Minggu, 27 Februari 2011

Cara Pedekate


Sayangnya kau tidak bisa membedakan antara dulu dan sekarang. Kau tetap sama. Tapi aku justru tidak suka. Aku suka kau berubah, paling tidak kau merubah satu hal; cara pedekate. Tetapi sudahlah aku juga sudah tidak punya hak atas dirimu lagi.

Dulu kau juga begini. Memaksa aku untuk cerita sambil menikmati teh tawar panas di bawah pohon mangga tepat depan sekolah kita dulu. Kau tanya-tanya tentang siapa pacar ku waktu itu, bagaimana aku bisa menjawab, waktu itu aku juga single, sama sepertimu. Satu, dua, beberapa makanan kecil dan bergelas teh hampir habis. Sampai pada akhirnya aku bosan duduk mematung di sana, akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang kerumah saja. Waktu itu, kau kejar aku. Kau minta maaf. Tidak, kau tidak salah apa-apa, aku hanya bingung apa maksudmu memaksa ku untuk menceritakan tentang seseorang yang sedang aku kejar. Aku single dan aku sedang tidak menaruh hati ke siapa-siapa. Lagi lagi kau terus memaksa, katamu kau janji akan membantu ku, semacam mencomblangkan. Ya tentunya aku semakin kesal, rasanya seperti dipojokkan.

Dari cara mu untuk mengejar sepucuk informasi tentang aku, aku menjadi tertarik dan sedikit kepincut. Ada-ada saja kau itu. Aku mengerutkan alis, namun aku tersenyum, bukan senyum kecut. Ini senyum anak bau kencur yang sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tau juga. Itu cara pedekate mu. Kau suka memaksa, kau suka mengorek informasi dari seorang wanita incaranmu. Ya, memang, aku pernah menjadi wanita incaran mu. Dulu. Dulu sekali waktu kita masih sama-sama tidak memikirkan image yang harus dijaga. Justru waktu itu kita berdua bisa jujur tentang perasaan yang paling dalam.

Sekarang sudah tidak. Kita sudah tidak kenal. Padahal hampir setiap pagi kita bertemu di ujung jalan. Kau tidak menyapa, aku juga tidak. Aku termakan gengsi, mungkin kau juga. Aku sedikit malu untuk mengakui; kau itu cinta dan pacar pertama ku.

Sekarang, aku melihatmu pedekate. Bukan dengan aku, lagi. Aku mendengar selentingan, kau sering mengantarnya pulang. Aku juga baca di facebook, kau memaksanya untuk bercerita siapa pria incarannya, dan dia menjawab tidak ada. Lalu kau tetap memaksa, dan dia sedikit kesal, akhirnya kau hibur dia dengan bercandaan kecilmu. Aku membaca obrolan kalian hangat sekali. Persis, sama dengan ku waktu itu. Bahkan mungkin kau dan aku dulu lebih hangat daripada kau dan dia sekarang, kita dulu sehangat teh tawar di kantin bawah pohon mangga.

Aku tidak terima, itukan cara pedekate mu yang spesial untuk ku. Cara pedekate mu yang aneh, yang mengesalkan, yang akhirnya membuat aku kepincut. Jangan kau pikir dia sama dengan ku, ataupun sebaliknya. Dia ya dia. Aku ya aku. Atau kau tidak punya cara lain? Sepertinya memang itu cara pedekate mu satu-satunya yang juga senjata terampuhmu untuk membuat wanita terpesona. Aku juga terpesona. Sekarang masih terpesona, bukan dengan cara pedekate mu, tetapi dengan mu.

Tolong, ubah cara pedekate mu itu. Aku tidak suka, aku tidak suka punya saingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar