Rabu, 16 Februari 2011

Kardus


Siang itu kamu cerita tentang sesuatu. Tentang siapa wanita yang sedang kamu kejar. Tentang wanita yang sedang kamu puja. Tentang wanita yang aku tidak akan pernah bisa menjadi dia.

Sebenarnya aku cemburu. Tapi aku lebih memilih duduk di depan mu, mendengarmu bermain gitar sambil bercerita tentang sesuatu. Aku duduk di bangku, menyilangkan tangan ku di atas meja, seperti anak TK yang tidak mau kehilangan satu informasi sederhana dari gurunya, tapi ini tidak sesederhana itu, ini sangat rumit. Kamu duduk di atas meja, berseberangan dengan posisi dudukku, kamu bermain gitar, satu per satu kata hingga kalimat keluar dari bibirmu membentuk lagu, berkali kamu memujinya.

Kalaupun aku bisa, aku mau menutup muka ku dengan jaket meletakkan kepalaku di atas meja. Aku mau menangis di sana. Aku mau menyumbat telingaku dengan headset yang terus-terusan memutar lagu Mesin Penenun Hujan milik Frau. Tapi aku tidak mau. Aku masih mau mendengar ceritamu. Aku sudah mengajak air mata ku bersengkongkol, biar air mata tidak akan menetes, biar aku masih bisa bersabar dan tersenyum saat itu.

Aku bingung, mau di simpan di mana ya cerita hati mu tadi? Aku takut kalau sampai ada yang tau. Walaupun sakit, sampai busuk berbelatung-pun, masih akan tetap aku simpan. Aku suka waktu kamu mempercayaiku untuk menyimpan semuanya.

Tenang saja, aku akan carikan wadah yang paling aman.

Ya! Kardus bekas. Kardus bewarna coklat usang itu aku temukan di ujung kamar ku, sepertinya dulu pernah di pakai untuk menyimpan sesuatu. Masih ada gembok dan kunci menggantung di mulut kardus itu. Kardus itu sepertinya ingin menjadi peti, tapi tidak bisa. Ah kardus, nasib kita sama, aku juga ingin menjadi yang lebih baik dari sekarang, tetapi juga tidak bisa. Aku juga tidak tau kenapa harus memilih kardus bekas itu, padahal masih ada tempat-tempat lain yang lebih layak.

Ceritamu dan rahasia mu akan tetap aku simpan di kardus itu. Aku tutup, aku kunci rapat. Biar tidak ada yang tau, biar cuma aku yang tau banyak tentang kamu. Biar suatu saat kalau kamu mau cerita, kamu tidak akan ragu lagi untuk bercerita dengan ku.

Siang ini, kamu kembali bercerita. Sengaja aku siapkan kardus bekas itu. Sekarang, silahkan cerita dengan kardus itu. Tenang saja, kardus bekas itu bisa menyimpan rahasia, kardus bekas itu bukan ember yang bocor dimana-mana. Yang jelas, kardus itu tidak akan menahan tangis apalagi merasa cemburu waktu kamu bercerita tentang wanita lain.

Ya, lebih kurang aku tau. Kardus bekas itu lebih kuat daripada hatiku. Daripada aku menyimpan di hati, lebih baik di kardus bekas itu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar