Senin, 24 Januari 2011

Berkhayal


Saya hanya suka berkhayal.
Dari kecil hingga sekarang. Atau mungkin semua wanita Cancer memiliki ciri khas suka berkhayal seperti saya ini? Tidak juga. Saya saja yang terlalu berlebihan. Ya mau bagaimana lagi. Saya memang suka, saya cinta untuk berkhayal. Karena saya hanya bisa tenang saat saya bermain dengan khayalan-khayalan saya. Di sana saya yakin, bahwa suatu saat saya dapat menjadi 'khayalan' saya.

Dulu waktu kecil saya sering sekali berkhayal masuk ke dalam laut dan saya ingin menjadi Ariel, Little Mermaid dambaan saya. Saya ingin ekor saya bewarna ungu. Rambut terurai lepas. Sungguh tidak masuk akal. Sebenarnya masih banyak lagi yang masih terpendam di pikiran saya itu. Seperti menjadi Barbie, dapat masuk ke dunia Princess, tinggal di castle itu. Diselamatkan oleh pangeran, dan happily ever after.

Percayalah sayang, sekarang khayalan saya lebih bermutu dan masuk akal.

Saya berkhayal untuk menjadi wanita bisnis yang sukses, sukses di dunia bisnis dan sukses menjadi ibu dari anak-anak kita. Tidak seperti waktu kecil yang hanya berkhayal menjadi ibu rumah tangga, dengan dandanan menor, lipstik merah menyala, memakai baju kondangan Ibu saya, sepatu pink banyak mani-maniknya, ya pokoknya dandan yang tidak mutu. Saya juga ingin pandai memasak, membuat menu-menu baru yang dapat membuat warna-warni hidupmu. Melepas dasi mu, melepas high-heels ku, menyimpan koper mu, menyimpan tas ku, menyiapkan selimut hangat untuk kita.

Sayang, bagaimana dengan anak?
Kau menginginkan anak berapa? Kalau saya hanya ingin satu, anak tunggal, seperti saya ini.
Lalu, jenis kelaminnya? Kalau saya ingin laki-laki, sayang. Supaya kelak kau dapat menitipkan saya kepada anak kita ketika kau harus pergi tugas, ketika kau pergi jauh, ketika kau pergi dan tidak akan pulang kembali.
Sayang, untuk anak kita nanti cat temboknya, bajunya, sepatunya, semuanya biru saja ya. Sepertinya lucu, bukannya kau suka merah, jadi ketika merah dan biru dicampur akan menjadi ungu warna foavorit saya. Bahagia sekali rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang saya sayangi.

Oh iya sayang, bagaimana jika kita membuat anak sekarang saja. Membuat anak dalam khayalan saja. Menikah dalam khayalan saja. Berpacaran, berkencan, berbagi tawa dan duka dengan mu dalam khayalan saja.
Berkhayal dalam khayalan saja.

Sayang, boleh khayalan itu saya bumbui sedikit harapan dan usaha? Benar, boleh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar