Selasa, 18 Januari 2011

Mutiara Hitam Ku

Dia mutiara hitam ku. Jangan merendahkannya, jangan menganggapnya sepele.

Aku dan dia sama-sama senasib. Banyak sekali kendala di perjalanan kami. Dari suka, duka, tertawa, sampai menangis. Mungkin setengahnya kalian tidak percaya kalau dia dapat menangis.

Dia lebih sering menitikkan air mata dari pada aku. Tapi kenyataannya, aku lebih lemah, aku lebih mudah galau daripada dia. Aku mulai tau, dia menangis bukan berarti dia lemah, justru kuat, dia dapat melepaskan bebannya melalui air mata dan setelah matanya kering dia akan berkata ''Selamat tinggal air mata'' lalu melanjutkan bercandaan kami yang sempat tertunda tadi.

Sedikit banyak aku mulai mengenal dia. Dari jiwanya yang jantan sampai raganya yang macho. Yang aku maksud jantan adalah sifat jantan yang benar-benar bertanggung jawab, siap menerima resiko, dan tidak asal dalam menjalani hidup. Seperti contohnya, dia tidak mau asal mengikuti sebuah seleksi untuk coba-coba peruntungan, karena menurut dia tidak ada gunanya kalau tidak dapat memetik hasil maksimalnya. Jadi, wanita pun juga dapat bersifat jantan, tetapi tidak semua laki-laki juga jantan.

Belum ada seperempat windu kami kenal, aku sudah dapat banyak pelajaran hidup dari dia. Terutama yang selalu aku ingat bahwa Tuhan tidak pernah tidur, ber'komitmen'lah kepada Tuhan untuk motivasi dan penambah semangat. Jika memang sudah waktunya, Tuhan akan menukarkan komitmen mu yang lalu dengan keindahan hidup. Tunggulah saja.

Seperti mutiara hitam asli, ketika kau merawatnya dengan baik maka akan tampak keindahannya, bahkan lebih indah dari mutiara putih yang pasaran itu.
Ya, coba tatap matanya dalam-dalam, berbicaralah dengan matanya, kau akan tau betapa cantik hatinya, betapa tulus cinta & perhatiannya, betapa wanita-nya dia.

Sekali lagi aku tegaskan. Dia mutiara hitamku, tidak peduli angin topan yang dapat membelai rambutnya. Tidak peduli bagaimana otot lengannya yang dia perlihatkan kepadaku setiap tengah pelajaran yang membosankan. Tidak peduli bagaimana suaranya yang dia pamerkan setiap bernyanyi tepat ditelinga ku. Tidak peduli SriRatu Swayalan adalah tempat favoritnya. Tidak peduli kepada mereka yang berkalung mutiara putih mewah.

Dia tetap mutiara hitamku. Teman senasib ku. Penambah pelajaran hidupku. Teman sebangku ku. Ruthana Priskila Rumaropen ku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar