Selasa, 01 Februari 2011

#Pelajaranhujan #7 Mempelai Hujan


Hujan sudah berdandan. Jasnya di langit hitam pekat. Berlian yang di pasang sebagai broche di sakunya berkilat sana-sani. Parfume-nya sudah mulai keluar baunya, hum seperti petrichor. Di buka dengan gerimis-gerimis kecil sebagai pendamping mempelai yang menaburkan bunga-bunga ungu.

Hujan sedikit telat datangnya. Kasihan gaun ungu-ku sudah sedikit lusuh. Rambutku sedikit berantakan karena angin. Pak penghulu sampai tertidur. Kali ini aku tidak berdandan. Hujan suka aku yang alami yang apa adanya.

Ketika hujan mulai mencumbu ku, hujan tidak mau ada make-up di sana, cukup ada aku dan bibirku. Ketika malam itu aku malu-malu membukakan jendela kamarku. Ketika aku hanya memakai tanktop dan celana pendek seadanya. Hujan tau aku sudah terlalu lama menunggu sampai lusuh. Hujan adalah tidak pernah membuat seseorang menjadi sia-sia.

Malam ini aku sudah tidak merasa sia-sia karena sebuah penantian panjang yang aku buat sendiri. Hujan masuk melalui jendela kamar dan mulai mencumbu. Menetes dari pipi, bibir, leher, menetes terus ke bawah. Sebelum melanjutkan semuanya, aku akan mengunci kamarku, kalau kalau ada yang mengintip, karena memang tidak boleh ada yang tau kalau aku sudah menunggu lama untuk sesuatu yang entahlah apa itu, aku akan malu.

Hujan mulai mengikuti aku masuk di dalam selimut. Sedikit menurunkan tali tank-top ku sambil dia berbisik ''Tidak ada yang tidak butuh waktu, semuanya harus ditunggu''

Ya memang, kadang aku butuh waktu, butuh waktu untuk menunggu. Kalau aku terlalu cepat mengambil keputusan dan ternyata salah, kasihan Tuhan sudah terlalu lelah merencanakan hidupku.

Hujan selalu benar, tidak salah dia menjadi mempelai pria ku. Katanya juga ''Kalau menunggu, tutup jendelanya rapat-rapat, takutnya ada yang masuk ke dalam kamarmu, ke dalam hatimu selain aku yang kamu tunggu''

Kalau menunggu itu perlu, lakukanlah, sepanjang apapun kemarau, hujan pasti akan datang, hujan akan menghapus kemarau.
Tunggulah hujan, tunggulah mempelai mu, tunggulah apapun itu.
Tapi tadi aku hanya berkata bahwa hujan selalu datang dan tidak pernah membuat semuanya menjadi sia-sia, itu hujan, tidak tau dengan mempelai mu, apalagi mempelai ku yang sepertinya kurang meyakinkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar