Minggu, 27 Februari 2011

Teh Celup



Seperti mencelup teh. Kau boleh membagikan rasa mu, tetapi hati mu harus tetap kau jaga agar tidak ikut tersaring keluar.

Setiap pagi saya biasa membuat teh hangat, biasanya tanpa gula, rasanya memang tawar baunya juga hambar, justru disitulah sensasinya. Ketika saya dapat menghabiskannya tanpa sisa, saya merasa bangga, teh saya pagi ini memang tidak semanis teh mereka tetapi saya cukup kuat untuk melewatinya.

Biasanya saya menggunakan teh celup. Praktis. Siapkan saja air hangat terlebih dahulu di dalam gelas, lalu celupkan tehnya. Lucu deh, tehnya memberi rasa juga warna di air hangat itu yang awalnya pucat. Saya tarik ke atas, saya masukkan lagi ke dalam gelas, saya celupkan terus menerus, semakin pekat warna teh nya. Asal kau tau saja, teh celup hanya berbagi rasa, bukan teh aslinya yang sengaja ia simpan dalam-dalam agar tidak berhamburan keluar.

Saya harap, saya juga bisa seperti itu. Saya bisa bebas suka dengan siapapun dan kapanpun. Saya sekedar berbagi rasa, bukan perasaan asli saya di dalam hati. Hati saya mau saya simpan untuk momen jatuh cinta selanjutnya, menurut saya kalau sekedar suka tidak perlu pakai hati. Takutnya kalau sakit nanti hati saya membusuk lagi.

Ah tidak juga. Saya sedang siap-siap untuk jatuh cinta dengan hati. Waktu saya keluarkan, hati saya keburu membusuk dan bau, saya bingung. Mungkin hati saya ini sudah terlalu lama disimpan di ruangan hampa udara. Dia juga sudah keburu tidak mau dengan saya. Seharusnya selama ini saya tidak harus takut untuk mengambil resiko. Resiko jatuh cinta ya patah hati. Lalu sekarang saya harus bagaimana?

Saya menangis. Untuk menghibur diri, saya membuat teh. Teh celup. Air mata saya yang baru saja keluar sebagai air hangatnya. Saya celupkan lalu tehnya ikut membusuk. Yasudah, teh celupnya mau saya gantung saja, biar air mata saya ikut menetes ke dalam tanah meresap sampai ke laut, di ambil oleh awan. Air mata saya jadi hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar