Sabtu, 19 Februari 2011

Telur Mata Hati


Robin, makanan favorit mu apa sih? Kok aku sampai tidak tau hal sekecil itu ya. Ah bodoh sekali aku.

Lalu, kalau di suatu pagi nanti kamu meminta aku menyiapkan sarapan, aku harus bagaimana? Aku harus memasak apa?

Tidak mungkin kan aku harus lari-lari ke tukang nasi goreng favortimu, ataupun menunggu tukang bubur ayam lewat, atau aku lagi-lagi harus memasak mie instan. Tidak. Tidak mungkin.

Aku harus buat sesuatu yang baru di hidupmu.

Seperti, memecahkan masalah di hidupmu, lalu aku datang sebagai garam agar hidupmu tidak hambar, mencampurkan suka duka kita berdua, memanaskan hubungan setiap hari agar tidak cepat bosan dan tidak monoton, menyongsong masa depan ke arah yang tepat.

Seperti menceplok telor. Telor mata sapi.

Iya, aku buatkan kamu telor saja ya, Robin, untuk sarapan.

Dari telor yang dipecahkan, diberi garam, dicampur, digoreng diatas teflon, lalu di bawa ke meja makan untuk kita nikmati bersama.

Tapi khusus untuk kamu, bukan telor mata sapi.

Aku akan buatkan TELOR MATA HATI.

Bentuknya hati, lucu deh. Biar setiap pagi kamu bisa semangat menyambut hari, juga sebagai simbol cintaku untukmu.

Robin, mau tidak kamu menjadi putih telor dan aku kuning telornya. Dalam keadaan apapun aku akan selalu berada diantara mu, di pelukan mu, dalam lindungan mu.

Jadi, inilah telor mata hati nya. Kalau telurnya sudah habis, kamu boleh menikmati hatiku saja. Ditambah saus juga boleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar