Rabu, 16 Februari 2011

Dari Pagi Bertemu Pagi


Besok kalau kau melamar saya lalu kita menikah dan berumah tangga, saya ingin membuat satu cerita dalam hidupmu yang tidak akan pernah bisa kau lupakan.

Saya akan bangun pagi-pagi sekali sebelum adzan Subuh. Saya akan membangunkan mu untuk segera sholat berjamaah. Ketahuilah, selain seorang suami, kau juga akan menjadi imam hidupku. Lalu setelah sholat, saya akan menyiapkan sarapan lalu bersiap diri untuk bekerja, kau pun juga begitu. Nanti kita sarapan bersama ya, saya ingin meja makan yang bulat, bulat seperti cinta kita, cinta kita yang tidak ada ujungnya.

Nanti saya buat menu-menu baru setiap harinya, sandwich, roti bakar, burger, bubur ayam, atau apa? Terserah kau saja, saya turuti.

Setelah sarapan, nanti kita akan berangkat kerja. Kau dengan mobil impian mu dan saya dengan mobil impian saya juga. Kita memang harus berangkat masing-masing. Kau jurusan IPA dan saya jurusan IPS. Selamat berjuang, bekerja keraslah, kejujuran sangat penting, ingatlah beberapa saat lagi kita akan membutuhkan uang banyak untuk bayi laki-laki mungil kita.

Setelah penat bekerja seharian, sorenya saya akan siapkan air hangat, sebelumnya saya akan melepas dasimu dan menyimpan kopermu. Kalau bisa, nanti kamar mandinya tidak perlu di cat, biar tembok mentah begitu saja, karena keseringan dipercik oleh air lama-lama akan berlumut, ah saya suka itu.

Kalau sudah, saya akan siapkan makan malam. Mau tidak buat satu set meja makan yang diletakkan di halaman belakang terbuka begitu, khusus untuk mengenang masa-masa kita berpacaran dulu sambil candle light dinner, bagaimana mau tidak?

Kita bisa beristirahat sejenak, bercerita seharian tadi bagaimana, jangan sungkan-sungkan, tugas saya di sini selain sebagai istri juga sebagai sahabat seumur hidupmu, saya akan berikan solusi-solusi terbaik yang saya punya untukmu. Kita juga bisa bercengkrama, ditemani kopi hitam pekat tanpa gula favorit mu yang sekarang juga menjadi favorit saya, ditemani martabak telor dan vas bunga edelwise warna ungu.

Hey, ingat tidak waktu kita masih SMA dulu, setelah kau naik gunung, paginya kau selipkan bunga edelwise warna ungu di sela meja ku, saya terkejut sekali waktu itu, dan saya menemukan sepucuk surat, ungu juga warna amplopnya, katanya itu darimu dan kau duduk di ujung kelas sambil malu-malu.

Hingga malamnya, kita bisa tidur bersama. Kau akan tetap bisa menikmati aroma rambutku yang tidak jauh dari hidungmu. Kita akan tetap terjaga, sayang sekali kalau harus tidur, bukankah kita sedang membutuhkan seorang anak sesegera mungkin? Makanya, buat malam ini sepanjang mungkin.

Percayalah, dari pagi hingga bertemu pagi lagi, saya akan buat cerita-cerita baru untuk hidupmu. Kau tidak akan kecewa. Saya akan lakukan dengan sepenuh hati. Saya akan mewarnai hidupmu.

Dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Begitu seterusnya.

Pagi ini, kau bangun duluan, saya temukan bunga edelwise ungu itu ada di pelukan saya. Saya tidak tau ini apa. Sepucuk surat ungu itu berkata kalau kau butuh waktu untuk berfikir tentang sebuah rumah tangga lalu untuk mencari ketenangan kau masuk ke dalam bunga edelwise ungu itu.

Baiklah, saya tunggu. Sekarang, izinkan saya meletakkan bunga edelwise ungu itu di atas dada saya, biar dekat dengan hati saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar