Rabu, 23 Februari 2011

Burung Sriti


Jadi itu di setiap menjelang senja, banyak burung sriti berterbangan di atas genteng rumah saya. Mereka itu mau pulang, mungkin sudah cukup lelah seharian mencari makan untuk mempertahankan hidup. Tidak hanya hidupnya sendiri, mungkin ada juga yang menanggung hidup keluarganya, terutama istrinya yang kebanyakan menunggu rumah di ujung pohon saja. Maka dari itu, burung sriti jantan mau tidak mau harus bekerja, pergi ke kantor, atau sekedar menjadi buruh, asal dapat uang untuk makan saja sudah cukup.

Indah sekali ya hidup burung sriti itu, padahal banyak tekanan tetapi saya lihat mereka tetap asik-asik saja berterbangan. Tidak tau karena mereka dapat menyelesaikan masalahnya atau memang mereka pandai untuk menyembunyikan masalah. Mereka selalu saja bersama-sama.

Saya jadi ingin menjadi burung sriti. Burung sriti betina. Saya di rumah saja duduk-duduk di ujung pohon sambil menunggu sangkar dan menikmati hujan sementara kekasih saya pergi bekerja tidak tau di mana. Yang paling penting itu, saya tau kalau kekasih saya pasti akan pulang di setiap senja dan waktunya sudah pasti dapat dijanjikan.

Tidak seperti sekarang ini, kekasih saya tidak jelas kapan pulangnya, kadang sms, kadang telfon, kadang berkirim surat, kadang tidak sama sekali. Benar-benar tidak bisa dijanjikan kehadirannya. Padahal saya di sini butuh sekali keberadaanya. Untuk sekedar bertanya 'Sudah makan?' 'Sudah mandi?' 'Nanti malam ada acara atau tidak?' 'Lagi apa?' lewat sms. Atau bercakap panjang via telfon sampai mata saya merah dan saya rindu waktu saya ketiduran dengan telfon masih di genggaman saya, kalau tidak salah kau dulu sempat menelfon saya dari pukul 00.35-02.20 karena menunggu bonusan dari operatormu, ah serius saya rindu waktu-waktu itu. Ada juga waktu kau rela kehujanan untuk berkunjung ke rumah saya dan membawakan martabak favorit saya yang saya sempat ceritakan pagi harinya ketika bertemu denganmu di koridor.

Andai kau tidak keterlaluan seperti itu, pasti sekarang kita masih bisa bersama.

Apa perlu saya panggilkan burung sriti? Kau belajar saja dari mereka. Belajar bagaimana menghargai kekasihnya yang menunggu untuk kehadiranmu, bagaimana tidak enaknya menunggu, bagaimana menjaga perasaan kekasihnya, bagaimana cara bertanggung jawab, yang lebih penting bagaimana caranya agar bisa tepat waktu dan bisa dijanjikan sebagai seorang laki-laki serta dapat menjaga keharmonisan dan kebersamaan sampai kedepannya.

Sekarang, saya cuma bisa tersenyum sinis saja kepada burung sriti itu. Mengapa mereka harus seharmonis itu? Keharmonisannya bisa tidak dipindahkan ke hidup saya saja? Kan saya lebih membutuhkan, saya lebih punya logika dan perasaan daripada burung sriti itu, lagipula burung sriti tidak mungkin patah hati ketika kekasihnya tidak pulang selepas senja, burung sriti juga tidak terlalu butuh keharmonisan sampai masa tuanya. Jelas saya lebih butuh keharmonisan itu. Lebih butuh kebersamaan itu. Sudahlah pindah saja ke hidup saya.

Kalau bisa, saya tunggu besok senja di teras belakang saya. Berikan keindahan hidupmu atau kalau memang tidak bisa sebagai gantinya semua burung sriti harus mencengkeram tubuh kekasih saya dan membawanya terbang ke tempat saya sedang duduk terpuruk sendiri ini. Jangan lupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar