Rabu, 16 Februari 2011

Romantis




Buat mereka romantis itu jatuh cinta pertama kali, lalu tumbuh jerawat dan mens pertama kali, 'pdkt' pertama kali, berkencan malam minggu pertama kali, lalu berpacaran dan bermesraan, sepanjang waktu hanya untuk gombal-gombalan, atau mungkin romantis itu juga waktu dilamar di tengah suasana yang mendukung, lalu menikah dan malam pertama. Ya mungkin buat mereka romantis cukup seperti itu.

Buat saya, itu belum pantas dibilang romantis. Itu hanya sebuah permulaan.

Romantis buat saya, waktu saya bisa menjadi sahabat seumur hidupmu dan menikmati masa-masa tua kita berdua.

Termasuk dari awal waktu kita jatuh cinta, waktu kau mengajak saya pergi keluar naik vespa, waktu kita sama-sama berusaha menurunkan berat badan, waktu kita sama-sama belajar gitar, waktu suatu saat nanti kau melamar saya dan kita akan menikah secepatnya. Lalu kita akan punya anak. Lalu anak kita tumbuh dewasa dan mencari cintanya sendiri. Anak kita akan punya anak dan berpisah dengan kita.

Sayang, romantis itu adalah kita akan mengulang masa-masa berdua seperti dulu pertama lagi.

Saya akan tetap bangun pagi dan menyiapkan sarapan, ya seperti biasanya. Dari waktu ke waktu selalu begitu hingga malam tiba. Kita akan tetap bisa menggauli satu sama lain. Percayalah semuanya akan tetap sama. Hanya saja, rambut sudah putih, gigi banyak yang copot, keriput terlukis jelas, kau juga sudah tidak sekekar waktu pertama kali itu.

Justru disitulah puncak dari romantisnya.

Bukan waktu masa muda, justru saat kita dapat mempertahankan semuanya sampai tua, itu baru romantis!

Saya masih ingin merayakan ulang tahun pernikahan kita yang ke- 100 . Wah benar-benar tidak bisa dibayangkan. Atau mungkin kalau Tuhan belum beri kesempatan di dunia, kita masih bisa ber-reuni di surga dan merayakannya di sana nanti.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar