Sabtu, 26 Februari 2011

Malam Sakit Hati


Sekarang Malam menakutkan. Malam lebih pekat hitamnya. Bintang dan bulan saja takut untuk sekedar menyapa. Malam menjadi suram. Benar deh. Sepi sekali.

Malam ini ketika semuanya sudah terlelap, saya coba keluar rumah dan duduk di bangku rotan teras belakang. Saya coba tanya kepada Malam, kenapa Malam menjadi begini, kenapa Malam tidak seceria dulu, kenapa Malam mulai sering murung, kenapa Malam berubah drastis?

Sambil menetes air matanya, sambil saya menikmati tetesan air nya, Malam bercerita dan saya mendengarkan. Kata Malam, Malam sedang sakit hati. Wah saya semakin bingung, padahal kemarin beberapa minggu yang lalu saya lihat Malam sudah mulai sering bercermin, berdandan, di kepang, pakai kutek, pakai tank-top hitam motif bintang-bintang, waktu itu Malam kemayu sekali. Kok Malam tiba-tiba bisa sakit hati? Katanya lagi, Malam juga kecewa. Malam ditinggal pergi. Padahal Malam pikir, lelaki itu adalah cahaya hidupnya.

Sudahlah Malam, jangan terlalu murung seperti itu, kasihan mereka yang ingin menikmati malam jadi takut. Boleh saja kau pikir dia itu cahaya mu, tetapi cara mu itu juga salah. Kau terlalu over protective kepadanya. Seharusnya kau biarkan saja dia berpendar, kau biarkan saja dia menghirup udara bebas, jangan kau simpan terus di toples kaca. Diakan juga laki-laki, butuh ngopi, jalan-jalan naik motor, menghisap rokok, bercanda dengan teman-temannya, sampai makan nasi goreng di warung favoritnya juga. Kalau dipikir-pikir Malam memang egois.

Memang enak apa disimpan di dalam toples kaca, saya tau Malam bagaimana kau ingin terus menyimpannya, bagaimana kau ingin semua usahamu dari awal kau mendapatkannya sampai mempertahankannya tidak sia-sia ditengah jalan. Tetapi cinta tidak bisa dipaksakan. Lebih baik mulai malam ini, kau kembali seperti yang dulu lagi, ini saya pinjami kutek mau warna apa? Atau mau bando polkadot saya? Mau parfume? Mau apa saja boleh, terserah, asal Malam bisa menjadi Malam yang saya kenal dulu.

Percayalah Malam, saya akan selalu menghiburmu, karena saya juga wanita. Karena saya juga pernah mengurung seseorang di dalam hati saya, bahkan saya kunci rapat disana lalu kuncinya sengaja saya hilangkan, dia tidak pergi, raganya masih bersama saya, tetapi jiwa dan perasaannya sudah mati. Asal kau tau saja Malam, memiliki raga seseorang yang perasaannya entah kemana, mungkin mati, lebih menyakitkan daripada kehilangan seseorang yang sama-sama berarti tetapi masih mempunyai hati yang suatu saat dapat diharapkan untuk kembali, mungkin cahaya mu hanya sedang bersembunyi, Malam, bukan pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar