Sabtu, 19 Februari 2011

Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Bulan


*Terimakasih Frau untuk inspirasi lagunya

Asik sepertinya kalau kita ke bulan saja.

Aku sudah pernah jelaskan, kita akan terbang ke bulan dengan berpegang erat di tungkai kaki hujan, sampai di bulan pasti sudah malam, tidak apa-apa biar lebih romantis. Berlian sudah merajut dirinya sendiri untuk menjadi jas mu dan gaun ku. Nanti jamuannya keju yang langsung di cuil dari bulan dan madu yang di peras dari bulan madu. Tidak perlu pakai alas kaki, di bulan pasir putihnya halus sekali kok. Tidak perlu dandan juga, pasti nanti akan luntur, bulan kan rumahnya hujan.

Kalau sudah siap semua, kita akan menikah di bulan. Kita duduk berdua di ayunan rotan. Hujan akan jadi penghulunya. Kata hujan, mas kawin untukku darimu itu parfume yang tidak dijual dimana-mana, cuma kamu yang bisa buat dengan bantuan hujan, rumput, dan tanah. Robin, terimakasih ya untuk Petrichor-nya, ini parfume terharum yang pernah aku punya. Oh iya sebentar lagi kamu harus bersalaman dengan hujan si Bapak Penghulu. Dan biarkan Tuhan jadi saksi pernikahan kita. Sebentar lagi Tuhan bilang 'sah'.

Kita akan berpesta di bulan. Cukup banyak tamu yang datang, batu, pasir, debu, angin, biar mereka menikmati keju dan madu dulu. Kita juga masih duduk di ayunan ini, berayun ke depan, ke belakang, sambil berbasah-basahan karena hujan memanggil temannya yang datang keroyokan.

Sebentar lagi kita akan, ehem, kita akan melewati malam pertama. Kita akan bercumbu, hingga bercinta di bulan. Tidak perlu malu, toh tidak ada yang melihat. Daripada bercinta di bumi, sudah tidak nikmat lagi. Lebih nikmat di bulan. Kalau di bulan sepi, ya memang ini resikonya.

Lho Robin, apa kamu belum tau? Kita itu kan sepasang kekasih yang pertama bercinta di bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar