Sabtu, 19 Februari 2011

By You


Kemarin beberapa teman lama saya berkumpul. Berkumpul di rumah saya untuk sekedar mengobrol sambil melepas kangen.

Sudah menjadi kebiasaan dari dulu, sudah tidak ada yang canggung lagi kalau harus berebut makanan di rumah saya, justru saya suka yang seperti itu daripada harus malu-malu tapi mau.

Dari awal kedatangan teman-teman lama saya, saya justru terfokus kepada satu orang. Namanya Tama (bukan nama asli). Tama yang sekarang sudah berubah jauh daripada yang dulu.

Seingat saya, Tama dulu itu walaupun hitam tetapi manis, tinggi, suka renang, baik, cerdas, rambutnya bergelombang lucu sekali, kukunya selalu habis dia gigiti sendiri, kemana-mana selalu membawa jaket oranye yang kedodoran, orangnya mudah bergaul, dia juga humoris, suka membuat bercandaan yang sedikit membantu untuk menghilangkan penat.

Justru dari semua itulah, benih-benih cinta saya dulu sempat muncul. Bagaimana tidak, kami sudah bersama dari TK. Dia juga menjadi sahabat dan sempat berpacaran dengan saya. Sekali lagi saya tegaskan, itu dulu!

Tama yang sekarang beda sekali.

Lebih tepatnya, kemarin, ketika kami semua berkumpul bersama, Tama hanya duduk dipojok, tidak seriang dulu lagi. Dia hanya memakan camilan yang berulang kali saya sengaja sodorkan untuknya. Tama hanya mengetik sesuatu di handphone N70 nya, saya tidak tau lebih tepatnya dia sedang apa. Serius. Beda sekali. Serius. Saya kangen Tama yang dulu.

Di tengah bercandaan ada teman saya yang bertanya tentang siapa pacar kami masing-masing. Terpaksa, saya menjawab tidak punya. Padahal yang lain sudah berpasangan semua :( Yang mengherankan, Tama menjawab ''Seng jelas, bocahku lanang!'' (Yang jelas, pacarku itu laki-laki)

What? Tama homo? Tidak. Tidak mungkin. Secara fisik, Tama tidak jauh beda dari yang dulu, masih manis. Hanya saja sifatnya yang berubah, anggap saja itu proses pendewasaan.

Tidak mungkin kalau dia serius menjawab seperti itu.

Tapi, itu pertama kalinya saya melihat wajah Tama serius sekali, tidak seperti biasanya Tama yang berwajah humoris.

Oh Tuhan, buat saya yakin kalau semua ini hanya bohong. Kalau Tama masih menyimpan hobi lamanya untuk bercanda, ya semoga Tama hanya bercanda.

Karena, jujur, sedikit banyak saya masih berharap untuk balikan dengan dia. Karena dia cinta dan pacar pertama saya. Saya tidak bisa lupa.

Yang jelas, semoga kamu tidak benar-benar homo. Atau mungkin, homo adalah jalan terbaik daripada saya harus melihatmu bersanding dengan wanita lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar