Selasa, 01 Februari 2011

Di Sepanjang Jalan Itu


Aku memikirkan mu.

Memikirkan apapun tentang mu. Karena aku suka, itu hobiku, bukannya aku yang paling tau banyak tentang mu?

Aku memikirkan mu, pasti sekarang kau sedang bermain gitar. Kau selalu tenggelam di sana. Mata mu melihat ke depan ketika memainkan gitar, tapi kosong.
Tidak tau juga, itu gaya konsentrasimu atau kau memang sedang banyak pikiran dan membutuhkan gitar.

Sepertinya itu memang dirimu.

Justru aku benci sekali dengan gitar. Sukar untuk di petik. Setiap nada berbeda gaya petikannya. Rumit. Aku hanya tidak ingin membuat kerumitan hidupku menjadi rumit.

Aku jadi ingat waktu aku menceritakan kepadamu tentang hujan, kalau aku suka duduk diteras belakang atau sekedar membuka jendela lebar-lebar untuk menikmati hujan. Aku juga ingat ketika aku memamerkan kepadamu bagaimana petrichor itu. Indahnya pelangi. Genangan air hujan. Apapun tentang hujan.

Tapi

Kau hanya bilang, lebih baik tidur di bawah selimut bersama gitar mu. Tenanglah, hujan tidak akan membuat mu sakit. Kalau kau mau di hujan selanjutnya akan aku ajak kau bermain di tengah hujan.
Ah tidak tidak... Aku tidak mau sakit hati lagi karena menawarkan duniaku yang tidak penting ini, sudah jelas aku tau, kau lebih memilih menikmati dunia mu dan gitarmu.

Kau dan gitar mu. Aku dan hujan ku.

Padahal aku juga sudah cerita banyak, kalau besok kita punya rumah sendiri jangan lupa buat jendela lebar-lebar dan teras terbuka untuk menikmati hujan, tanam rumput-rumput di tanah untuk menikmati petrichor.

Dan kamu tetap tidak peduli.

Sekarang aku capek.

Terserah, kalau kamu mau tetap dengan dunia mu. Aku juga akan tetap dengan dunia ku. Aku sudah coba kemarin-kemarin untuk belajar gitar dan kamu sebagai inspirasinya, tapi kamu tidak peduli. Sedangkan kamu? Mencoba untuk melihat hujan saja tidak pernah. Kamu lebih sering mengumpat hujan ketika kamu dan gitar mu basah olehnya.

Tidak salah juga kalau aku berhenti di sini. Aku tidak akan berjalan lagi di sepanjang jalan itu. Semuanya hanya akan mengingatkan ku kepada mu.

Kali ini hujan turun bukan sebagai bunga, tetapi sebagai paku payung kecil-kecil, tajam-tajam. Hujan terus menetes dan mengalir ke bawah bersama air mata.

Ingat-ingatlah, kalau gitar mu rusak aku masih di sini, aku siap kamu petik, dunia mu akan lebih merdu daripada sebelumnya. Peluklah aku, letakkan aku diantara kedua lengan mu, lalu mainkanlah.
Dan jangan takut, hujan itu rinduku sekaligus cintaku kepadamu yang aku titipkan kepada mendung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar