Sabtu, 22 Januari 2011

#Pelajaranhujan #1 Ikhlas Seperti Gerimis

''Ini gerimis ya, Wik?''
''Ah masak, Pung? Ngga kelihatan kok''
''Tapi kerasa kan, Wik?''

Benar-benar aku tertarik dengan percakapan kecilku bersama Dewik, teman sekelasku, sepulang sekolah Sabtu itu.

Mungkin aku itu seperti gerimis.
Gerimis yang terus-terusan menangis.
Sepertinya siang itu gerimis sedikit malu, untuk menunjukkan rupanya. Atau jangan-jangan siang itu gerimis belum mengaca? Gerimis belum berdandan? Bahkan gerimis juga lupa betapa cantiknya dia?

Bukan itu. Bukan itu semua. Gerimis sengaja tidak menunjukkan tubuhnya yang semampai, tungkai kakinya yang panjang seperti biasanya, karena gerimis takut. Gerimis takut orang-orang menjadi takut. Jika gerimis turun dengan lebatnya, semua orang yang dia harapkan untuk menemaninya sebelum hujan turun akan berlari cepat-cepat, akan mencari tempat yang tepat, untuk sekedar melindungi diri dari gerimis yang menyayat, dan tidak lagi menemani gerimis yang kilat.

Gerimis tidak ingin itu semua terjadi. Gerimis ingin tetap ada orang-orang yang mau menemaninya, terutama seseorang yang dia bela mati-matian agar tetap bisa menetes dan menyentuh sedikit tepat di tangan pujannya. Walaupun setelah itu pujaannya akan mengibaskan ataupun mengeringkan tangannya ataupun juga akan membiarkan gerimis menetes perlahan di tanah dengan sia-sia, gerimis tetap bahagia. Paling tidak, gerimis bangga telah berjuang untuk mimpi dan harapan-harapannya, telah berhasil mengalahkan gerimis-gerimis yang lain, untuk sekedar menetes di tangan pujaannya.

Jujur, tidak jauh beda dengan aku. Aku takut untuk bersedih. Takut untuk menunjukkan kesedihan ku kepada mereka, kepada kamu. Kalau aku sedih, aku takut kamu akan....sudahlah. Beberapa hari yang lalu aku juga seperti gerimis, aku tetap tertawa, tetap bercanda, tetap menyembunyikan semuanya. Paling tidak agar kamu tidak bosan. Paling tidak kalau kamu tidak bosan aku bisa menahan mu untuk duduk di sini lebih lama, untuk mengumpulkan nyaliku untuk menyentuh tanganmu lebih dulu. Ah tapi apa. Kamu justru tidak tau, tidak sadar dengan semuanya. Sekali lagi aku kecewa karena sekali lagi kamu buru-buru pergi dari bangku ini untuk segera menjemput kekasih mu yang jauh di sana.

Saat itu juga datang gerimis, aku menangis, membuat suasana sedikit romantis, sayangnya tidak ada kamu yang manis yang duduk di sampingku persis.

Benar-benar seperti gerimis. Walaupun terkadang tidak terlihat tetapi masih bisa dirasakan keberadaanya.

Kalau begitu, aku akan belajar banyak tentang ke-ikhlas-an melepas seseorang yang sudah aku perjuangkan mati-matian, dari gerimis, seperti gerimis. Aku tunggu kamu, gerimis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar