kamu sadar tidak kalau kamu pernah menggantungku. Bukan hanya pernah, sampai detik ini pun seperti masih ada tali yang menjerat leherku. Tega ya teman menggantung teman, ups kita kan memang teman. Aku saja yang berlebihan.

Iya, aku berlebihan. Padahal sebelumnya aku sempat berjanji kepada Tuhan bahwa aku tidak akan berlebihan dalam hal apapun. Maaf ya Tuhan. Cintaku lebih kuat daripada janjiku. Lalu, bagaimana mengobatinya kalau sudah begini? Aku sudah terlanjur digantung. Tidak ada pondasi kuat dibawah sana, hanya ada gelembung-gelembung yang membawa terbang kesana kemari harapan-harapan kosong ku. Dan kalaupun gelembung itu pecah nanti, aku akan terjerat tali dan mati digantung.

Iya, mati digantung. Digantung kamu.

Ah fikiran ku jadi kemana-mana. Aku coba tanyakan kepadamu dulu saja, rasanya digantung itu enak tidak? Pasti kamu tidak bisa menjawab, karena kamu tidak pernah digantung. Yang mampu menjawab sesuatu dari dalam hati hanyalah mereka yang pernah mengalaminya. Aku! Aku akan menjawab, digantung itu tidak enak.

Awalnya bahagia, seperti diterbangkan, seperti digandeng lari-larian ditaman bunga, seperti ditopang bahunya, lega sekali rasanya, waktu itu cuma ada aku dan kamu. Sudah sudah kalau diceritakan awal bahagianya memang tidak ada habisnya. Lalu bagaimana rasanya ketika tau sedang digantung? Lebih dari teman namun juga tidak akan mungkin untuk menjalin hubungan.

Sakit! Itu saja jawaban ku kalau kamu mau tau.

Mungkin kamu tidak mau tau dengan semuanya, karena kamu takut. Kamu takut ketahuan kalau kamu pernah menggantungku. Karena kalau setiap orang yang pernah 'menggantung' orang lain mengaku dengan sendirinya, pasti penjara cepat penuh. Iya kan? Dan kamu terlalu indah untuk sekedar masuk penjara.

Surat Kaleng #5 untuk Kamu

Surat ini spesial untuk kamu. Tidak seperti yang lain yang suratnya aku tulis pakai bolpen sedapatnya, khusus untukmu aku tulis surat ini pakai pensil warna ungu. Karena aku suka pensil. Pensil itu unik, dia rela diserut dan menjadi pendek demi pemilik hatinya, lagipula aku ingin kamu menjadi seorang pemaaf dan bisa menghapus masalah sebesar apapun, seperti pensil yang dapat dihapus.

Di dalam surat ini aku tidak akan banyak berandai-andai yang jauh kedepan seperti biasanya, ataupun terlalu hanyut dengan masa lalu.

Aku hanya ingin cukup-cukup saja. Cukup tau banyak tentang kamu saja, cukup mengerti dunia mu saja, cukup melihat senyum mu setiap hari saja. Aku juga mau kamu mengerti aku dan dunia ku.

Surat spesial ini untuk kamu yang entah siapa, yang entah jauh atau dekat, yang entah masa lalu ku atau memang diciptakan untuk masa depanku, yang entah mengapa aku ingin sekali bertemu dengan mu secepatnya. Dan untuk kamu, kalau kita dipertemukan suatu hari nanti, tolong ingat-ingatlah aku itu pengagum mu.

Kalau boleh tau, alamat rumah mu dimana? Kasihan Pak Pos yang kelabakan mencarinya. Atau tidak usah aku kirim saja ya. Biar surat ini aku simpan, kalau aku sudah bertemu dengan mu, surat ini akan menjadi saksinya

.

Jumat, 11 Maret 2011

Mantan Teman


''Jangan kau lanjutkan menulis, karena tidak ada yang namanya mantan teman.'' Bentak hati saya.

Kamis, 10 Maret 2011

Piknik


Karena cinta bukan diukur dari sedalam apa otakmu untuk memikirkannya, tetapi sedalam apa hatimu untuk mencintainya.

Saya butuh piknik!

Saya butuh berpiknik. Tetapi saya mau berpiknik sendiri, tidak dengan teman, tidak dengan keluarga sekalipun. Saya mau berpiknik seorang diri.

Saya mau menyiapkan ransel besar. Isinya kaos, celana pendek, underwear, bando, ikat rambut, kutek, sandal, kalender, dan headset. Tidak lupa makanan, minuman, dan camilan. Saya mau berangkat tengah malam, saya mengendap-endap keluar dari kamar agar tidak ketauhan kalau saya akan berpiknik. Lalu saya berlari sekencang mungkin, agar cepat sampai ke tempat tujuan. Tidak, memang tidak butuh alat transportasi karena saya berpiknik bukan disembarang tempat. Saya berpiknik di otak mu.

Aha benar. Sesampainya di otak mu, saya akan membuka tenda warna ungu kembang-kembang, tidak perlu pakai lampu biar bulan menjadi penerangnya saja, tidak perlu pakai selimut biar malam mau berbagi hangatnya, tidak perlu pakai tikar mau beralaskan rumput saja. Ah otak mu memang tempat yang indah tiada duanya. Ada gemercik air sungai, pohon-pohon tinggi menjulang, sepertinya kalau pagi hanya sedikit sinar matahari yang dapat meloloskan diri, disana memang sejuk dingin begitu ya. Pokoknya malam ini saya mau tidur nyenyak, besok paginya saya mau menyambut hari dengan semangat. Saya mau memasak sarapan untuk kita berdua, apa ya? Telur mata hati saja bagaimana? Lalu minumnya teh celup panas tanpa gula. Setelah itu saya mau menikmati hujan disana, sambil tetap tiduran diatas rumput, mencium petrichor, mendengarkan hentakkan tungkai kaki hujan. Berpiknik di otakmu adalah tiada duanya. Besok pagi, kamu bangun siang saja agar saya bisa berpiknik lebih lama.

Tetapi ngomong-ngomong, saya sering dengar obrolan dan bercandaan kecil entah dari siapa. Setau saya itu suara mu, lalu siapa sih wanita yang kau ajak berbicara malam-malam begini? Saya ikuti sumber suaranya. Saya mengintip lewat semak-semak. Saya tidak terima, tempat itu lebih menakjubkan daripada otakmu. Dan yang saya lebih tidak terima, disana kau sedang mengobrol hangat dengan seorang wanita sambil tiduran dan menikmati bintang. Ternyata saya punya tetangga. Ternyata ada yang sedang berpiknik juga. Kalau saya berpiknik di otakmu, wanita itu justru kau izinkan untuk berpiknik di hatimu.

Bodoh. Saya memang bodoh!

Seharusnya saya mencari tempat berpiknik yang lebih layak daripada ini. Mentang-mentang kau sudah mau membukakan otak mu untuk saya bukan berarti saya dapat memiliki mu seutuhnya terutama hatimu itu, yang memang sedang untuk berpiknik wanita lain. Lalu, saya akan malu. Saya melangkah gontai keluar dari otak mu, padahal belum pagi, hujan mengantar saya pulang, saya mengendap lagi untuk masuk melalui jendela kamar. Saya malu, padahal saya sudah gembar-gembor kepada malam, hujan, rumput, tanah, sampai daun jendela, kepada siapapun saja saya berkata bahwa sepulang dari berpiknik saya akan membawa seseorang kemari untuk menata masa depan bersama saya. Semoga saja mereka terutama daun jendela tidak tau kalau saya pulang dengan tangan hampa.

Apa sih salah saya? Kenapa kamu tidak pernah memberi tempat terbaik dihidupmu untuk saya. Saya pikir ketika di otakmu sudah ada saya maka kamu akan terus menerus memikirkan saya, ternyata tidak. Karena cinta bukan diukur dari sedalam apa otak mu untuk memikirkan atau dipikirkan, tetapi sedalam apa hatimu untuk memberi dan menerima rasa cinta itu sendiri dari satu sama lain.

Saya salah tempat untuk berpiknik.

Puzzle


Rasanya jadi seperti anak kecil saja yang mendapatkan potongan puzzle nya kembali.

Pernah lihat anak kecil bermain puzzle? Terlihat serius tetapi tetap terkesan menikmati potongan puzzle nya yang tertata apik di atas meja. Dia menata satu per satu. Saking banyaknya sampai dia tidak sadar kalau ada satu potongan puzzle yang entah dimana. Sampai pada akhirnya anak kecil itu baru sadar kalau sepotong puzzle hilang ketia dia sudah hampir selesai menata puzzle nya. Dia menangis, kencang sekali, ibunya datang temannya juga datang menghampiri. Mereka mecari kesana kemari dan potongan puzzle itu ditemukan. Lalu anak kecil itu menyelesaikan semuanya sampai ada bentuk gambaran pemandangan indah dari puzzle tadi.

Tidak jauh beda dengan saya. Saya hampir menyelesaikan mengatur hidup saya, hidup saya hampir bahagia. Namun, sepotong hati saya tiba-tiba hilang. Mungkin tertiup angin, mungkin terselip di suatu tempat, mungkin dihanyutkan hujan, mungkin terbakar juga bisa. Sepotong hati saya hilang entah kemana. Padahal kamu sudah saya rekatkan sebagai gambar indah disana. Berarti kamu juga ikut hilang.

Lalu saya harus mencari (si)apa dulu? Potongan hati saya atau kamu yang tidak tau masih mau untuk menempel disana ataukah tidak. Yasudah saya mau mencari keduanya langsung saja. Saya mau mencari sendiri, lagipula tidak mungkinkan saya menangis manja agar mereka berdatangan membantu saya. Hei, ini hidup saya, ini hati saya, dan kamu itu milik saya. Saya memang tidak ingin ada yang ikut campur.

Setelah saya cukup lelah untuk mencari, akhirnya saya menemukan. Menemukan mu yang jauh berbeda dari yang dulu. Sekarang, jerawatmu mulai hilang, kamu sedikit putih, dan kamu yang sekarang lebih labil, ah saya tidak suka. Saya mau kamu yang dulu.

Tanpa basa-basi kamu mendekat. Oh Tuhan rasanya jadi seperti anak kecil saja yang mendapatkan potongan puzzle nya kembali, tetapi bedanya ini semua usaha saya sendiri. Kamu mendekat memberikan sesuatu. Loh itukan potongan hati saya, kenapa kamu kembalikan? Kamu pergi tanpa kalimat.

Yasudahlah tidak masalah. Saya tetap akan bawa pulang potongan hati saya yang memang sekarang hanya kertas putih kosong tanpa kamu sebagai gambar indahnya. Mau saya selesaikan semuanya agar hidup saya menjadi bahagia. Komplit sih tetapi ada yang mengganjal, aneh saja ditengah-tengah ada bagian yang gambarnya hilang.

Atau saya beli puzzle baru saja ya? Ah tidak tidak, cinta kan tidak bisa dibeli. Oh kalau begitu biar kertas putih itu saya gambari sendiri pakai pensil, biar nanti saya tetap bisa melihat gambar pemandangan yang indah, hidup saya juga akan bahagia, walau kurang.