Minggu, 16 Januari 2011

Tidur (curutsalto)


2008

Aku melihatmu tidur. Memandangi setiap raut yang ada, kelopak yang terpejam, dan kepolosan wajah yang menanggalkan semua masalah hidup, terutama rasa sakit itu.. Keringat mulai membulir pertanda suhu badanmu normal perlahan. Kamu tidur menghadapku dan masih menggenggam tanganku, tidak...aku tidak akan kemana-mana, karena digenggaman inilah perasaanku selalu berpulang. Nafasmu menderu tanpa terburu-buru...hangat. Istirahatlah, hingga esok kamu menemui ragaku tetap di sini, menjagamu. Cepat sembuh dan temui aku dengan kegilaan yang baru.

2009

Sekali lagi melihatmu tidur. Dengan tangan kanan terkalung di perutku, dan kepala menyender di bahuku hingga aku bisa tetap terjaga menikmati aroma rambutmu. Setiap sisi kulit kita bersentuhan halus...setiap sisi, tanpa terhalang apapun. Aliran darah di setiap nadiku masih melaju cepat. Aku masih bisa merasakan hangat lidah, lembut bibir, lekuk tubuh dan apapun itu yang menjadikan setiap detik malam ini terasa nikmat. Tak percaya malam ini kita terpaut...aku denganmu. Aku mencintaimu...dengan emosi dan logika. Selamat tidur. Tenanglah bersamaku hingga umur kita habis.

2010

Sekali lagi melihatmu tidur. Dengan pipi menggelembung dan perut buncit. Di dalamnya ada seorang lagi yang kucintai, entah siapa namanya...belum terpikirkan. Aku berusaha mencerna kesederhanaan cinta ini dengan sebaik-baiknya. Memeluk dua orang kucintai sekaligus tanpa menyisakan jarak, sungguh sebuah penawar segala rasa sakit yang pernah ada. Hangat. Kamupun tersenyum dalam tidur. Entah apa yang ada di dalam mimpimu, aku tak tahu. Semoga aku yang selalu ada di sana.

2011

Sekali lagi melihatmu tidur. Lucu sekali melihatmu pulas dengan mulut terbuka. Seakan menjadi gerbang keluar bagi keletihanmu yang teramat sangat hari ini. Keletihan yang ditentang habis-habisan oleh kesabaran. Menggantikan popok, menyusui, bercanda, menidurkan, dan beribu kegiatan yang kau salurkan dengan kasih sayangmu...untuk anak kita.Guratan ketulusan itu terus tertoreh di wajahmu malam ini. Aku bangga mencintai seorang pencinta.

2013

Sekali lagi melihatmu tidur. Dan hai, kita masih di sini...menikmati hidup. Apa kabar kiamat 2012 yang diselenggarakan para penganut kalender Maya? Itu tidak penting, yang terpenting aku masih di sini berbagi setiap detik denganmu. Kamu membalikkan badan memunggungiku. Ada raut kekecewaan di sana. Aku, si manusia tak sempurna, telah menyisakan kekesalan mendalam di hatimu. Aku hanya bisa terdiam. Memandangmu ditemani keheningan malam adalah luar biasa. Membawaku ke alam pemikiran untuk selalu membenahi kesalahanku dengan segera. Aku hanya bisa mencium rambut belakangmu malam ini, dan mengisi mimpimu dengan bisikkan ”Maaf”.

2035

Sekali lagi melihatmu tidur. Dengan kulit menua dan rambut putih menyembul. Kita masih di sini...masih menggilai satu sama lain. Ketidaksempurnaan makin tercetak di wajah masing-masing. Setiap raut keriput menceritakan sejarah. Punggung tanganku mengelus pipimu dengan hati-hati, tidak ingin mengusik mimpi indahmu di sana. Sekali lagi kamu menyunggingkan senyuman. Membuat sudut bibirku tak kuasa bergerak membentuk simpul bahagia. Damai. Sekarang kita kembali berdua. Si kecil berkembang dan kini sudah memiliki cinta sendiri. Mencintai seorang yang juga mencintainya. Seperti kita mencintainya. Seperti aku mencintaimu.

Entah kapan

Giliranmu melihatku tidur. Tidur panjang...dengan senyum ikhlas kaku terpajang. Jangan menangis, isteriku sayang. Waktuku sudah habis. Tapi cinta ini takkan pernah habis. Kecup keningku terakhir kali...dalam-dalam. Agar cintamu ikut bergulir menemaniku di sana dalam diam. Seperti selama ini...dan setiap malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar