Minggu, 06 Februari 2011

#Pelajaranhujan #9 Hujan Bawa Hikmah


Aku di seret hujan. Hei gila ini sudah jam 23.45. Hujan masih tidak peduli. Aku cuma pakai daster, rambut di cepol, belum sempat pakai sandal sudah ditarik sama hujan.
Maunya apa sih hujan ini?
Biasanya tidak setega ini.

Hujan mengajakku ke jalan raya. Masih banyak juga mobil berlalu-lalang. Lampunya menyala terang.
Hujan memberi contoh, lari menari kesana kemari, di depan lampu mobil-mobil itu. Ngeri aku melihatnya. Hujan masih saja asik, melambaikan tangan, agar aku cepat-cepat menyusulnya.
Apa hujan tidak takut sakit tidak takut rapuh?

Ah yang benar saja. Ini gila. Ini bukan sedang di lampu merah atau apa yang mobil-mobil bisa berhenti setiap saat. Ini di jalan terbuka. Kalau aku ikut lalu mati bagaimana? Mati konyol. Cuma ikut hujan menari-nari.
''Hey hujaaaan, masih banyak yang harus aku selesaikan. Aku masih menyimpan hati seseorang di dalam hatiku. Aku masih punya banyak mimpi, aku belum sempat lihat masa depanku. Nanti kalau aku tertabrak mati siapa yang mau tanggung jawab? Tidak mungkin kamu dan teman-teman mu kuat menggotong aku sampai di rumah''

Hujan mengajak teman-temannya untuk tetap menyeret aku. Gila. Aku di seret.
Aaaaaah!
Sudah mati belum aku?
Belum, iya benar belum.
Cahaya apa itu? Terang sekali. Bentuknya oval pipih, tidak seperti lampu mobil biasanya.

Ah hujan bisa saja. Menyeret aku di tempat seperti ini. Di depan matamu yang indah itu.
Katamu, gaunku indah, sanggulku cocok, sepatuku cantik. Katamu, kamu membayar hujan untuk mengajakku ke sini. Katamu, hujan menari-nari tadi supaya aku tau, jangan takut dengan apapun, semuanya punya hikmah. Coba kalau tadi aku tidak mengikuti, bagaimana bisa kita berkencan tengah malam seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar