Sabtu, 26 Februari 2011

Labirin

Robin, saya takut kalau saya menjadi yang paling belakang. Saya takut kalau harus terus menerus terpuruk begini. Saya merasa, saya tersesat di sebuah labirin antara masa lalu dan masa depan. Saya berputar ke kanan, kembali ke kiri, mencoba maju terus ke depan, saya tetap tidak bisa kemana-mana. Kalaupun bisa, saya mau memberi tanda diatas jalan yang sudah saya lewati agar sewaktu-waktu saya bisa kembali ke masa lalu saja daripada harus bersusah payah mengejar masa depan, sayangnya saya juga tetap tidak bisa. Tidak tau kenapa saya hanya bisa diam disini. Mundur tidak, apa lagi maju.

Kenapa ya saya ini? Kau tau tidak alasannya?

Sepertinya memang iya. Saya itu lemah untuk menghapus masa lalu beserta kenangan-kenangannya. Dari luarnya saja saya mengaku menyimpan masa lalu hanya untuk mengambil pelajaran hidup dari sana, padahal aslinya saya tidak hanya ingin menyimpan tetapi juga ingin memelihara agar masa lalu saya tumbuh dengan sehat. Bodoh sekali saya. Jujur, saya hanya malu untuk dibilang lemah, tidak terlalu tega untuk membiarkan masa lalu tertiup angin begitu saja.

Sayangnya juga, saya tidak bisa untuk ke berlari masa depan. Saya terlalu takut untuk menuju kesana. Saya belum siap. Saya belum punya sesuatu untuk saya jadikan bekal ataupun teman seperjalanan. Takutnya, ketika saya rapuh ditengah perjalanan ke masa depan, saya tidak punya motivasi ataupun inspirasi untuk terus maju. Kecuali kalau saya sudah punya bekal seperti seseorang untuk menemani perjalanan saya. Yang jelas, saya tau dia sudah menjanjikan bahwa ujung bahunya hanya untuk saya, sela jari tangannya hanya untuk jari-jari saya, lipatan lengannya hanya untuk kepala saya bersandar, dadanya hanya untuk wajah saya bersembunyi dari air mata, pangkuannya hanya untuk saya ketika saya sudah terlalu lelah dengan semuanya, dan matanya hanya untuk jendela hati saya. Dengan begitu saya sudah tenang, paling tidak saya tidak sendirian saja.

Ah tapi apa. Sekarang saya semakin bingung. Orang-orang dimasa lalu sudah pergi, orang-orang dimasa depan sudah mendapatkan dunianya sendiri. Lalu, bagaimana nasib orang-orang seperti saya ini yang hanya terpaku di labirin antara masa lalu dan masa depan? Harus jalan ditempat saja? Maju salah mundur salah.

Eh Robin, ngomong-ngomong bagaimana rencana mu selanjutnya? Sudahlah jangan malu-malu, kita sesama orang yang terjebak di labirin ini harus saling berbagi. Kita senasib. Yasudah, bagaimana kalau saya ceritakan tentang rencana saya dulu? Kau dengarkan ya.

Robin, semenjak mengenalmu saya menjadi tau, bahwa kita tidak perlu menyesali masa lalu, kita tidak perlu takut ke masa depan. Kan namanya berjalan tidak hanya dua pilihan antara maju dan mundur, paling tidak kita bisa keluar dari masa yang entah apa namanya ini, kalau tidak bisa maju ataupun mundur, kita bisa berjalan ke samping, terserah mau kiri atau kanan, asal kita tidak diam saja dan terpaku disini. Mungkin memang kita ditakdirkan untuk berjalan menyusuri tepi dulu yang pada akhirnya kita bisa mendahului mereka yang berebut jalan ditengah untuk cepat-cepat maju. Oh iya Robin, nanti kalau saya capek, gendong ya, soalnya saya sekarang sudah punya bekal cukup berat yang mau saya bawa ke masa depan saya, bekal saya itu ya kamu, Robin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar