Sabtu, 22 Januari 2011

Panadol Merah, Obat Untuk Hati Patah


Malam ini aku tidak seperti biasanya, yang biasa memainkan jempol kaki ku di petakan tanah di teras belakang ku, yang biasanya sudah tambah segelas kopi pahit lagi. Malam ini aku reflek menaikkan kaki ku di bangku panjang itu untuk aku luruskan keduanya, membiarkan kopi itu dingin sia-sia. Tidak tau kenapa. Dan aku masih tetap saja bersantai di sana, karena aku memang sedang butuh santai. Padahal jempol-jempol gerimis telah sedikit bermain di pipiku.

''Ibu juga perempuan''

Kata Ibu yang menyusulku, menidurkan kepalaku di pangkuannya. Berjam-jam kami berdua terdiam. Untuk kali ini aku sedikit gengsi untuk menceritakan patah hatiku yang kesekian kali. Ibu tetap sabar, mengusap-usap dahiku yang, jujur, sedikit membuat aku lebih tenang.

Aku lihat dari ujung wajah Ibu. Ibu melihat jauh ke arah depan, tapi pandangannya kosong. Seperti seseorang yang rindu sekaligus menyesali masa lalunya. Seperti ada satu kalimat yang belum Ibu ungkapkan kepada seseorang. Seperti remaja yang sedang patah hati. Seperti aku, anaknya, pada malam ini.
Aku takut Ibu mengingat-ingat kembali luka hatinya dulu. Baiklah daripada seperti ini, aku akan memulai pembicaraan.

''Ibu....''

''Sudah sudah, Ibu tau''

Ibu masuk meninggalkan ku sendirian di teras belakang. Untung ada gerimis yang menemaniku. Sesaat Ibu keluar, membawa segelas air putih dan Panadol Merah, katanya waktu Ibu sedang seperi aku, Ibu meminum satu kaplet Panadol Merah, tetapi Ibu tidak menceritakan bagaimana hasilnya.
Ya sudah. Aku minum. Aku percaya Ibu.


Paginya, aku terbangun. Sudah benar-benar merasa tenang. Aku berhasil melupakan semuanya. Aku nafsu makan lagi, aku menghentikan tukang bubur ayam itu lagi, aku memainkan jempol kakiku di petakan tanah di teras belakang ku lagi, aku melewati hari dengan kopi pahit lagi. Tidak tau kenapa.

Apa karena Ibu yang membagi pengalamannya dalam diam jauh dari dalam matanya? Apa karena aku tidur karena lelah? Apa karena Panadol Merah? Yang jelas, diam-diam di sana ada sejarah, antara Ibu, hati yang patah, dan Panadol Merah. Aku berjanji, seperti yang mata Ibu katakan kepadaku, aku tidak akan menyerah ketika hatiku patah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar