Selasa, 01 Februari 2011

Mengukir Hujan


Bapak, sahabat, teman-teman, siapapun di duniaku sudah terlalu lelah untuk membaca atau sekedar mendengar bahwa; aku cinta kamu.

Bertumpuk hujan yang kamu hadiahi ke aku setiap kamu pulang dari hutan di tengah bulan sana. Masih aku simpan. Walaupun lemari, tas, meja belajar, rak buku, plastik-plastik, sudah penuh semuanya dengan hujan. Aku sudah pernah berjanji bahwa aku akan mengukir hujan.

Bapak bilang, buat apa aku membuat kamarku seperti kapal pecah ini demi kamu demi menyimpan setiap hadiah darimu, hadiah berupa hujan-hujan itu. Kata Bapak juga kamu itu menggangtung, tidak jelas masa depannya, hanya bolak-balik bulan hutan bulan hutan, membawa panah kesana kemari, mengantungi hujan untukku, tidak seperti Bapak dulu yang katanya ketika seusia kamu Bapak sudah bekerja mapan.

Maaf, Bapak. Kali ini, aku lebih memilih untuk mengukir hujan. Akan aku kumpulkan tetes-tetes hujan itu, sedikit demi sedikit lama-lama tebal, akan aku ukir namamu dengan pisau yang dioles tinta hujan warna ungu yang spesial kamu bawakan untukku di masa lalu.
Biar setiap orang terutama Bapak yang melihat hujan akan tau bahwa; aku cinta kamu.

Maaf, tapi sulit sekali untuk melukisnya. Bertahun-tahun, tidak juga jadi. Berkali kemarau, belum juga jadi.
Robin, sulit sekali namamu untuk di ukir di antara hujan. Pinjam panahmu saja agar aku mudah mengukirnya. R O B dan I sudah jadi, tinggal N saja yang masih tertinggal di hati. Beri aku waktu sedikit lagi, minimal satu kemarau lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar