Minggu, 20 Februari 2011

Menjemur Cinta


Pagi cinta, apa kabar?

Kabarmu buruk ya, iya aku tau, tau sekali.

Kemarin malam kan kamu habis sakit, kamu habis retak mungkin patah. Kemarin Cinta galau semalaman. Kasihan ya, padahal Cinta sudah berusaha sekuat mungkin untuk merebut perhatian Robin, sudah mau ikut aku berangkat pagi-pagi, sudah mau menemani aku menunggu di depan kelas untuk sekedar menyapa Robin, sudah mau ikut aku pergi ke mushola, sudah mau mengantar aku pulang sore-sore untuk melihat Robin bermain bola, sudah mau terjaga sampai malam bersama aku untuk galau sampai bersembunyi dibalik selimut untuk menangis.

Maaf ya cinta, Robin memang seperti itu, Robin memang tidak pernah peduli dengan semuanya, Robin memang pasif apalagi tentang wanita, Robin memang susah mencari yang baru untuk menutup lembaran berdebunya yang dulu. Aku jadi tidak enak dengan mu, Cinta. Aku berutang budi dengan mu juga. Terimakasih juga ya buat semuanya selama ini.

Pagi Cinta...

Bagaimana kalau pagi ini aku buat sesuatu di hidupmu. Aku mau mencuci Cinta dengan air mata dan sabun lelah. Lalu aku akan menjemur Cinta, biar semua kuman-kumannya hilang terbakar panas matahari dan panas cemburu, biar cinta cepat kering dan tidak akan ada lagi air mata menetes dimana-mana, biar cinta menjadi kaku dan kuat serta tidak selemah dulu, biar kalau kepanasan Cinta akan cepat sadar dan bisa membedakan mana yang perlu pengorbanan dan mana yang tidak.

Waktu dijemur, Cinta harus di jepit, kalau ada angin nanti Cinta bisa terbang kesana kemari. Takutnya kalau nanti jatuh di tempat yang salah, Cinta bisa rapuh lagi. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Pokoknya Cinta harus kuat!

Cinta nanti sore kalau kamu sudah kering, akan aku ambil segera. Mulai sekarang, aku akan menjagamu lebih hati-hati.

Pagi Cinta, kamu apa kabar?

Kabar mu baik ya, syukurlah.

Eh Cinta, besok kalau aku jatuh cinta, temani aku lagi ya, tapi jangan ikut campur, soalnya aku mau coba jatuh cinta tanpa harus pakai perasaan dan cinta, biar kalau sakit tidak terlalu sakit seperti kemarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar