Senin, 17 Januari 2011

Latihan Jalan



Pernah melihat seseorang latihan jalan lalu terjatuh? Yang jelas, dia bukan jatuh dengan sendirinya, dia dijatuhkan orang lain yang terukir pada setiap inci hatinya, dijatuhkan dengan mimpinya sebagai perantara, pujaannya itu menjatuhkan dia dengan sengaja.

Di otaknya juga di hatinya, dia bingung. Sangat bingung. Setengahnya tidak percaya. Selebihnya dia mulai malas bermimpi.

Apakah dia harus duduk terjatuh tersungkur dengan memangku semua mimpi kelabunya sambil menangis berharap pujaan hatinya tadi yang sudah berjalan dengan bidadarinya kembali untuk membangunkan dan membimbingnya latihan jalan lagi?
Atau harus berusaha bangun sendiri, mengumpulkan keping-keping mimpinya untuk disatukan dan diperkuat?

Tuhan memberinya jawaban. Ketika dia ditengah persimpangan. Dia memilih jawaban kedua dengan satu alasan yang sangat kuat.
Seingatku dia berkata ''Aku akan lebih memilih bangun sendiri, latihan jalan sendiri, siapa tau di sana ada seseorang yang menginginkan wanita tegas, tegar, kuat, mandiri, dan dia yang akan sepenuhnya membimbingku latihan jalan bahkan mengajakku lari mengejar surga dunia kami, melewati pujaan hatiku yang mendadak bosan dengan bidadarinya, seperti dia bosan denganku dulu. Dan kalau sudah seperti itu, aku hanya akan melambaikan tangan, oh atau mungkin berhenti sejenak untuk mengenalkan pemilik hatiku yang baru kepadanya''

Sepertinya cukup sekali saja latihan jalannya, karena berkali jatuh itu sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar