Kamis, 20 Januari 2011

Kacamata




Sepertinya mata kamu minus.
Aku perhatikan kamu harus menyipitkan matamu untuk melihat dari jarak jauh, ya kalau menurutku dari bangku mu hingga papan tulis itu bukan jarak yang terlalu jauh. Ah sudahlah jangan perdebatkan tentang itu.

Bagaimana dengan kaca mata? Apa cukup membantu kamu?
Kalau iya kenapa sore itu kamu harus berkunjung ke teras belakang ku, kenapa kamu tidak memanfaatkan waktumu untuk periksa di optik pinggir jalan sana?

Aku merasa bersalah sekali, waktu itu telah menyuruh mu datang hanya untuk memamerkan kepadamu bagaimana aroma tanah dan rumput sehabis hujan siang itu.

Aku tawarkan, boleh aku menjadi kaca mata mu?
Akan aku bantu menunjukkan padamu betapa indahnya hidup, betapa cerahnya dunia, betapa cantiknya aku :)

Cukup letakkan saja aku tepat di depan kedua mata mu, letakkan di sana, di dekat otak mu, agar kamu selalu mengingat aku. Di dekat telinga mu agar kamu selalu mendengar suara hatiku. Di atas hidung mu agar aku bisa merosot dan jatuh tepat di mulut mu. Ups... Sudahlah abaikan.

Percayalah, aku serius, aku akan bantu masalahmu yang satu itu. Atau kalau kamu takut jelek dan culun ketika menggunakan kaca mata --sebenarnya kamu tetap ganteng, menurutku-- aku akan bantu dengan cara lain.
Akan aku beri kamu bisikkan-bisikkan kecil, seharmoni suara hujan saat jatuh di atas genteng, aku akan bantu menunjukkan padamu bahwa di depan sana banyak masalah yang harus kamu pecahkan, bahwa di depan sana ada masa depan kita, bahwa di samping mu ada seseorang yang selalu membisiki mu yang aku pikir dia jatuh cinta kepadamu...

Aku bisikkan sekali lagi, sepertinya mata kamu minus walaupun kamu selalu plus buat aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar