Rabu, 23 Februari 2011

Bersih-Bersih




Malam minggu kemarin saya bersih-bersih. Membersihkan kamar lama saya karena sekarang saya sudah mulai menempati kamar ungu saya yang baru. Capek juga rasanya, padahal kamarnya tidak terlalu luas, atau mungkin barang-barangnya saja yang terlalu banyak untuk dipindahkan.

Awalnya saya menurunkan semua isi lemari pakaian dan buku-buku dari meja belajar serta foto-foto juga hiasan dinding lainnya. Saya memilah satu per satu semuanya, tadinya mau tetap saya simpan semua, alasan saya satu-satunya yaitu sebagai kenang-kenangan yang sudah lewat, paling tidak mereka pernah menemani saya untuk melewati hidup bersama. Tetapi kata Ibu, kalau bicara tentang kenangan dari barang-barang itu tidak akan ada habisnya. Saya jadi berfikir, memang semuanya itu tergantung dan kembali lagi kepada saya, sepandai apa saya bisa memilah kenangan-kenangan itu, mana yang pantas disimpan dan mana yang bisa dan memang harus dibuang.

Ibu benar juga. Saya harus memilah barang-barang itu. Dari pakaian yang masih bisa dipakai sehari-hari juga untuk pergi sampai pakaian yang sudah tidak cukup lagi di tubuh saya ataupun ada juga yang sudah robek kecil-kecil seperti pernah dikunyah tikus atau sebangsa serangga kecil-kecil begitu. Juga foto-foto saya, hiasan dinding hingga hiasan meja yang sudah copot satu per satu dari bingkainya dan tidak dapat diperbaiki lagi terpaksa tidak saya simpan. Lalu buku-buku di meja belajar.Kalau buku-buku untuk sekolah jelas akan tetap saya simpan karena untuk masa depan saya, namun seperti cuilan kertas-kertas, buku mewarnai, buku menggambar, buku jaman saya kecil dulu, bahkan diary pun akan saya kumpulkan lalu saya masukan kardus, mungkin dijual, mungkin dibuang, mungkin dibakar.

Sedangkan yang masih pantas disimpan, akan saya bersihkan dari debu ataupun rumah laba-laba yang menempel, agar terlihat baru dan lebih rapi lalu saya kembalikan ditempatnya semula.

Mungkin memang seperti kenangan-kenangan di otak saya. Kalau tidak dipilah, mana yang membuat bahagia dan mana yang menyakitkan saya tidak akan tau. Minimal saya harus menyimpan kenangan-kenangan yang pantas untuk disimpan, yang dapat sebagai motivasi di masa depan, yang masih dapat diperbaiki dan tidak menyakitkan. Kalau yang sekiranya kenangan itu sudah rusak bahkan ikut merusak hidup saya juga sepertinya tidak perlu disimpan, lebih baik dibuang dan dilupakan secepatnya.

Tetapi diam-diam barang-barang yang ingin saya buang tadi tidak jadi saya buang. Mau saya simpan sendiri, biar Ibu tidak tau dan tidak lagi mengomel mau saya simpan di kolong tempat tidur saya.

Sepertinya juga kenangan-kenangan di otak saya, terutama kenangan pahit dan menyakitkan dengan mu itu tidak jadi saya lupakan, mau saya simpan dalam-dalam, bukan di otak seperti biasanya, sekarang saya simpan di hati saja.

Maaf, saya memang lemah dan tidak tega untuk membuang ataupun melupakan sesuatu yang pernah membuat warna di hidup saya, iya paling tidak mereka pernah memberi warna 'hitam' di hidup saya. Terimakasih ya kenangan. Saya mau melanjutkan bersih-bersih lagi. Jangan berisik, nanti Ibu tau kalau kalian belum dibuang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar