Minggu, 06 Februari 2011

Cicak Numpang Mandi

Hey ini kamar mandi ku.
Tidak terlalu luas. Tidak ada bathup hanya bak mandi yang cukup besar dan dalam. Tidak ada closet, lebih suka WC jongkok. Tidak ada shower tapi ada banyak gayung. Tidak bisa mengatur seenaknya sendiri suhu airnya, kalau kemarau ya airnya hangat, kalau musim hujan ya airnya dingin sejuk. Hati-hati kalau terpeleset, soalnya licin, tegelnya cuma dari semen. Dindingnya belum di cat, batu batanya ditumbuhi lumut, sejuk sekali kalau pagi-pagi.

Jangan kaget jika sewaktu mandi banyak cicak yang mengintip. Aku sengaja memanggil mereka. Hampir setiap hari ventilasi kaca riben di atas WC itu aku selipkan sekepal nasi.

Cicak cicak berdatangan.
Ada yang sekedar makan nasinya saja. Ada yang bergosip, katanya hari ini aku sedikit langsing. Ada yang cuma bilang 'ckckck' waktu aku lepas semua pakaian ku. Ah malu.

Aku suka cicak. Mereka itu dingin. Kesannya cuek. Setauku, mereka tidak pernah berbagi nasi yang sudah aku beri. Tidak seperti semut yang bergotong royong sana-sini. Tapi cicak bangga jadi dirinya sendiri.

Eh tapi pagi ini aku belum beri sekepal nasi. Ada satu cicak yang sepertinya sudah bertendeng dari tadi.
Pagi ini cicak numpang mandi. Kasihan, kucel sekali. Air matanya mengering disekitar mata hingga pipi. Ini aku beri sabun cair. Sebagai upah tadi malam sudah mau mendengar ku mencurahkan isi hati, menangis bersama ku di bawah bantal dan guling. Ini terakhir kali. Besok besok aku tidak akan curhat lagi karena cukup satu kali jatuh cinta untuk patah hati.

Aku tau, Cak. Kamu tidak pernah berbagi nasi. Buatmu tidak penting. Lebih enak berbagi hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar