Sabtu, 19 Februari 2011

Gitar Itu Aku


Dulu, aku sempat cemburu kepada gitar.

Rasanya gitar itu hidupmu sekali. Setiap detiknya kamu tidak pernah lepas dari gitar. Kalau ada kamu ya ada gitar.

Apalagi kalau kamu sudah mulai memetik gitar, aduh, susah sekali lepasnya.

Tapi sekarang, aku akan mencoba hidup baru yang berhubungan dengan gitar.

Tapi, apa ya?

Bermain gitar tidak mungkin, untuk belajar saja aku sudah malas. Kalau sekedar membeli gitar rasanya juga tidak mungkin, kan masih banyak kebutuhan hidupku yang lain.

Yasudah, aku jadi gitar saja, aku jadi gitarmu saja.

Bagaimana, boleh kan?

Kalau aku jadi gitar mu, aku akan membuat semua hal di hidupmu menjadi lebih merdu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya aku ketika kamu memasukkan ku ke tas agar hangat dan tidak lecet, lalu kamu bawa aku di atas pundak mu kemana-mana, kamu buka tasnya hati-hati dan mengeluarkan aku, kamu letakkan aku di tempat paling nyaman di muka bumi ini yaitu sela diantara kedua lengan mu, kamu peluk aku hangat, kamu petik aku dengan jari lentik ku. Jangan berhenti ya bermainnya, biar aku bisa berlama-lama ada di sana, di pelukanmu itu.

Ternyata asik juga jadi gitar. Gitar, maafkan aku ya, aku sempat cemburu. Dan sepertinya, mulai sekarang gitar yang akan cemburu kepada ku, kan aku sudah jadi gitar mu dan yang paling penting aku akan selalu berada dalam pelukan mu.

Hey, gitar itu aku. Jangan sampai rusak ya, jangan sampai buat gitar itu sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar