Kamis, 20 Januari 2011

Saksi Bisu


Kasihan sekali nasib teras belakang ku, sekarang gersang, kotor, rumput liar tumbuh di setiap petaknya. Apalagi bangku kayu panjang itu, banyak sekali debu, akar-akar liar sudah mulai merayap di ke-empat kakinya. Serta meja bundar kecil disebelah kiri bangku yang sebagiannya sudah dimakan rayap, membuat vas bunga ungu itu jatuh, pecah, bahkan tidak ada yang membereskan kepingannya, bunga plastik itupun kini terlihat layu diantara debu.

Seharusnya memang aku. Seharusnya aku yang merawat mereka. Seharusnya aku menghargai mereka. Maaf, 4 tahun belakangan ini aku terlalu larut dalam kesedihan.

Aku sudah tidak tau harus bagaimana. Makan pun aku lupa. Aku terlanjur betah dengan masa-masa 4 tahun lalu.
Masa dimana aku pikir aku sudah dapat berlari cepat dengan mu ke masa depan kita.

Sampaikan berjuta terimakasih ku kepada mereka yang mau menjadi saksi bisu abadi kita.
Pastinya mereka tau, bahwa kita senang sekali duduk dengan menaikkan kedua kaki kita, bercanda, bercengkrama, bersandar di bangku itu.

Saat kamu menarik meja itu ke depan, katamu agar lebih dekat camilan dan kopinya. Dasar doyan makan! Tapi aku suka, suka sekali dengan kamu yang apa adanya, yang tidak seperti teman-teman mu yang sedang mati matian membuat enam kotak di perutnya.

Aku ingat, beberapa kali aku kamu gombali. Kamu selipkan bunga plastik itu di telinga ku yang sebelumnya sudah kamu semprot dengan parfum re-fill mu. Katamu, aku lebih manis seperti itu.

Ada juga saat kita hening. Saat aku mendengar semua cerita dan masalah hidupmu. Jujur, aku belum pernah dan tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya, karena aku akan menjadi satu-satu nya yang tau banyak tentang kamu. Ada juga saat sebaliknya, waktu kamu harus jadi pendengarku, waktu aku sedikit menangis, waktu aku bersandar di pundakmu, waktu aku dapat mendengar suara mu dari ujung pundakmu, waktu kamu tau bahwa pundak mu adalah tempat paling damai di muka bumi ini, kamu lebih terlihat dewasa dari ujung pundak mu seperti itu.

Tapi aku fikir itu hanya kenangan 4 tahun lalu. Bangku, meja, vas, taman belakang dan isinya pasti merindukan kamu, merindukan kita, merindukan aku yang paling merindukan mu.

Baiklah, pagi ini aku akan membersihkan mereka dan merawat mereka lagi, seperti belum pernah ada kamu, kita, seperti belum pernah ada sakit itu. Tapi mereka saksi bisu, mereka menyimpan semuanya dalam bisu, dalam diam, dalam sepi.
Siapa tau ada seseorang yang kehujanan lalu aku tawarkan untuk singgah sebentar, seperti awal kita bertemu dulu, lalu lama-lama akan ketagihan dengan teras belakang ku yang mulai hidup itu, akan aku ulang cerita bersama mu, tapi sekarang tidak dengan mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar