Kamis, 03 Februari 2011

Rumah Sendiri


Jadi kepingin punya rumah sendiri.
Kepingin tidur sendiri dalam rumah sederhana ku sendiri. Hasil keringatku sendiri. Kepingin buka buku-buku resep lalu mempraktikannya di dapur. Kepingin bersih-bersih dari sudut bersambung ke sudut lain. Menyikat kamar mandi. Membersihkan meja makan sambil menyapa cicak yang mencuri nasi, ah aku suka sekali dengan cicak, tidak terlalu banyak berfikir, kalau sekiranya buruk ditinggal lari saja. Lalu ke ruang keluarga merapikan tumpukan buku yang tidak pernah aku baca. Bisa menata ruang tamu dengan gaya ku sendiri, tidak harus formal.

Dan kamar, kamar yang aku tiduri sendiri yang suatu saat akan ada kamu yang juga meniduri kamar ku hanya berdua dengan aku yang sedang kamu tiduri.

Aku juga mau nanti punya teras belakang. Tidak perlu lebar-lebar, asal hujan bisa mampir sebentar. Mau punya kolam renang bulat, kalau matahari kepanasan biar bisa berendam sejenak. Mau beli banyak lilin, kasihan bintang tenaganya hampir habis untuk terus bersinar. Mau punya balkon, kalau bulan terlalu capek membawa tubuhnya yang bulat itu bisa mampir dan meletakkan pantat pipihnya di sana sambil makan keju.

Kalau ada yang tanya nanti mau beli apa saja. Aku jawab aku mau beli semuanya. Sofa, tempat tidur, kursi goyang, lampu taman, semuanya lah. Kecuali jam.

Tidak bercita-cita aku punya jam. Jam apapun itu. Paling aku hanya butuh handphone ku untuk melihat jam sekilas.

Kalau ada jam, semuanya akan tau ini sudah jam berapa. Berani taruhan kamu pasti tidak akan betah bertamu di rumah ku dan ingin cepat-cepat pulang, takut kalau pacarmu berkencan duluan bersama jam.
Kalau ada jam matahari dan bulan tidak di anggap, hanya fokus kepada a.m dan p.m.

Jam bullshit!
Hey! Jam juga sering lupa waktu. Terlalu mencampuri urusan orang lain. Suka berlari mengejar apapun. Seolah perfeksionis. Jam sering juga telat apel ke rumah pacarnya, jam sering tidur larut malam dan bangun kesiangan. Kalau sudah begitu jam bingung harus bertolak ukur dengan apa. Jam sudah tidak bisa dipercaya. Ya sudah matahari dan bulan saja, aku sarankan.

Kan kalau tidak ada jam, tidak ada yang perlu di ukur. Siapapun akan berlama-lama bertamu dirumah ku.
Kamu pun juga begitu. Akan berlama-lama bertamu di kamar ungu ku.
Tutup gordennya rapat. Tidak ada yang tau kalau sudah pagi. Pacarmu mengamuk. Kamu beberapa malam tidak pulang. Ternyata kamu masih melanjutkan tidur di sini.
Jadi sudah berapa ronde, Sayang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar