Minggu, 27 Februari 2011

Teh Celup



Seperti mencelup teh. Kau boleh membagikan rasa mu, tetapi hati mu harus tetap kau jaga agar tidak ikut tersaring keluar.

Setiap pagi saya biasa membuat teh hangat, biasanya tanpa gula, rasanya memang tawar baunya juga hambar, justru disitulah sensasinya. Ketika saya dapat menghabiskannya tanpa sisa, saya merasa bangga, teh saya pagi ini memang tidak semanis teh mereka tetapi saya cukup kuat untuk melewatinya.

Biasanya saya menggunakan teh celup. Praktis. Siapkan saja air hangat terlebih dahulu di dalam gelas, lalu celupkan tehnya. Lucu deh, tehnya memberi rasa juga warna di air hangat itu yang awalnya pucat. Saya tarik ke atas, saya masukkan lagi ke dalam gelas, saya celupkan terus menerus, semakin pekat warna teh nya. Asal kau tau saja, teh celup hanya berbagi rasa, bukan teh aslinya yang sengaja ia simpan dalam-dalam agar tidak berhamburan keluar.

Saya harap, saya juga bisa seperti itu. Saya bisa bebas suka dengan siapapun dan kapanpun. Saya sekedar berbagi rasa, bukan perasaan asli saya di dalam hati. Hati saya mau saya simpan untuk momen jatuh cinta selanjutnya, menurut saya kalau sekedar suka tidak perlu pakai hati. Takutnya kalau sakit nanti hati saya membusuk lagi.

Ah tidak juga. Saya sedang siap-siap untuk jatuh cinta dengan hati. Waktu saya keluarkan, hati saya keburu membusuk dan bau, saya bingung. Mungkin hati saya ini sudah terlalu lama disimpan di ruangan hampa udara. Dia juga sudah keburu tidak mau dengan saya. Seharusnya selama ini saya tidak harus takut untuk mengambil resiko. Resiko jatuh cinta ya patah hati. Lalu sekarang saya harus bagaimana?

Saya menangis. Untuk menghibur diri, saya membuat teh. Teh celup. Air mata saya yang baru saja keluar sebagai air hangatnya. Saya celupkan lalu tehnya ikut membusuk. Yasudah, teh celupnya mau saya gantung saja, biar air mata saya ikut menetes ke dalam tanah meresap sampai ke laut, di ambil oleh awan. Air mata saya jadi hujan.

Cinta Pertama


Saya ingat dari cara pedekate kita dulu. Kau memaksa saya untuk cerita, kau mengorek semua informasi tentang saya. Saya pikir waktu itu ada apa apa. Ternyata kau diam-diam mengajak pedekate saya. Waktu itu kita umur berapa ya? Sekitar 13 tahun mungkin. Namanya juga anak-anak, cuma butuh waktu beberapa minggu saja untuk pedekate lalu saya juga lupa kenapa saya bisa menerima mu untuk mengisi hari-hari saya. Yang jelas waktu itu saya sedang jatuh cinta, dan kau membuat saya terus jatuh cinta, setiap kali bertatap muka, setiap kali membaca pesan baru, membuka friendster sampai mxit. Saya masih sering jatuh cinta sampai sekarang.

Kalau ditanya, kau bukan hanya cinta pertama saya, kau itu teman, sahabat, rival di kelas juga, kita sering berebut peringkat waktu sekolah dasar. Kita sudah kenal sejak taman kanak-kanak, Ibu kita suka bergosip bersama waktu menunggu kita selesai pelajaran, kita juga sering berbagi bekal, kau seringnya bawa usus ayam kecap, kalau saya biasanya simple saja seperti roti, sereal, atau hanya sebotol susu vanilla. Waktu itu kau takut sekali untuk mencoba permainan jungkat-jungkit, kau takut kalau harus duduk dan naik sampai di atas, siapa juga sih yang tidak takut berdiri di atas sebuah pondasi yang terbuat dari harapan-harapan kosong.

Waktu itu kita berpacaran lucu sekali ya. 13 kali kita berkencan, dan selalu saja tepat di hari sabtu pukul 13.00, iya siang bolong. Kita memang gila. Mulai saat itu saya jadi mulai suka angka 13 yang kalau digabungkan ehem menjadi inisial nama mu. Kau juga belum bisa bawa motor, jadi kita keliling jalan kaki saja. Berpetualang, dan kulit ku menjadi lebih hitam, tidak apa-apa biar kita sama-sama hitam dan sama-sama manis.

Kalau tidak salah waktu itu saya sedang mens hari pertama, emosi saya tidak terkontrol, saya labil, saya kesal kamu seharian tidak memberi kabar. Saya buat kesalahan besar siang itu, saya buat semuanya berakhir. Bodoh! Tolol! Dungu! Katakan saya apa saja yang kau mau, saya menyesal. Sampai sekarang di sana, di salam hati, yang memang masih ada satu petak tempat untuk mu, masih sering terasa sesak mengganjal kalau ingat kebodohan saya yang masih bau kencur saat itu.

Maaf kan saya. Kau boleh meminta tebusan apa saja atas sakit hatimu waktu itu. Asal jangan kau diamkan aku seperti ini. Aku tidak sekuat yang lain. Sekarang kita sudah sama-sama dewasa, saya sudah menyadari semua kesalahan saya, dan kini gantian kau yang childish. Kalau memang bisa marah, saya mau marah, tapi marah untuk apa untuk siapa, kau sudah bukan hak saya lagi.

Mungkin cukup aku kenang sebagai cinta pertama. Mulai sekarang aku mau coba cari yang lain. Eum...maksudku cari cara lain untuk membuatmu jatuh cinta denganku lagi.

Cara Pedekate


Sayangnya kau tidak bisa membedakan antara dulu dan sekarang. Kau tetap sama. Tapi aku justru tidak suka. Aku suka kau berubah, paling tidak kau merubah satu hal; cara pedekate. Tetapi sudahlah aku juga sudah tidak punya hak atas dirimu lagi.

Dulu kau juga begini. Memaksa aku untuk cerita sambil menikmati teh tawar panas di bawah pohon mangga tepat depan sekolah kita dulu. Kau tanya-tanya tentang siapa pacar ku waktu itu, bagaimana aku bisa menjawab, waktu itu aku juga single, sama sepertimu. Satu, dua, beberapa makanan kecil dan bergelas teh hampir habis. Sampai pada akhirnya aku bosan duduk mematung di sana, akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang kerumah saja. Waktu itu, kau kejar aku. Kau minta maaf. Tidak, kau tidak salah apa-apa, aku hanya bingung apa maksudmu memaksa ku untuk menceritakan tentang seseorang yang sedang aku kejar. Aku single dan aku sedang tidak menaruh hati ke siapa-siapa. Lagi lagi kau terus memaksa, katamu kau janji akan membantu ku, semacam mencomblangkan. Ya tentunya aku semakin kesal, rasanya seperti dipojokkan.

Dari cara mu untuk mengejar sepucuk informasi tentang aku, aku menjadi tertarik dan sedikit kepincut. Ada-ada saja kau itu. Aku mengerutkan alis, namun aku tersenyum, bukan senyum kecut. Ini senyum anak bau kencur yang sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tau juga. Itu cara pedekate mu. Kau suka memaksa, kau suka mengorek informasi dari seorang wanita incaranmu. Ya, memang, aku pernah menjadi wanita incaran mu. Dulu. Dulu sekali waktu kita masih sama-sama tidak memikirkan image yang harus dijaga. Justru waktu itu kita berdua bisa jujur tentang perasaan yang paling dalam.

Sekarang sudah tidak. Kita sudah tidak kenal. Padahal hampir setiap pagi kita bertemu di ujung jalan. Kau tidak menyapa, aku juga tidak. Aku termakan gengsi, mungkin kau juga. Aku sedikit malu untuk mengakui; kau itu cinta dan pacar pertama ku.

Sekarang, aku melihatmu pedekate. Bukan dengan aku, lagi. Aku mendengar selentingan, kau sering mengantarnya pulang. Aku juga baca di facebook, kau memaksanya untuk bercerita siapa pria incarannya, dan dia menjawab tidak ada. Lalu kau tetap memaksa, dan dia sedikit kesal, akhirnya kau hibur dia dengan bercandaan kecilmu. Aku membaca obrolan kalian hangat sekali. Persis, sama dengan ku waktu itu. Bahkan mungkin kau dan aku dulu lebih hangat daripada kau dan dia sekarang, kita dulu sehangat teh tawar di kantin bawah pohon mangga.

Aku tidak terima, itukan cara pedekate mu yang spesial untuk ku. Cara pedekate mu yang aneh, yang mengesalkan, yang akhirnya membuat aku kepincut. Jangan kau pikir dia sama dengan ku, ataupun sebaliknya. Dia ya dia. Aku ya aku. Atau kau tidak punya cara lain? Sepertinya memang itu cara pedekate mu satu-satunya yang juga senjata terampuhmu untuk membuat wanita terpesona. Aku juga terpesona. Sekarang masih terpesona, bukan dengan cara pedekate mu, tetapi dengan mu.

Tolong, ubah cara pedekate mu itu. Aku tidak suka, aku tidak suka punya saingan.

Sabtu, 26 Februari 2011

Dinding Itu...


Dulu, kita suka sandaran di sana. Di dinding rumah tua ujung kota. Awalnya aku takut karena suasananya terlihat sedikit angker, tetapi ketika kau pegang tangan ku ini, kau yakinkan aku tentang sesuatu, tentang keindahan yang tersembunyi dibalik kesedihan, aku jadi berani dan ketagihan untuk berkunjung kesana. Aku jadi mau kau ajak untuk sekedar duduk melepas sore di terasnya. Ada bangku rotan panjang, tetapi ya memang berdebu seperti itu, maklumlah namanya juga rumah tua. Kita sering berbagi minuman dan makanan, biasanya aku bawa camilan, permen, juga dua porsi pasta. Dan kau, selalu saja membawa dua botol sedang air mineral dingin, katamu air mineral itu bagus untuk kesehatan dan kau ingin aku menjadi seperti air mineral yang transparan tanpa harus ada yang ditutup-tutupi, antara kau dan aku.

Sekarang, aku sudah membuktikan bahwa memang tidak ada yang aku tutup-tutupi. Kau sendiri bagaimana? Kau sedang menutup-nutupi sesuatu bukan? Aku tau dari gerak-gerikmu. Kau tutupi perasaan bosan mu kepadaku, rasa emosional mu setiap aku mengajakmu bercanda, rasa malas mu untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan berdua, kau juga menutupi wanita incaran mu dari jangkauan ku. Untuk apa kalau boleh tau? Untuk membahagiakan ku dan membuatku merasa aku masih ada di setiap inci hati dan otak mu, iya begitu? Atau jangan-jangan, kau bukan menutup-nutupi, hanya saja kau belum punya waktu yang tepat untuk menyudahi semuanya denganku, iya kan?

Aku benar-benar tidak tau jalan fikiranmu yang sekarang, tidak seperti kamu yang dulu lagi. Yang aku tau, sore ini aku berkunjung ke rumah tua itu. Kira-kira sudah 1 kemarau kita tidak berkunjung ke sana. Memang sih tidak ada yang berubah. Kursi rotannya masih menempel di dinding, debunya bertambah banyak, pintunya juga masih terkunci rapat, yang berbeda sekarang hanyalah dindingnya.

Cat di dinding itu semakin jelas mengelupasnya. Reruntuhan tanahnya semakin banyak. Mungkin terkikis hujan, mungkin di garuk-garuk tikus, mungkin dinding itu rapuh untuk menemaniku agar aku tidak menjadi satu-satunya yang rapuh. Asal kau tau saja, dinding itu merekam semuanya, merekam kejadian kita berdua. Dari awal kau genggam tanganku dan mengajakku kesana, kita duduk dibangku rotan dan menyandarkan tubuh ke dinding, lalu menikmati makanan dan minuman bersama, sebelum senja datang, sambil melepas sore kita suka bercanda, berbicara serius, mendengarkan musik, membaca buku apa saja, sampai aku yang pernah terlelap di pelukan dinding itu karena mendengarkan mu memetik gitar. Pokoknya, hari sepenat apapun asal kita menjalani berdua akan selalu terasa liburan dan piknik.

Sore ini, aku lihat semua kejadian itu. Dinding itu tidak hanya merekam, tetapi juga menunjukkan. Menunjukkan lewat cat nya yang mengelupas dan reruntuhan tanahnya. Kau dan aku terlukis jelas di sana. Dinding itu menunjukkan semuanya. Percayalah, bahwa sesuatu yang menjadi rapuh bukan tanpa alasan, alasannya terserah kau saja, mau kau simpan atau kau tunjukkan lewat sebuah cara, seperti dinding itu yang menunjukkan kerapuhannya lewat gambaran nyata.

Tetapi kalau aku, alasan ku menjadi rapuh tidak akan aku simpan tidak juga aku tunjukkan, hanya akan aku doakan agar kau yang membuat aku rapuh begini tidak menjadi rapuh seperti aku. Karena rapuh itu tidak enak. Dan semoga juga kau mau membawakan aku segenggam pasir dan semen, atau kau saja yang menjadi pasir dan semen itu, untuk menempel kebahagiaan ku yang mengelupas, lalu rapuh.

Kalau kau sudah siap menjadi pasir dan semen, boleh temui aku di tempat biasa. Di balik dinding itu, selepas sore. Bawa cat juga ya agar hidupku semakin bewarna.

Malam Sakit Hati


Sekarang Malam menakutkan. Malam lebih pekat hitamnya. Bintang dan bulan saja takut untuk sekedar menyapa. Malam menjadi suram. Benar deh. Sepi sekali.

Malam ini ketika semuanya sudah terlelap, saya coba keluar rumah dan duduk di bangku rotan teras belakang. Saya coba tanya kepada Malam, kenapa Malam menjadi begini, kenapa Malam tidak seceria dulu, kenapa Malam mulai sering murung, kenapa Malam berubah drastis?

Sambil menetes air matanya, sambil saya menikmati tetesan air nya, Malam bercerita dan saya mendengarkan. Kata Malam, Malam sedang sakit hati. Wah saya semakin bingung, padahal kemarin beberapa minggu yang lalu saya lihat Malam sudah mulai sering bercermin, berdandan, di kepang, pakai kutek, pakai tank-top hitam motif bintang-bintang, waktu itu Malam kemayu sekali. Kok Malam tiba-tiba bisa sakit hati? Katanya lagi, Malam juga kecewa. Malam ditinggal pergi. Padahal Malam pikir, lelaki itu adalah cahaya hidupnya.

Sudahlah Malam, jangan terlalu murung seperti itu, kasihan mereka yang ingin menikmati malam jadi takut. Boleh saja kau pikir dia itu cahaya mu, tetapi cara mu itu juga salah. Kau terlalu over protective kepadanya. Seharusnya kau biarkan saja dia berpendar, kau biarkan saja dia menghirup udara bebas, jangan kau simpan terus di toples kaca. Diakan juga laki-laki, butuh ngopi, jalan-jalan naik motor, menghisap rokok, bercanda dengan teman-temannya, sampai makan nasi goreng di warung favoritnya juga. Kalau dipikir-pikir Malam memang egois.

Memang enak apa disimpan di dalam toples kaca, saya tau Malam bagaimana kau ingin terus menyimpannya, bagaimana kau ingin semua usahamu dari awal kau mendapatkannya sampai mempertahankannya tidak sia-sia ditengah jalan. Tetapi cinta tidak bisa dipaksakan. Lebih baik mulai malam ini, kau kembali seperti yang dulu lagi, ini saya pinjami kutek mau warna apa? Atau mau bando polkadot saya? Mau parfume? Mau apa saja boleh, terserah, asal Malam bisa menjadi Malam yang saya kenal dulu.

Percayalah Malam, saya akan selalu menghiburmu, karena saya juga wanita. Karena saya juga pernah mengurung seseorang di dalam hati saya, bahkan saya kunci rapat disana lalu kuncinya sengaja saya hilangkan, dia tidak pergi, raganya masih bersama saya, tetapi jiwa dan perasaannya sudah mati. Asal kau tau saja Malam, memiliki raga seseorang yang perasaannya entah kemana, mungkin mati, lebih menyakitkan daripada kehilangan seseorang yang sama-sama berarti tetapi masih mempunyai hati yang suatu saat dapat diharapkan untuk kembali, mungkin cahaya mu hanya sedang bersembunyi, Malam, bukan pergi.

Kepangan Hujan


Katamu, aku lebih manis seperti ini. Rambut di kepang, dari ujung sampai bawah tanpa ada celah, lalu diikat dengan tali warna-warni. Asal kau tau saja, aku harus bangun lebih pagi daripada biasanya untuk sekedar berdiri di depan cermin sambil menggigit sisir dan kedua tangan ku aku gunakan untuk mengepang dengan hati-hati dan sabar, agar hasilnya bagus, agar kau bilang aku manis lagi.

Rambutku memang terlalu panjang dan sedikit tidak beraturan jadi sulit untuk disisir. Apalagi kalau sedang ada angin besar, rambutku menari kesana kemari. Sehari saja tidak keramas, pasti sudah bau sekali, karena rambutku itu ceroboh, suka jatuh di tanah, di rumput, akhirnya dia bau lumpur.

Tetapi tidak apalah, asal kau bilang aku manis saja. Aku mau kok bersusah payah mengepang rambutku ini.

Pagi ini, aku coba berangkat lebih awal, agar aku dapat bertemu dengan mu lebih lama. Aku sudah menunggu dari tadi di bangku kayu panjang, tapi kamu belum juga datang. Kemana sih kamu, Robin? Jangan-jangan kamu belum tau kalau rasanya menunggu itu mengesalkan. Sudahlah aku tunggu saja, sayang juga kalau kamu tidak melihat kepangan rambut ku yang sudah aku usahakan mati-matian ini.

Syukurlah kalau kamu berangkat. Aku lihat kamu juga akhirnya. Seperti di setiap pagi sebelumnya, kamu selalu jalan pelan-pelan, membawa tas ransel abu-abu yang sepertinya penuh buku, sambil menggaruk-garuk kepala, senyum sana senyum sini, ramah sekali. Tetapi pagi ini ada yang beda. Kamu tidak jalan sendiri. Kamu jalan berdua dengan wanita lain, tidak tau wanita itu siapa, mungkin dia manusia sama sepertimu juga, yang jelas dia lebih manis daripada aku.

Sebenarnya aku sedih dan kecewa, tetapi buat apa juga, buang-buang energiku saja. Ah sudahlah, mau dikepang ataupun diapakan juga aku tetap tidak manis. Aku cuma hujan, aku pucat, mana mungkin aku bisa semanis wanita itu, Bin. Sekarang aku mau turun, menetes perlahan-lahan, jatuh sampai tubuh mu dan wanita itu. Aku akan pakai gaun merah, bukan sebagai hujan, hanya sebagai darah.

Labirin

Robin, saya takut kalau saya menjadi yang paling belakang. Saya takut kalau harus terus menerus terpuruk begini. Saya merasa, saya tersesat di sebuah labirin antara masa lalu dan masa depan. Saya berputar ke kanan, kembali ke kiri, mencoba maju terus ke depan, saya tetap tidak bisa kemana-mana. Kalaupun bisa, saya mau memberi tanda diatas jalan yang sudah saya lewati agar sewaktu-waktu saya bisa kembali ke masa lalu saja daripada harus bersusah payah mengejar masa depan, sayangnya saya juga tetap tidak bisa. Tidak tau kenapa saya hanya bisa diam disini. Mundur tidak, apa lagi maju.

Kenapa ya saya ini? Kau tau tidak alasannya?

Sepertinya memang iya. Saya itu lemah untuk menghapus masa lalu beserta kenangan-kenangannya. Dari luarnya saja saya mengaku menyimpan masa lalu hanya untuk mengambil pelajaran hidup dari sana, padahal aslinya saya tidak hanya ingin menyimpan tetapi juga ingin memelihara agar masa lalu saya tumbuh dengan sehat. Bodoh sekali saya. Jujur, saya hanya malu untuk dibilang lemah, tidak terlalu tega untuk membiarkan masa lalu tertiup angin begitu saja.

Sayangnya juga, saya tidak bisa untuk ke berlari masa depan. Saya terlalu takut untuk menuju kesana. Saya belum siap. Saya belum punya sesuatu untuk saya jadikan bekal ataupun teman seperjalanan. Takutnya, ketika saya rapuh ditengah perjalanan ke masa depan, saya tidak punya motivasi ataupun inspirasi untuk terus maju. Kecuali kalau saya sudah punya bekal seperti seseorang untuk menemani perjalanan saya. Yang jelas, saya tau dia sudah menjanjikan bahwa ujung bahunya hanya untuk saya, sela jari tangannya hanya untuk jari-jari saya, lipatan lengannya hanya untuk kepala saya bersandar, dadanya hanya untuk wajah saya bersembunyi dari air mata, pangkuannya hanya untuk saya ketika saya sudah terlalu lelah dengan semuanya, dan matanya hanya untuk jendela hati saya. Dengan begitu saya sudah tenang, paling tidak saya tidak sendirian saja.

Ah tapi apa. Sekarang saya semakin bingung. Orang-orang dimasa lalu sudah pergi, orang-orang dimasa depan sudah mendapatkan dunianya sendiri. Lalu, bagaimana nasib orang-orang seperti saya ini yang hanya terpaku di labirin antara masa lalu dan masa depan? Harus jalan ditempat saja? Maju salah mundur salah.

Eh Robin, ngomong-ngomong bagaimana rencana mu selanjutnya? Sudahlah jangan malu-malu, kita sesama orang yang terjebak di labirin ini harus saling berbagi. Kita senasib. Yasudah, bagaimana kalau saya ceritakan tentang rencana saya dulu? Kau dengarkan ya.

Robin, semenjak mengenalmu saya menjadi tau, bahwa kita tidak perlu menyesali masa lalu, kita tidak perlu takut ke masa depan. Kan namanya berjalan tidak hanya dua pilihan antara maju dan mundur, paling tidak kita bisa keluar dari masa yang entah apa namanya ini, kalau tidak bisa maju ataupun mundur, kita bisa berjalan ke samping, terserah mau kiri atau kanan, asal kita tidak diam saja dan terpaku disini. Mungkin memang kita ditakdirkan untuk berjalan menyusuri tepi dulu yang pada akhirnya kita bisa mendahului mereka yang berebut jalan ditengah untuk cepat-cepat maju. Oh iya Robin, nanti kalau saya capek, gendong ya, soalnya saya sekarang sudah punya bekal cukup berat yang mau saya bawa ke masa depan saya, bekal saya itu ya kamu, Robin.


Ilalang Malang


Mau kau pegang tangan ku?

Membawa setangkai kembang

Kembang ilalang

Aku tiup lalu terbang

Kembang ilalang yang lemah

Kau melepas panah

Hatinya lalu bernanah

Ilalang tetap menyambutnya dengan indah

Mau kau pegang tangan ku?

Akan aku arahkan ke hati

Kau ambil lalu obati

Biar ilalang bahagia lagi

Rabu, 23 Februari 2011

Menabung Pesan Pendek


Ketika saya membalas wall mu di facebook malam ini saya jadi kepikiran tentang kamu.

Saya sedikit flashback, semenjak awal kita bertemu, saya sudah sedikit tertarik dengan mu. Kalau ditanya dari apanya, mungkin dari ujung rambut sampai unjung kaki, dari sifatmu juga, semuanya sudah sempurna, menurut saya. Dan juga dari awal saya sudah tertarik dengan gaya pesan pendek (sms) mu. Padahal kalau mengetik, kamu sedikit, maaf, alay. Tetapi saya justru kepincut. Mungkin dari cara kamu perhatian lewat sms, cara kamu membalasnya dengan cepat, cara bercandaan mu, cara sms mu yang apa adanya, cara kamu bilang 'terimakasih' 'okedah' 'sama-sama' jarang sekali saya menutup sms dan ternyata ada yang menutup lagi, cuma ada di kamu, serius, oh iya yang saya tidak bisa lupa waktu kamu sekedar mengetik 'Poooouuuunngggg !!!' ha-ha saya rindu sekali. Sepertinya, tidak hanya hasil ketikan, tetapi suaramu juga ikut bergeming di telinga saya.

Semenjak saat itu juga saya mulai menabung. Bukan menabung uang. Tetapi menabung pesan pendek darimu. Agar saya selalu kepincut setiap waktu.

Satu per satu pesan pendek darimu saya kumpulkan di 'Inbox', lalu kalau sudah lumayan banyak akan saya 'Mark' dan 'Move To Folder', saya sudah buatkan folder khusus untuk pesan pendekmu, namanya 'Unimportant'. Tenang saja, bukan berarti kamu tidak penting untuk saya, justru kamu sangat penting, maka dari itu, agar siapapun yang membuka pesan pendek di handphone saya berfikiran bahwa folder itu tidak penting, biar saya menjadi satu-satunya yang mengganggap kamu itu penting. Kamu penting sekali di hidup saya. Mengertilah.

Siapapun boleh berfikir kalau saya terlalu berlebihan, padahal kan sudah masa lalu juga. Saya akui, saya lemah untuk sekedar menghapus masa lalu, apalagi menghapus pesan pendekmu, saya tidak tega, sayang juga kalau dihapus, saya kan sudah menabungnya sejak lama.

Nanti kalau sudah banyak, tabungan pesan pendekmu akan saya bongkar dan saya pecah, dan hasilnya untuk biaya kita menikah. Mau yaah?


Bersih-Bersih




Malam minggu kemarin saya bersih-bersih. Membersihkan kamar lama saya karena sekarang saya sudah mulai menempati kamar ungu saya yang baru. Capek juga rasanya, padahal kamarnya tidak terlalu luas, atau mungkin barang-barangnya saja yang terlalu banyak untuk dipindahkan.

Awalnya saya menurunkan semua isi lemari pakaian dan buku-buku dari meja belajar serta foto-foto juga hiasan dinding lainnya. Saya memilah satu per satu semuanya, tadinya mau tetap saya simpan semua, alasan saya satu-satunya yaitu sebagai kenang-kenangan yang sudah lewat, paling tidak mereka pernah menemani saya untuk melewati hidup bersama. Tetapi kata Ibu, kalau bicara tentang kenangan dari barang-barang itu tidak akan ada habisnya. Saya jadi berfikir, memang semuanya itu tergantung dan kembali lagi kepada saya, sepandai apa saya bisa memilah kenangan-kenangan itu, mana yang pantas disimpan dan mana yang bisa dan memang harus dibuang.

Ibu benar juga. Saya harus memilah barang-barang itu. Dari pakaian yang masih bisa dipakai sehari-hari juga untuk pergi sampai pakaian yang sudah tidak cukup lagi di tubuh saya ataupun ada juga yang sudah robek kecil-kecil seperti pernah dikunyah tikus atau sebangsa serangga kecil-kecil begitu. Juga foto-foto saya, hiasan dinding hingga hiasan meja yang sudah copot satu per satu dari bingkainya dan tidak dapat diperbaiki lagi terpaksa tidak saya simpan. Lalu buku-buku di meja belajar.Kalau buku-buku untuk sekolah jelas akan tetap saya simpan karena untuk masa depan saya, namun seperti cuilan kertas-kertas, buku mewarnai, buku menggambar, buku jaman saya kecil dulu, bahkan diary pun akan saya kumpulkan lalu saya masukan kardus, mungkin dijual, mungkin dibuang, mungkin dibakar.

Sedangkan yang masih pantas disimpan, akan saya bersihkan dari debu ataupun rumah laba-laba yang menempel, agar terlihat baru dan lebih rapi lalu saya kembalikan ditempatnya semula.

Mungkin memang seperti kenangan-kenangan di otak saya. Kalau tidak dipilah, mana yang membuat bahagia dan mana yang menyakitkan saya tidak akan tau. Minimal saya harus menyimpan kenangan-kenangan yang pantas untuk disimpan, yang dapat sebagai motivasi di masa depan, yang masih dapat diperbaiki dan tidak menyakitkan. Kalau yang sekiranya kenangan itu sudah rusak bahkan ikut merusak hidup saya juga sepertinya tidak perlu disimpan, lebih baik dibuang dan dilupakan secepatnya.

Tetapi diam-diam barang-barang yang ingin saya buang tadi tidak jadi saya buang. Mau saya simpan sendiri, biar Ibu tidak tau dan tidak lagi mengomel mau saya simpan di kolong tempat tidur saya.

Sepertinya juga kenangan-kenangan di otak saya, terutama kenangan pahit dan menyakitkan dengan mu itu tidak jadi saya lupakan, mau saya simpan dalam-dalam, bukan di otak seperti biasanya, sekarang saya simpan di hati saja.

Maaf, saya memang lemah dan tidak tega untuk membuang ataupun melupakan sesuatu yang pernah membuat warna di hidup saya, iya paling tidak mereka pernah memberi warna 'hitam' di hidup saya. Terimakasih ya kenangan. Saya mau melanjutkan bersih-bersih lagi. Jangan berisik, nanti Ibu tau kalau kalian belum dibuang!

Bersembunyi




Dulu waktu kecil saya suka bermain petak umpet. Teman-teman saya memang sebaya semua jadi tidak terlalu sulit untuk beradaptasi. Biasanya kami mencari daerah untuk petak umpetnya di ujung gang yang lokasinya di sana banyak ditumbuhi rumput ilalang serta banyak bekas reruntuhan bangunan ada juga beberapa tembok yang masih berdiri. Itu semua memudahkan kami mencari tempat persembunyian yang paling aman.

Ah, sialnya saya sering sekali menjadi penjaga. Jarang untuk dapat kesempatan bersembunyi. Terkadang, dalam hitungan 10 atau 20 yang lain sudah bersembunyi dengan aman sedangakan saya masih saja mencari tempat persembunyian, dan ketahuan lalu kalah lagi.

Saat itu juga saya berfikir, untuk apa sih bersembunyi?

Sekarang, saya tau. Bersembunyi itu untuk sembunyi. Terserah mau sembunyi dari apa saja yang kamu mau. Boleh sembunyi dari kebisingan, sembunyi dari orang-orang, sembunyi dari dunia, sembunyi dari matahari angin hujan, sembunyi dari kesedihan juga boleh.

Sayang, saya jadi kepingin sembunyi dari kesedihan. Bosan juga setiap hari kesedihan harus bertamu di hidup saya begini, apalagi kesedihan kalau bertamu suka lupa waktu, padahal kopi dan camilan yang saya suguhkan sudah habis tetapi kesedihan tetap saja ada di hidup saya ini, kerasan sekali tampaknya. Tapi kalau jadi bersembunyi dari kesedihan, saya tidak tau juga harus bersembunyi dimana. Mau sembunyi dibalik tembok, dibawah kolong, diatas lemari, disamping garasi, dimanapun kesedihan tetap saja bisa datang. Kesedihan selalu tau dimana kita sedang berada.

Kalaupun bisa saya mau mengajakmu untuk bersembunyi dari kesedihan dibalik rumput, seperti sepasang semut yang sedang piknik. Kita bisa mengendap-endap kesana kemari tanpa ada yang tau, semoga kesedihan juga tidak tau. Sesekali saya mengintip kalau-kalau kesedihan mau datang, saya akan menarikmu segera, menarikmu entah kemana, kemana saja boleh, kalaupun terpaksa, saya akan menjadi tameng di depan mu agar kalau kesedihan mau menyerangmu tidak akan sampai ke kamu dan kesedihan akan beralih ke saya. Saya rela.



Kalau dipikir-pikir lagi, tetap saja dong saya akan sedih. Rumit sekali. Yasudah, tidak jadi bersembunyi sajalah kalau begitu, lebih baik saya sembunyikan kesedihan itu sendiri, karena kesedihan rajin bertamu itu tidak lain saya mengijinkannya untuk bertamu sampai-sampai harus saya persilahkan masuk ke hidup saya. Itu salah saya juga, kalau saya tidak mengizinkan kesedihan untuk masuk sejauh ini dalam hidup saya mungkin saya tidak harus sesedih ini.

Tapi sayang, kalau kamu mau tetap ingin bersembunyi, akan tetap saya temani. Tidak perlu sembunyi dari kesedihan. Kita bersembunyi saja dari.... dari pagi sampai malam sampai besok sampai lama. Saya dan kamu, berdua saja.

Hujan Bunga


Saya lihat sore ini hujan turun sebagai bunga

Saya langsung keluar saja

Cepat-cepat pergi ke halaman rumah sana

Benar ya,

Warna bunganya ungu muda

Ah

Deras sekali hujannya

Lalu

Mengadah dan membuka mulut saya

Sekejap mulut dipenuhi bunga-bunga

Saya telan segera

Rasanya,

Seperti sedang jatuh cinta...

Burung Sriti


Jadi itu di setiap menjelang senja, banyak burung sriti berterbangan di atas genteng rumah saya. Mereka itu mau pulang, mungkin sudah cukup lelah seharian mencari makan untuk mempertahankan hidup. Tidak hanya hidupnya sendiri, mungkin ada juga yang menanggung hidup keluarganya, terutama istrinya yang kebanyakan menunggu rumah di ujung pohon saja. Maka dari itu, burung sriti jantan mau tidak mau harus bekerja, pergi ke kantor, atau sekedar menjadi buruh, asal dapat uang untuk makan saja sudah cukup.

Indah sekali ya hidup burung sriti itu, padahal banyak tekanan tetapi saya lihat mereka tetap asik-asik saja berterbangan. Tidak tau karena mereka dapat menyelesaikan masalahnya atau memang mereka pandai untuk menyembunyikan masalah. Mereka selalu saja bersama-sama.

Saya jadi ingin menjadi burung sriti. Burung sriti betina. Saya di rumah saja duduk-duduk di ujung pohon sambil menunggu sangkar dan menikmati hujan sementara kekasih saya pergi bekerja tidak tau di mana. Yang paling penting itu, saya tau kalau kekasih saya pasti akan pulang di setiap senja dan waktunya sudah pasti dapat dijanjikan.

Tidak seperti sekarang ini, kekasih saya tidak jelas kapan pulangnya, kadang sms, kadang telfon, kadang berkirim surat, kadang tidak sama sekali. Benar-benar tidak bisa dijanjikan kehadirannya. Padahal saya di sini butuh sekali keberadaanya. Untuk sekedar bertanya 'Sudah makan?' 'Sudah mandi?' 'Nanti malam ada acara atau tidak?' 'Lagi apa?' lewat sms. Atau bercakap panjang via telfon sampai mata saya merah dan saya rindu waktu saya ketiduran dengan telfon masih di genggaman saya, kalau tidak salah kau dulu sempat menelfon saya dari pukul 00.35-02.20 karena menunggu bonusan dari operatormu, ah serius saya rindu waktu-waktu itu. Ada juga waktu kau rela kehujanan untuk berkunjung ke rumah saya dan membawakan martabak favorit saya yang saya sempat ceritakan pagi harinya ketika bertemu denganmu di koridor.

Andai kau tidak keterlaluan seperti itu, pasti sekarang kita masih bisa bersama.

Apa perlu saya panggilkan burung sriti? Kau belajar saja dari mereka. Belajar bagaimana menghargai kekasihnya yang menunggu untuk kehadiranmu, bagaimana tidak enaknya menunggu, bagaimana menjaga perasaan kekasihnya, bagaimana cara bertanggung jawab, yang lebih penting bagaimana caranya agar bisa tepat waktu dan bisa dijanjikan sebagai seorang laki-laki serta dapat menjaga keharmonisan dan kebersamaan sampai kedepannya.

Sekarang, saya cuma bisa tersenyum sinis saja kepada burung sriti itu. Mengapa mereka harus seharmonis itu? Keharmonisannya bisa tidak dipindahkan ke hidup saya saja? Kan saya lebih membutuhkan, saya lebih punya logika dan perasaan daripada burung sriti itu, lagipula burung sriti tidak mungkin patah hati ketika kekasihnya tidak pulang selepas senja, burung sriti juga tidak terlalu butuh keharmonisan sampai masa tuanya. Jelas saya lebih butuh keharmonisan itu. Lebih butuh kebersamaan itu. Sudahlah pindah saja ke hidup saya.

Kalau bisa, saya tunggu besok senja di teras belakang saya. Berikan keindahan hidupmu atau kalau memang tidak bisa sebagai gantinya semua burung sriti harus mencengkeram tubuh kekasih saya dan membawanya terbang ke tempat saya sedang duduk terpuruk sendiri ini. Jangan lupa.

Minggu, 20 Februari 2011

Menjemur Cinta


Pagi cinta, apa kabar?

Kabarmu buruk ya, iya aku tau, tau sekali.

Kemarin malam kan kamu habis sakit, kamu habis retak mungkin patah. Kemarin Cinta galau semalaman. Kasihan ya, padahal Cinta sudah berusaha sekuat mungkin untuk merebut perhatian Robin, sudah mau ikut aku berangkat pagi-pagi, sudah mau menemani aku menunggu di depan kelas untuk sekedar menyapa Robin, sudah mau ikut aku pergi ke mushola, sudah mau mengantar aku pulang sore-sore untuk melihat Robin bermain bola, sudah mau terjaga sampai malam bersama aku untuk galau sampai bersembunyi dibalik selimut untuk menangis.

Maaf ya cinta, Robin memang seperti itu, Robin memang tidak pernah peduli dengan semuanya, Robin memang pasif apalagi tentang wanita, Robin memang susah mencari yang baru untuk menutup lembaran berdebunya yang dulu. Aku jadi tidak enak dengan mu, Cinta. Aku berutang budi dengan mu juga. Terimakasih juga ya buat semuanya selama ini.

Pagi Cinta...

Bagaimana kalau pagi ini aku buat sesuatu di hidupmu. Aku mau mencuci Cinta dengan air mata dan sabun lelah. Lalu aku akan menjemur Cinta, biar semua kuman-kumannya hilang terbakar panas matahari dan panas cemburu, biar cinta cepat kering dan tidak akan ada lagi air mata menetes dimana-mana, biar cinta menjadi kaku dan kuat serta tidak selemah dulu, biar kalau kepanasan Cinta akan cepat sadar dan bisa membedakan mana yang perlu pengorbanan dan mana yang tidak.

Waktu dijemur, Cinta harus di jepit, kalau ada angin nanti Cinta bisa terbang kesana kemari. Takutnya kalau nanti jatuh di tempat yang salah, Cinta bisa rapuh lagi. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Pokoknya Cinta harus kuat!

Cinta nanti sore kalau kamu sudah kering, akan aku ambil segera. Mulai sekarang, aku akan menjagamu lebih hati-hati.

Pagi Cinta, kamu apa kabar?

Kabar mu baik ya, syukurlah.

Eh Cinta, besok kalau aku jatuh cinta, temani aku lagi ya, tapi jangan ikut campur, soalnya aku mau coba jatuh cinta tanpa harus pakai perasaan dan cinta, biar kalau sakit tidak terlalu sakit seperti kemarin.

Surat Kaleng #4 untuk Guru Olahraga


Halo guru ataupun mantan guru olahraga saya. Kabar saya baik sekali nih. Semoga kabar kalian juga.

Sebenarnya, ini salah satu keinginan saya, yaitu untuk mengirim sepucuk surat untuk kalian.

Terimakasih sekali ya untuk semuanya. Sudah mau membimbing saya semenjak saya TK, SD, SMP, hingga SMA. Guru olahraga itu guru favorit saya. Jangan berfikir saya suka pelajaran olahraga. Oh bukan, bukan itu, justru saya benci sekali dengan pelajaran olahraga, dan lebih sialnya saya selalu tidak bisa menguasai materi olahraga, padahal saya sudah berusaha sekuat mungkin.

Ah saya jadi ingat, pada setiap hari-hari yang ada mata pelajaran olahraga hati saya menjadi tidak karuan. Untuk bangun dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5.40 saja saya sudah malas, apalagi mandi, apalagi berseragam olahraga, apalagi sampai di sekolah.

Tetapi saya masih bisa bertahan sampai sekarang ini karena ada kalian, guru olahraga. Kalian mengajarkan saya tentang berbagai macam hal. Maaf saja kalau saya tetap belum bisa. Kalian mau bersabar membimbing saya, terkadang kalian mau memberi saya nilai lebih padahal ya saya seperti ini saja.

Guru olahraga, kalau besok saya jadi 'orang', dalam pidato, saya mau mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk kalian. Agar seluruh dunia tau, orang-orang yang diciptakan seperti saya ini juga tidak akan sia-sia, Tuhan punya rencana.

Oh iya, yang terakhir, kalau besok waktu pelajaran olahraga saya tidak bisa tolong tetap berikan nilai yang cukup untuk saya ya, agar saya bisa berhasil menjadi 'orang' di kedepannya. Amin.

Surat Kaleng #3 untuk Hujan


Hujan, asal kamu tau saja, kamu itu bagian ketiga terpenting dalam hidupku.

Kamu itu semuanya buat aku. Sahabatku. Pacarku. Bahagiaku. Keluargaku. Pokoknya semuanya. Aku sayang sekali dengan mu. Kalau bisa, tolong jangan tinggalkan aku.

Hujan, aku masih butuh angin kencang dan mendung yang membuat mu ada, aku masih butuh gerimis yang menggandeng mu datang, aku masih butuh petrichor sebagai tanda kamu hadir, aku masih butuh petir yang membuat kamu sekuat ini, aku masih butuh pelangi jalan kamu pulang. Aku masih butuh hujan untuk membuat genangan tempat aku main air, untuk membuat konser musikal dari hentakkan kaki-kaki mu, agar aku tidak lagi sepi bawa semua teman mu kemari.

Jangan pergi ya Hujan, tetap di sini, dalam kemarau sekalipun, tetaplah bertamu di rumahku. Dalam keadaan apapun tetaplah di sampingku, waktu aku bahagia, sedih, sakit hati, jatuh cinta, apapun itu, berbagilah dunia bersama ku.

Surat ini sengaja aku kirimkan untukmu agar kamu cepat-cepat datang kesini. Kalau kamu tidak tau aku, aku itu sedang memakai kaos abu-abu dan celana pendek putih, pakai sandal karet, rambutku berantakan, pipiku kebanjiran air mata. Hujan cepatlah kesini, aku butuh bahumu, aku baru saja jatuh cinta dan sekarang sedang patah hati, tapi aku ingin jatuh cinta lagi.

Surat Kaleng #2 untuk Bapak dan Ibu


Selamat Senja Bapak dan Ibu ku tercinta.

Bagaimana kabar kalian di rumah tua yang juga membantu membesarkan saya itu? Semoga baik-baik saja, seperti anak mu ini yang lagi mencari dunianya sendiri.

Saya tau, Bapak dan Ibu suka sekali dengan senja. Kalau tidak salah, kata Bapak dulu, karena kalau sudah senja Bapak akan pulang dari kerja dan berkumpul bersama keluarga. Kalau kata Ibu, Ibu suka senja karena Bapak pulangnya senja dan dapat bercengkrama dengan hangat bersama.

Bapak tau tidak, saya diam-diam ngefans sama Bapak semenjak saya beranjak remaja dan mengerti sosok laki-laki sesungguhnya. Bapak, doakan saya ya, semoga di sini saya bisa menemukan sosok laki-laki seperti Bapak, yang tanggung jawab, tidak banyak bicara, humoris, mudah bergaul, mau mempelajari sesuatu yang baru, tidak kenal lelah, pantang menyerah, berusaha membahagiakan keluarga, yang paling penting Bapak bisa menjanjikan kepada Ibu bahwa Ibu tidak perlu ragu karena Bapak dan cintanya masih tetap bersama Ibu besok pagi, siang, sore, malam, bertemu pagi lagi, begitu seterusnya.

Oh iya Ibu, kalau saya sudah dapat laki-laki yang saya dambakan, doakan ya semoga kami dapat melanjutkan semuanya kearah yang lebih serius. Secepatnya, saya akan mengunjungi Ibu, saya ingin diajari sesuatu dari Ibu. Ajarkan saya tentang kesabaran, kekuatan, menyembunyikan air mata, membuat senyum palsu, juga cara memasak, bagaimana melipat selimut, apa yang harus dilakukan ketika suami pulang dari kerja, bagaimana cara mempertahankan keindahan ini sampai tua.

Saya tau, waktu membaca surat ini, Bapak dan Ibu akan senyum-senyum sendiri. Ah tidak menyangka sekali kalau saya sekarang sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya. Nanti kalau bisa, waktu saya pulang akan saya bawakan oleh-oleh. Oleh-olehnya entah siapa saya juga belum tau, pokoknya dia itu calon menantu Bapak dan Ibu, dia itu calon suami dari putri tunggal mu ini.

Semoga Bapak dan Ibu merestui.

Surat Kaleng #1 untuk Tuhan di Rumah Baru-Nya


Di surat ini, saya mau cerita sedikit ya Tuhan.

Dulu, saya hampir tidak percaya kalau Tuhan membuat semuanya menjadi lancar begini. Dulu, saya pikir, saya begini sebatas karena usaha saya yang mati-matian, tanpa campur tangan dari Tuhan. Dulu juga, saya belum terlalu mengerti tentang perasaan Tuhan.

Sekarang, saya mulai tau. Tuhan berarti sekali. Tuhan ada di setiap detik waktu saya, di setiap deru nafas saya, di setiap tetes air mata saya, di setiap inci hidup saya. Saya juga tau, Tuhan bisa sakit hati, apalagi kalau sampai ditinggal pergi umat-Nya yang Ia kasihi.

Kemarin entah kapan saya lupa, Tuhan lari-larian bawa koper besar, dalamnya saya juga tidak tau, Tuhan kelihatan terburu-buru sekali, kata sikembar Munkar-Nakir, Tuhan mau pindah rumah ya?

Tuhan tidak kerasan lagi di surga. Tuhan bosan juga tidur di masjid ataupun gereja. Sekarang Tuhan punya rumah baru, rumah baru-Nya di sini, di dalam hati.

Sekarang, sudah tidak perlu jauh-jauh dan berteriak-teriak lagi kalau mau tanya sesuatu kepada Tuhan, ketuk saja pintu hatimu, tanyakan kepada hatimu sendiri, jangan takut salah, Tuhan akan senantiasa membimbing seseorang yang mau membuatkan Tuhan rumah di hatinya. Jangan takut ataupun cemas juga. Tenang saja, Tuhan akan menjaga hatimu sebagaimana Ia menjaga rumah-Nya dulu dengan penuh cinta dan keajaiban.

Sabtu, 19 Februari 2011

Telur Mata Hati


Robin, makanan favorit mu apa sih? Kok aku sampai tidak tau hal sekecil itu ya. Ah bodoh sekali aku.

Lalu, kalau di suatu pagi nanti kamu meminta aku menyiapkan sarapan, aku harus bagaimana? Aku harus memasak apa?

Tidak mungkin kan aku harus lari-lari ke tukang nasi goreng favortimu, ataupun menunggu tukang bubur ayam lewat, atau aku lagi-lagi harus memasak mie instan. Tidak. Tidak mungkin.

Aku harus buat sesuatu yang baru di hidupmu.

Seperti, memecahkan masalah di hidupmu, lalu aku datang sebagai garam agar hidupmu tidak hambar, mencampurkan suka duka kita berdua, memanaskan hubungan setiap hari agar tidak cepat bosan dan tidak monoton, menyongsong masa depan ke arah yang tepat.

Seperti menceplok telor. Telor mata sapi.

Iya, aku buatkan kamu telor saja ya, Robin, untuk sarapan.

Dari telor yang dipecahkan, diberi garam, dicampur, digoreng diatas teflon, lalu di bawa ke meja makan untuk kita nikmati bersama.

Tapi khusus untuk kamu, bukan telor mata sapi.

Aku akan buatkan TELOR MATA HATI.

Bentuknya hati, lucu deh. Biar setiap pagi kamu bisa semangat menyambut hari, juga sebagai simbol cintaku untukmu.

Robin, mau tidak kamu menjadi putih telor dan aku kuning telornya. Dalam keadaan apapun aku akan selalu berada diantara mu, di pelukan mu, dalam lindungan mu.

Jadi, inilah telor mata hati nya. Kalau telurnya sudah habis, kamu boleh menikmati hatiku saja. Ditambah saus juga boleh.

Hamil

Sayang, saya lagi kepingin hamil nih. Tapi saya takut untuk punya anak. Bukan masalah proses melahirkannya, tapi proses bagaimana anak kita nanti tumbuh.

Saya ingin kau berbicara 'Halo selamat pagi, bagaimana di dalam sana, hangat kan? Hari ini mau ayah buatkan sarapan apa?' Iya berbicara seperti itu setiap hari sebangun tidur sambil mengusap-usap perut saya yang masih bermalas-malasan di atas kasur.

Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?


Laki-laki saja ya. Kalau bisa anak tunggal laki-laki.

Saya tidak bisa membayangkan kalau anak kita besok perempuan. Pasti tidak selucu anak laki-laki. Sekarang saja sudah terbukti anak laki-laki lebih humoris daripada anak perempuan. Anak perempuan itu susah sekali di didiknya, terlalu sensitif, suka menyembunyikan rahasia, tidak mau berbagi, kalau di nasihati pasti di dalam hatinya mengomel sendiri, kalau sudah marah pasti akan mengunci pintu dan tidak mau makan, susah untuk diajak berdiskusi, sedikit-sedikit menangis, suka membesar-besarkan masalah. Dan ingatlah, anak perempuan itu manja.

Kalau anak laki-laki kan asik, bisa sebagai anak bisa juga sebagai teman. Tetapi.... Tidak. Tidak. Anak laki-laki kalau sudah main susah pulangnya, kalau di nasihati langsung menyangkal, sifatnya keras, A ya A, B ya B, terus kalau disuruh belajar suka malas, apalagi hobinya waktu beranjak remaja yaitu menonton bokep. Anak laki-laki juga sekalinya dilarang justru seperti disuruh dan dia akan melakukan beberapa hal yang kita anggap negatif dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena mudah sekali bergaul juga mudah sekali hanyut dalam dunia barunya. Saya tidak mau.

Aduh sayang, saya takut punya anak. Saya belum siap, saya belum sesabar ibu saya, belum sekuat ayah saya.

Saya hanya takut kalau saya gagal mendidik anak kita besok-besoknya. Padahal saya ingin anak kita besok lebih bahagia dari orang tuanya dan semoga juga mendapatkan seseorang yang juga mencintainya, seperti kita mencintainya, seperti saya mencintaimu.

Apapun siapapun anak kita besok, saya mau kita berdua mendidik dan membuat dia tumbuh sempurna setiap harinya. Saya juga mau kau mengucapkan kalimat-kalimat baru agar anak kita di dalam perut saya ini menjadi anak yang pantang menyerah, tidak hanya setiap pagi, tetapi juga setiap siang, sore, malam, setiap saat.

Saya hanya lagi kepingin hamil dan hamil dan hamil nih. Saya juga hanya lagi kepingin membuat membuat dan membuat anak nih.

Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Bulan


*Terimakasih Frau untuk inspirasi lagunya

Asik sepertinya kalau kita ke bulan saja.

Aku sudah pernah jelaskan, kita akan terbang ke bulan dengan berpegang erat di tungkai kaki hujan, sampai di bulan pasti sudah malam, tidak apa-apa biar lebih romantis. Berlian sudah merajut dirinya sendiri untuk menjadi jas mu dan gaun ku. Nanti jamuannya keju yang langsung di cuil dari bulan dan madu yang di peras dari bulan madu. Tidak perlu pakai alas kaki, di bulan pasir putihnya halus sekali kok. Tidak perlu dandan juga, pasti nanti akan luntur, bulan kan rumahnya hujan.

Kalau sudah siap semua, kita akan menikah di bulan. Kita duduk berdua di ayunan rotan. Hujan akan jadi penghulunya. Kata hujan, mas kawin untukku darimu itu parfume yang tidak dijual dimana-mana, cuma kamu yang bisa buat dengan bantuan hujan, rumput, dan tanah. Robin, terimakasih ya untuk Petrichor-nya, ini parfume terharum yang pernah aku punya. Oh iya sebentar lagi kamu harus bersalaman dengan hujan si Bapak Penghulu. Dan biarkan Tuhan jadi saksi pernikahan kita. Sebentar lagi Tuhan bilang 'sah'.

Kita akan berpesta di bulan. Cukup banyak tamu yang datang, batu, pasir, debu, angin, biar mereka menikmati keju dan madu dulu. Kita juga masih duduk di ayunan ini, berayun ke depan, ke belakang, sambil berbasah-basahan karena hujan memanggil temannya yang datang keroyokan.

Sebentar lagi kita akan, ehem, kita akan melewati malam pertama. Kita akan bercumbu, hingga bercinta di bulan. Tidak perlu malu, toh tidak ada yang melihat. Daripada bercinta di bumi, sudah tidak nikmat lagi. Lebih nikmat di bulan. Kalau di bulan sepi, ya memang ini resikonya.

Lho Robin, apa kamu belum tau? Kita itu kan sepasang kekasih yang pertama bercinta di bulan.