Sabtu, 19 Februari 2011

Culik Aku


Robin, kalau orang tua ku tidak menyetujui hubungan kita bagaimana?

Bapak maunya calon menantu yang kerja di perbendaharaan.

Ibu maunya calon menantu yang naiknya Freed.

Aku tidak mau memaksakan kehendak orang tua ku kepadamu. Kamu begini saja aku sudah sangat bersyukur. Menurutku, semua yang baik sudah ada di kamu. Tidak harus Freed, cukup vespa. Kejar cita-cita mu, apapun itu, aku dukung kamu. Dibalik laki-laki yang sukses ada wanita yang hebat. Seperti aku dan kamu.

Kalau bisa, culik aku ya, Robin!

Mengendap-endaplah di bawah jendela kamarku, lalu kita kabur melalui teras belakang. Tidak perlu bawa vespa. Aku juga sudah siapkan koper besar dan isinya. Cepat, nanti keburu ketahuan.

Ajak aku lari. Bersembunyi di tengah hutan. Kamu kan jago memanah, pasti bisa melindungiku dari apapun yang berbahaya di tengah hutan.

Aku punya ide. Kita tunggu hujan dulu ya, Robin. Sambil kita duduk-duduk di tengah hutan. Kalau hujan sudah datang, nanti kita pegangan erat di tungkai kaki hujan, biar hujan bawa kita terbang ke rumahnya, rumah hujan tidak jauh kok, di bulan sana.

Nanti di bulan, kita bisa menikah. Menikahnya sederhana saja. Jas mu dan gaun ku cukup dari berlian. Makanannya keju. Minumnya madu. Lampunya bintang-bintang. Cincinnya, ambilkan dari planet Saturnus saja, satu-satunya planet yang bercincin. Penghulunya biar hujan. Saksinya biar Tuhan.

Di bulan kan selalu malam, berarti malam pertama kita setiap hari. Sepertinya tidak perlu berbulan madu, ini sudah di bulan dan sebentar lagi akan aku siapkan madu.

Culik aku ya, Robin. Secepatnya, aku tunggu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar