Kamis, 20 Januari 2011

Resah


''Terimakasih, akhirnya kamu datang juga. Telah lama aku tunggu kamu di teras belakangku. Lihat lah, kopi hitam tanpa gula ini yang dulu sempat dingin, kini menjadi hangat kembali. 9 bulan kemarau tanpa jeda, 9 bulan aku duduk di sini, 9 bulan juga ku biarkan kopi ini menemaniku menunggumu''

''Maaf, Cantik, aku telah membuatmu resah menunggu lama, tenanglah aku sudah disini, sudah mengakhiri kemarau ini, mulai sekarang aku akan terus menjengukmu di teras belakang ini, Cantik''

''Lantas, kabar apa yang kamu bawa di pagi buta seperti ini?''

''Hum....''

''Sudahlah, katakan, aku akan menerima apapun kabar darimu''

''Janji ya, Cantik?''

''Iya, aku janji''

''Baiklah, sekali lagi maaf sudah membuat mu menunggu lama. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin melawan kemarau panjang ini, syukurlah akhirnya aku bisa mulai jatuh malam tadi, sudah ku buat se-elastis mungkin tubuhku agar dapat meresap di 'keset selamat datang' tepat di depan pintu kamar kosnya, agar dengan mudah aku dapat merembes masuk dan melihatnya di dalam kamar kos itu''

''Jadi, kamu sudah tau bagaimana dia sekarang? Apa kabar dia?''

''Sudah, tampaknya dia baik-baik saja, lebih baik, maksudku jauh lebih baik dari 9 bulan yang lalu''

''Bagaimanakah juga kabar wanitanya? Wanita yang satu agama dengannya. Wanita yang dia bela mati-matian di depan orang tuanya daripada aku!''

''Aku sedikit tidak tau. Yang jelas ketika aku merembes masuk kedalam selimutnya, hanya ada dia sendiri sedang mendekap erat sebuah foto, bahagia sekali tampaknya dia dan wanitanya di foto itu, dengan gaun dan jas putih abu di depan gereja di ujung jalan sana''

''Oh, mungkin itu adalah hari pernikahannya. Satu lagi, apa kamu tidak menyampaikan pesan ku? Pesan yang ku sampaikan kepadamu 9 bulan yang lalu, bahwa aku sedang mengandung anak, anak dari hasil perbuatannya''

''Maaf Cantik, untuk itu aku tidak bisa. Kamu lupa atau sengaja lupa? Masih ingatkan kalau aku ini HUJAN? Aku hanya bisa memberikan kabar agar kamu tidak resah lagi. Cukup dengarlah langkah ku, rasakan jejak kaki ku, tapi aku tetaplah hujan yang tidak dapat berbicara!''

''Iya, sedikit banyak aku masih ingat siapa kamu''

''Lalu, mana anakmu? Mengapa perutmu datar saja?''

''Anakku yang 9 bulan ini aku pendam, yang 9 bulan ini aku tahan agar tidak lahir sampai aku mendapat kabar tentang dia darimu, akan segera aku lahirkan, di depan mu, di depan kopi ini, di teras belakang ini juga, akan aku lahirkan agar aku lega dan tidak resah, aku akan lahirkan lewat mataku yang sedari dulu sudah mengantung ini. Hujan, jaga dia baik-baik, tetaplah merembes masuk ke dalam kamar kosnya, ke dalam selimutnya, ke dalam hidupnya, lalu kabari aku, aku tunggu kamu di sini, satu kemarau lagi''

''Baiklah Cantik. Sudah, sudah, jangan menangis, jangan kau biarkan anakmu membasahi pipimu''

Itu terakhir kali aku bercakap dengan hujan, sudah berkali kemarau pendek berlalu, aku tunggu dia disini, tepat di teras belakang saat aku menulis ini, sampai detik ini pun hujan tak juga datang.

Atau hujan takut melihatku sedih?
Atau hujan ingin hanya hujan saja yang menitikkan air?

Untuk terakhir kali sebelum aku berangkat ke Masjid, sebelum kebaya ini lusuh, sebelum sanggul ini jatuh, sebelum dandanan ku luntur, sebelum....ah sudahlah kasihan Bapak Penghulu sudah menunggu lama. Baiklah Hujan, jagalah dia, jagalah wanitanya yang seharusnya itu aku, jagalah anak-anaknya, jagalah mantan calon keluarga cantikku itu. Agar aku tidak lagi resah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar