Minggu, 27 Februari 2011

Cinta Pertama


Saya ingat dari cara pedekate kita dulu. Kau memaksa saya untuk cerita, kau mengorek semua informasi tentang saya. Saya pikir waktu itu ada apa apa. Ternyata kau diam-diam mengajak pedekate saya. Waktu itu kita umur berapa ya? Sekitar 13 tahun mungkin. Namanya juga anak-anak, cuma butuh waktu beberapa minggu saja untuk pedekate lalu saya juga lupa kenapa saya bisa menerima mu untuk mengisi hari-hari saya. Yang jelas waktu itu saya sedang jatuh cinta, dan kau membuat saya terus jatuh cinta, setiap kali bertatap muka, setiap kali membaca pesan baru, membuka friendster sampai mxit. Saya masih sering jatuh cinta sampai sekarang.

Kalau ditanya, kau bukan hanya cinta pertama saya, kau itu teman, sahabat, rival di kelas juga, kita sering berebut peringkat waktu sekolah dasar. Kita sudah kenal sejak taman kanak-kanak, Ibu kita suka bergosip bersama waktu menunggu kita selesai pelajaran, kita juga sering berbagi bekal, kau seringnya bawa usus ayam kecap, kalau saya biasanya simple saja seperti roti, sereal, atau hanya sebotol susu vanilla. Waktu itu kau takut sekali untuk mencoba permainan jungkat-jungkit, kau takut kalau harus duduk dan naik sampai di atas, siapa juga sih yang tidak takut berdiri di atas sebuah pondasi yang terbuat dari harapan-harapan kosong.

Waktu itu kita berpacaran lucu sekali ya. 13 kali kita berkencan, dan selalu saja tepat di hari sabtu pukul 13.00, iya siang bolong. Kita memang gila. Mulai saat itu saya jadi mulai suka angka 13 yang kalau digabungkan ehem menjadi inisial nama mu. Kau juga belum bisa bawa motor, jadi kita keliling jalan kaki saja. Berpetualang, dan kulit ku menjadi lebih hitam, tidak apa-apa biar kita sama-sama hitam dan sama-sama manis.

Kalau tidak salah waktu itu saya sedang mens hari pertama, emosi saya tidak terkontrol, saya labil, saya kesal kamu seharian tidak memberi kabar. Saya buat kesalahan besar siang itu, saya buat semuanya berakhir. Bodoh! Tolol! Dungu! Katakan saya apa saja yang kau mau, saya menyesal. Sampai sekarang di sana, di salam hati, yang memang masih ada satu petak tempat untuk mu, masih sering terasa sesak mengganjal kalau ingat kebodohan saya yang masih bau kencur saat itu.

Maaf kan saya. Kau boleh meminta tebusan apa saja atas sakit hatimu waktu itu. Asal jangan kau diamkan aku seperti ini. Aku tidak sekuat yang lain. Sekarang kita sudah sama-sama dewasa, saya sudah menyadari semua kesalahan saya, dan kini gantian kau yang childish. Kalau memang bisa marah, saya mau marah, tapi marah untuk apa untuk siapa, kau sudah bukan hak saya lagi.

Mungkin cukup aku kenang sebagai cinta pertama. Mulai sekarang aku mau coba cari yang lain. Eum...maksudku cari cara lain untuk membuatmu jatuh cinta denganku lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar