Minggu, 06 Februari 2011

Harapan-Harapan Itu

''Pung, tau ngga masa ya si Robin waktu olahraga tadi ngga bisa lari. Kasihan banget deh Pung, sumpah!''

What? Benar Robin apa yang di certitakan teman kamu itu?
Memang, aku juga benci dengan pelajaran olahraga kalau babnya sudah mulai lari. Lari untuk sekedar pemanasan saja aku sudah kesal.

Sabar ya Robin. Tuhan punya rencana mengapa kita di ciptakan seperti ini. Dan sepertinya, Tuhan tidak pernah membuat hamba-Nya kecewa dengan rencana-rencananya, ya semoga saja.

Oh iya, jadi tadi kamu tadi benar-benar tidak bisa lari ya?
Jangan down dulu. Aku masih di sini kok. Bilang saja kepada mereka bahwa ada seseorang yang menaruh harapan besar di kamu di pundakmu itu sehingga kamu susah untuk berjalan. Iya, seseorang itu aku. Maaf ya, Robin.

Percayalah, bukan lemak yang membuatmu berat dan susah untuk berlari, tetapi harapan-harapan ku, yang dulu kecil sekarang sudah mulai tumbuh besar tanpa dosa, yang setiap hari aku beri makan cinta, rindu, cemburu, apapun itu Robin, jaga harapan-harapan ku ya, bantu aku menata masa depan kita.

Kalau kamu capek, titipkan kepadaku harapan-harapan mu juga. Kita bertukar harapan-harapan saja. Kita saling menjaga. Jangan sampai layu. Terus diberi makan ya.
Memang tidak bisa dilihat. Tapi ada rasanya kok, serius, bangga sekali bisa menitipkan dan dititipkan harapan-harapan untuk masa depan kita, kedepannya, besok-besoknya.

Robin, bagaimana jika aku, kamu, dan harapan-harapan itu berlari bersama, tidak perlu cepat-cepat asal bisa berlari sampai ke masa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar