Sabtu, 26 Februari 2011

Dinding Itu...


Dulu, kita suka sandaran di sana. Di dinding rumah tua ujung kota. Awalnya aku takut karena suasananya terlihat sedikit angker, tetapi ketika kau pegang tangan ku ini, kau yakinkan aku tentang sesuatu, tentang keindahan yang tersembunyi dibalik kesedihan, aku jadi berani dan ketagihan untuk berkunjung kesana. Aku jadi mau kau ajak untuk sekedar duduk melepas sore di terasnya. Ada bangku rotan panjang, tetapi ya memang berdebu seperti itu, maklumlah namanya juga rumah tua. Kita sering berbagi minuman dan makanan, biasanya aku bawa camilan, permen, juga dua porsi pasta. Dan kau, selalu saja membawa dua botol sedang air mineral dingin, katamu air mineral itu bagus untuk kesehatan dan kau ingin aku menjadi seperti air mineral yang transparan tanpa harus ada yang ditutup-tutupi, antara kau dan aku.

Sekarang, aku sudah membuktikan bahwa memang tidak ada yang aku tutup-tutupi. Kau sendiri bagaimana? Kau sedang menutup-nutupi sesuatu bukan? Aku tau dari gerak-gerikmu. Kau tutupi perasaan bosan mu kepadaku, rasa emosional mu setiap aku mengajakmu bercanda, rasa malas mu untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan berdua, kau juga menutupi wanita incaran mu dari jangkauan ku. Untuk apa kalau boleh tau? Untuk membahagiakan ku dan membuatku merasa aku masih ada di setiap inci hati dan otak mu, iya begitu? Atau jangan-jangan, kau bukan menutup-nutupi, hanya saja kau belum punya waktu yang tepat untuk menyudahi semuanya denganku, iya kan?

Aku benar-benar tidak tau jalan fikiranmu yang sekarang, tidak seperti kamu yang dulu lagi. Yang aku tau, sore ini aku berkunjung ke rumah tua itu. Kira-kira sudah 1 kemarau kita tidak berkunjung ke sana. Memang sih tidak ada yang berubah. Kursi rotannya masih menempel di dinding, debunya bertambah banyak, pintunya juga masih terkunci rapat, yang berbeda sekarang hanyalah dindingnya.

Cat di dinding itu semakin jelas mengelupasnya. Reruntuhan tanahnya semakin banyak. Mungkin terkikis hujan, mungkin di garuk-garuk tikus, mungkin dinding itu rapuh untuk menemaniku agar aku tidak menjadi satu-satunya yang rapuh. Asal kau tau saja, dinding itu merekam semuanya, merekam kejadian kita berdua. Dari awal kau genggam tanganku dan mengajakku kesana, kita duduk dibangku rotan dan menyandarkan tubuh ke dinding, lalu menikmati makanan dan minuman bersama, sebelum senja datang, sambil melepas sore kita suka bercanda, berbicara serius, mendengarkan musik, membaca buku apa saja, sampai aku yang pernah terlelap di pelukan dinding itu karena mendengarkan mu memetik gitar. Pokoknya, hari sepenat apapun asal kita menjalani berdua akan selalu terasa liburan dan piknik.

Sore ini, aku lihat semua kejadian itu. Dinding itu tidak hanya merekam, tetapi juga menunjukkan. Menunjukkan lewat cat nya yang mengelupas dan reruntuhan tanahnya. Kau dan aku terlukis jelas di sana. Dinding itu menunjukkan semuanya. Percayalah, bahwa sesuatu yang menjadi rapuh bukan tanpa alasan, alasannya terserah kau saja, mau kau simpan atau kau tunjukkan lewat sebuah cara, seperti dinding itu yang menunjukkan kerapuhannya lewat gambaran nyata.

Tetapi kalau aku, alasan ku menjadi rapuh tidak akan aku simpan tidak juga aku tunjukkan, hanya akan aku doakan agar kau yang membuat aku rapuh begini tidak menjadi rapuh seperti aku. Karena rapuh itu tidak enak. Dan semoga juga kau mau membawakan aku segenggam pasir dan semen, atau kau saja yang menjadi pasir dan semen itu, untuk menempel kebahagiaan ku yang mengelupas, lalu rapuh.

Kalau kau sudah siap menjadi pasir dan semen, boleh temui aku di tempat biasa. Di balik dinding itu, selepas sore. Bawa cat juga ya agar hidupku semakin bewarna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar