Senin, 31 Januari 2011

#Pelajaranhujan #6 Genangan Kenangan


Cinta itu seperti genangan air hujan.
Padahal waktu yang terus berjalan sudah membuat hujan berlalu cukup lama, tapi genangan air hujan itu masih tetap ada. Masih setia mengisi rongga-rongga tanah. Sepertinya memang enggan untuk enyah dari sana, sudah terlalu betah, mungkin. Oh atau genangan air hujan itu ingin membuktikan bahwa hujan pernah datang, pernah membawa kebahagiaan, pernah membagi bahunya, pernah mendengarkan lagu-lagu favorit mereka bersama. Genangan itu ingin sekedar menyimpan kenangan, yang memang tidak bisa hilang.

Genangan kenangan. Genangan cinta. Genangan air hujan. Semuanya seolah ingin menunjukkan, ingin berbangga, ingin sedikit memamerkan, bahwa seseorang dulu pernah duduk di sini, di bangku jati ini, kami saling berbagi dunia kami, tidak ada bosannya, mengerjakan tugas sekolah pun sering bersama, apapun, semuanya masih tersimpan di genangan kenangan ini.
Saya tegaskan, saya biarkan genangan kenangan ini masih tetap ada, masih mengisi rongga-rongga otak saya, masih menyimpan semuanya, hanya sebagai bukti bahwa paling tidak seseorang itu pernah hadir.

Tapi saya sarankan, genangan air hujan itu jangan terlalu lama di pelihara nanti hanya akan menjadi lumpur, becek, dan menjijikkan, dan bahkan pemilik genangan itupun malas untuk menyentuhnya untuk memikirikannya lagi. Biar saja mengering dengan sendirinya.

Percayalah, setiap hujan yang jatuh akan membuat genangan air yang berbeda satu dengan lainnya, seperti mereka yang berlalu lalang di hidup saya juga membuat genangan kenangan dengan cara mereka sendiri, yang jelas mereka, dia, kamu, seseorang itu pernah hadir di dunia saya, ini buktinya, genangan kenangan ini.

08:08 (H)




Sudah sejak lama aku jatuh cinta dengan detik. Aku rela untuk tidak tidur hingga malam, hingga rumah ku sunyi senyap, hingga aku bisa berkencan berdua dengan suara detik, tik tik tik, damai sekali rasanya.


Aku suka suara detik berjalan. Tapi aku benci kalau waktu harus berjalan. Bukannya detik itu bagian dari waktu? Apapun itu aku benci sekali bertemu pagi. Aku benci harus berkejaran dengan waktu, sudah tau aku tidak bisa lari. Waktu hanya membuat semuanya terlalu buru-buru. Jangan berlebihan, tolong.

Tapi belakangan ini aku sering memperhatikan waktu, dari jam menit hingga detik.
Aku hanya tidak ingin melewatkan 'stupid freak timing syndrom of teenagers'. Aku hanya tidak ingin melewatkan 08:08, ketika aku melihatnya inisial 'H' sedang merindukan ku, atau 14:14 'N' atau yang lainnya, urutkan saja untuk mencari inisialnya.

Kata mereka juga, harus melihatnya secara tidak sengaja, jangan di buat-buat, jangan di pas-paskan. Untuk kali ini aku ingin sedikit bermain, sedikit berbohong, sedikit membuat diriku tenang, aku ingin menunggu melihat handphone ku terus menerus agar aku dapat melihat tepat pukul 08:08.

Apapun itu, syndrom itu hanya permainan belaka, tetapi apa salahnya di coba, bukannya setiap permainan ada pemenangnya, setiap pemenang akan mendapat hadiah, dan jika aku menang hadiahnya sudah pasti kamu.
Sampai bertemu di pagi selanjutnya, aku tunggu pukul 08:08 ah apakah kamu juga suka menunggu untuk melihat tepat pukul 16:16 P seperti inisial namaku yang selalu merindukan mu.


Tidak Ada Yang Tau


Tidak ada yang tau kalau jantungku suka memberikan sinyal ketika kamu datang dan melewati daun pintu kelas kita. Tidak ada yang tau aku suka malu-malu duduk di bangku ku. Tidak ada yang tau aku ingin duduk di ujung kelas bersebelahan dengan kamu. Tidak ada yang tau ketika aku menikmati kipas angin di ujung kelas aku juga sedang menikmati wajah mu.

Tidak ada yang tau hidungku suka sensitif ketika mencium bau parfume mu, sekali aku menciumnya, aku benar-benar tidak bisa lepas. Tidak ada yang tau aku ingin memainkan pipi mu yang berjerawat itu. Tidak ada yang tau aku suka ketika kamu menggunakan semacam jaket atau apapun itu yang menutupi seragam sekolah mu. Tidak ada yang tau aku juga ingin membeli sepatu Converse seperti milik mu. Tidak ada yang tau aku takut meminjam handphone mu, aku takut cemburu, di sana hanya ada foto pacarmu, sms dari pacarmu, bahkan merk handphone mu pun kamu ganti nama pacarmu, tidak ada yang tau aku takut cemburu.

Tidak ada yang tau aku suka memperhatikan kamu ketika menulis, kamu masih setia dengan huruf latin yang di ajarkan Ibu guru sepuluh tahun lalu. Tidak ada yang tau ketika berdoa sebelum pelajaran di mulai, aku berdoa agar hari ini, delapan jam pelajaran ini, kamu duduk di sini, di sebelahku. Tidak ada yang tau ketika berdoa sebelum pulang, sebenarnya aku bukan berdoa, aku hanya sedikit protes kepada Tuhan, mengapa hari ini Tuhan tidak lagi memberi izin aku untuk duduk bersamanya.

Tetapi aku tidak ingin kamu tau kalau aku ini sedang jatuh cinta, aku hanya malu, takut lebih tepatnya jika semua tidak sejalan dengan apa yang aku mau. Tapi kalau kamu mau, kamu boleh cari tau. Cukup, biarlah aku menyimpan semuanya sendiri agar tidak ada yang tau.

Tidak ada yang tau, kamu pun juga tidak tau, bahwa aku satu satunya yang tau banyak tentang kamu. Tau?

Cermin


Dasar cermin sialan! Kan aku sudah pernah bilang, ketika nanti aku bercermin jangan tunjukkan rupa asliku.

Cermin, apa kamu benar-benar tidak bisa membuatku tidak seperti ini? Atau kamu sengaja mempermalukan aku di depan dia?
Hilangkan atau paling tidak minimalkan lemak yang mengukir di setiap sudut tubuhku, lemak-lemak itu hanya akan membuatnya risih. Aku tidak mau dia kecewa dengan segala ketidak sempurnaan yang aku miliki. Aku ingin membuat dia bangga waktu kami sedang berjalan-jalan. Aku ingin dia memamerkan ku kepada semua temannya, keluarganya, kepada dunia.

Tapi apa? Apa kamu tidak sadar? Kamu membuat semua khayalan ku pecah, Cermin.

Seharusnya, waktu itu, aku tidak bercermin kalau pada akhirnya membuat ku malu dan tidak percaya diri seperti ini. Aku hanya tidak ingin di ingatkan kalau aku itu sangat memalukan, aku tidak suka itu, dan ketika aku bercermin seolah cermin mengingatkan dan membuktikan bahwa aku ini benar-benar seperti itu.

Benar juga kata orang ''Mirror Never Lies'' tapi Cermin, boleh satu kali ini, kali pertama aku berkencan dengannya, aku ingin bercermin, tunjukanlah aku yang bukan aku, berbohonglah satu kali saja, agar aku percaya bahwa aku punya yang gadis-gadis lain punya. Ya, semacam tubuh yang indah.

Kalau Cermin memang tidak bisa ya sudah, maaf, akan aku pecahkan, akan aku buang di selokan di samping kamarku, seperti aku membuangnya jauh-jauh, membuang dia yang hanya menilai wanita secara fisik.

Ya memang lebih baik seperti itu kan? Aku tidak bercermin, aku tidak malu terhadap diriku sendiri, aku tidak mengumpat cermin, aku tidak mulai berkhayal, dan sepertinya aku tidak jadi berkencan.

Senin, 24 Januari 2011

#PelajaranHujan #5 Ini Anak Tunggal Laki-Laki Kita


Perkenalkan, ini anak tunggal laki-laki kita. Yang kamu tinggal pergi ketika aku hamil tua. Tuhan menjawab doa kita, ini laki-laki sayang, doaku doamu, seperti harapan kita dulu.

Tampan ya. Rambutnya lebat, badannya kekar, lengannya berotot, betisnya tungkainya panjang, sepertinya besok ia akan menjadi anak populer di sekolahnya, seperti ayahnya dulu.

Jadi, sekarang kamu akan pergi lagi? Kalau boleh tau sebenarnya selama ini kamu pergi kemana? Tidak perlu kamu jawab jika kamu pergi bergantian dengan mantan-mantan mu dulu!

Tidak apa-apa. Pergi saja. Apakah kamu lupa apa tujuan utama kita dulu berdoa untuk anak laki-laki? Bukannya anak laki-laki itu untuk menemani, untuk menjaga. Tenanglah, sudah sejak dari dalam kandungan dulu ia sudah menjaga ku. Apalagi ketika ia sudah lahir, pasti akan lebih ekstra untuk menjaga ku.

Percayalah, ketika aku sedang sendiri dalam sepi, anak kita datang ke teras belakang rumah kita, ia menari dengan teman-temannya yang lain. Oh iya, ia juga mengikuti sifatmu yang mudah bergaul. Anak kita lucu sekali. Ketika ia sudah cukup lelah ia akan menetes perlahan di kulitku, katanya ia ingin segera tidur, ia sudah sangat lelah. Ingat-ingatlah, ketika anak kita akan bangun ia ditemani dengan angin kencang dan langit gelap dan ketika mau tidur kembali ditutup dengan pelangi.

Percayalah, titipkan aku kepada anak laki-laki kita yang jantan itu. Karena selama ini anak laki-laki kita yang tampaknya hujan itu belum pernah menyakiti ku, belum pernah meninggalkan ku sendiri, selalu membuat aku nyaman, selalu menunggu ku datang ke teras belakang.

Kalau begitu terserah kamu mau mengakui atau tidak bahwa ini anak tunggal laki-laki kita, maksudku anak tunggal laki-laki ku, karena mungkin ini anak laki-laki bungsu mu sebagai anak terkecil yang baru saja lahir dibanding kakak-kakak tirinya dari ibu yang lain.

Tetapi yakinlah, hujan adalah tau terimakasih. Mungkin suatu saat hujan akan balas dendam kepadamu yang sudah menyakitiku sebagai ibunya ini, yang menyayanginya mencintainya selama ini.

Perkenalkan ini Hujan anak tunggal laki-laki ku.

#PelajaranHujan #4 Aku Sudah Setia Seperti Pelangi


Awalnya aku sungguh putus asa. Aku fikir akulah orang paling sia-sia. Sesaat aku memutar lagu lagu yang dulu sempat hits sebagai soundtrack hidupku, seperti Lirih-Chrisye, Laguku-Ungu, dan hei Desember-Efek Rumah Kaca.

Aku mulai terbuai, aku putar berulang kali lagu Desember itu. Aku sangat hafal potongan liriknya yang ini
''...seperti pelangi setia menunggu hujan reda...''

Benar, betapa setianya pelangi. Dari dulu apakah kamu belum juga sadar bahwa aku ini seperti pelangi? Walaupun tidak secantik pelangi. Tetapi aku cukup setia, aku setia seperti pelangi.
Aku setia sms kamu setiap malam seperti 'Besok ada tugas apa?' 'Besok ada PR?' yang sebenarnya alibi belaka dan parahnya kamu tidak pernah membalas yang seringkali aku tunggu sampai pagi.
Aku setia membawakan kamu sebotol air mineral yang sama sekali kamu tidak pernah minta.
Aku setia menasihatimu yang akhirnya tidak pernah kamu pedulikan semuanya.
Aku setia mengingatkan kamu agar tidak memilih tempat duduk dipojok kelas di bawah kipas angin karena itu hanya akan membuatmu mengantuk dan malas untuk mengikuti pelajaran tapi kamu justru sering sekali tertidur di dalam kelas.
Aku juga masih setia kepadamu yang bukan siapa-siapa ku ini.

Pelangi, malang sekali nasib kita. Sepertinya, kesetiaan mu juga tidak bermanfaat seperti kesetiaan ku. Terkadang kamu harus menunggu kemarau panjang demi hujan, demi hujan yang hanya dapat membuat mu ada, tapi apa? Seringkali semua itu sia-sia, seringkali matahari tidak berpihak kepada semuanya, kepada sebuah kesetiaan, penantian, harapan, semuanya!!! Matahari terkadang terlalu pelit untuk sekedar membagi cahayanya agar warna-warni pelangi dapat terpancar indah, paling tidak sebagai upah atas kesetiaan pelangi selama ini.

Iya aku tau, kesetiaan kita memang tidak butuh upah. Baiklah, apa salahnya jika aku dan pelangi sama-sama berharap kesetiaan ini tidak sia-sia dan kesetiaan ini dapat terbalaskan. Tidak salah bukan?

Pelangi, aku sudah tidak merasa sia-sia, aku harap kamu juga. Walaupun terkadang semuanya menjadi sia-sia.
Pelangi, aku akan berjanji bahwa aku akan tetap setia kepadanya, seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda.

Pelangi, aku berjanji. Aku akan setia kepada kesabaran yang setia untuk hal yang sia-sia ini. Aku berjanji, kamu mau berjanji juga kepadaku kan, pelangi?

Rumah Kenangan


Selamat datang di rumah kenangan milik saya ini. Bentuknya tidak beda jauh dengan rumah tua milik nenek saya yang sampai sekarang saya tinggali. Di sana sama-sama ada halaman yang cukup luas, di tanam berbagai bunga, dari anggrek ungu yang cantik, mawar yang pura-pura baik justru berduri, hingga kaktus yang menunjukkan ketegarannya. Ada juga teras belakang favorit saya, sebetulnya di sanalah saya biasa memendam dalam-dalam semua rasa sakit yang pernah saya rasakan. Ada kamar cat ungu yang membuat saya nyaman. Ada kamar mandi, tempat dimana imajinasi dapat bermunculan, makanya jangan kaget jika saya berlama-lama di sana. Ada juga gudang, semua yang rapuh, yang sekiranya sudah tidak penting, saya masukkan ke sana.

Memang tidak jauh beda. Hanya ada satu perbedaan. Rumah asli saya ada di dunia nyata, semua orang dapat melihatnya. Rumah kenangan saya ada di sini, di dalam hati saya, tidak bisa dilihat, hanya dapat dirasakan ketika kau jauh melihat jauh ke dalam mata saya.

Yah seperti inilah rumah kenangan saya. Banyak debu karena memang tidak pernah saya sapu, saya hanya tidak ingin semua kenangan pahit kita hilang begitu saja, saya juga sengaja tidak menyimpannya ke dalam gudang ataupun memendam sedalam mungkin di teras belakang saya, pasti kau sudah sangat tau apa alasannya.

Wah, sepertinya terlalu banyak jika saya ceritakan siapa saja penghuni yang sampai sekarang terkunci, atau lebih tepatnya saya kunci di rumah kenangan saya. Ada yang seperti anggrek ungu, baik sekali, sampai saya merasa tidak enak dan risih. Ada yang seperti kaktus, yang kalau berbicara asal saja, egois, tidak tau bagaimana perasaan saya. Ada juga yang seperti mawar, luarnya sangat baik tetapi dalamnya lebih menyakitkan daripada kaktus.

Mulai sekarang, terserah kau saja. Jika kau menjadi anggrek ungu akan saya rawat baik-baik di dalam kamar ungu saya, jika kau menjadi kaktus akan saya pendam dalam-dalam di teras belakang, jika kau menjadi mawar tidak akan saya masukkan ke dalam gudang, ke dalam kamar mandi pun, tidak akan saya masukkan ke dalam rumah kenangan saya ini, kau hanya akan menambah debu saja.

Jadi tentukanlah!
Saya jamin, kau akan menikmati jika kau masuk dirumah kenangan milik saya ini. Oh atau kau coba membuat sendiri? Buatlah, simpanlah semua kenangan mu, simpanlah aku di tempat favoritmu, kunci aku di situ, hilangkan kunci nya, berkunjunglah lewat daun jendelanya, akan aku bukakan segera, lalu bisikanlah kepada saya bahwa kau tidak hanya akan membuat saya menjadi kenangan terindah tetapi juga kenyataan terindah yang pernah kau miliki sehingga kau akan mengingatnya sebagai kenangan terindah seumur hidup.

Berkhayal


Saya hanya suka berkhayal.
Dari kecil hingga sekarang. Atau mungkin semua wanita Cancer memiliki ciri khas suka berkhayal seperti saya ini? Tidak juga. Saya saja yang terlalu berlebihan. Ya mau bagaimana lagi. Saya memang suka, saya cinta untuk berkhayal. Karena saya hanya bisa tenang saat saya bermain dengan khayalan-khayalan saya. Di sana saya yakin, bahwa suatu saat saya dapat menjadi 'khayalan' saya.

Dulu waktu kecil saya sering sekali berkhayal masuk ke dalam laut dan saya ingin menjadi Ariel, Little Mermaid dambaan saya. Saya ingin ekor saya bewarna ungu. Rambut terurai lepas. Sungguh tidak masuk akal. Sebenarnya masih banyak lagi yang masih terpendam di pikiran saya itu. Seperti menjadi Barbie, dapat masuk ke dunia Princess, tinggal di castle itu. Diselamatkan oleh pangeran, dan happily ever after.

Percayalah sayang, sekarang khayalan saya lebih bermutu dan masuk akal.

Saya berkhayal untuk menjadi wanita bisnis yang sukses, sukses di dunia bisnis dan sukses menjadi ibu dari anak-anak kita. Tidak seperti waktu kecil yang hanya berkhayal menjadi ibu rumah tangga, dengan dandanan menor, lipstik merah menyala, memakai baju kondangan Ibu saya, sepatu pink banyak mani-maniknya, ya pokoknya dandan yang tidak mutu. Saya juga ingin pandai memasak, membuat menu-menu baru yang dapat membuat warna-warni hidupmu. Melepas dasi mu, melepas high-heels ku, menyimpan koper mu, menyimpan tas ku, menyiapkan selimut hangat untuk kita.

Sayang, bagaimana dengan anak?
Kau menginginkan anak berapa? Kalau saya hanya ingin satu, anak tunggal, seperti saya ini.
Lalu, jenis kelaminnya? Kalau saya ingin laki-laki, sayang. Supaya kelak kau dapat menitipkan saya kepada anak kita ketika kau harus pergi tugas, ketika kau pergi jauh, ketika kau pergi dan tidak akan pulang kembali.
Sayang, untuk anak kita nanti cat temboknya, bajunya, sepatunya, semuanya biru saja ya. Sepertinya lucu, bukannya kau suka merah, jadi ketika merah dan biru dicampur akan menjadi ungu warna foavorit saya. Bahagia sekali rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang saya sayangi.

Oh iya sayang, bagaimana jika kita membuat anak sekarang saja. Membuat anak dalam khayalan saja. Menikah dalam khayalan saja. Berpacaran, berkencan, berbagi tawa dan duka dengan mu dalam khayalan saja.
Berkhayal dalam khayalan saja.

Sayang, boleh khayalan itu saya bumbui sedikit harapan dan usaha? Benar, boleh?

Minggu, 23 Januari 2011

#PelajaranHujan #3 Pemaaflah Seperti Pelangi


Jujur, seumur hidup aku belum pernah melihat pelangi secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Katanya, pelangi itu jembatan dewi-dewi yang turun dari khayangan untuk mandi. Katanya, kalau kau bisa sampai di ujung pelangi kau akan menemukan cinta sejati mu. Katanya, pelangi itu jendela surga. Katanya.... Ah semua itu mitos belaka.

Yang aku tau tentang pelangi. Pelangi itu cantik, warna-warni, apalagi yang ungu. Pelangi hanya akan keluar setelah hujan! Itu saja yang aku tau.

Betapa malangnya jadi pelangi. Pelangi harus bersusah payah untuk sekedar muncul di langit, untuk sekedar menghibur anak-anak, untuk sekedar menenangkan hati yang pilu.

Aku yakin, pelangi itu pemaaf. Pelangi tidak pernah dendam terhadap petir yang terkadang menghalangi jalannya untuk muncul. Petir yang menyakitinya berkali-kali. Petir yang tidak akan pernah butuh keberadaannya. Ah seandainya petir tau, pelangi membawa sejuta warna indah untuk petir yang mengerikan itu.
Oh iya, bukannya petir tidak pernah sadar? Tidak tau terimakasih? Petir egois bukan???

Ya seperti itu lah petir.
Tapi apa? Jauh di sana pelangi terus mencintainya. Terus berharap, petir dapat muncul setelah hujan untuk menemani pelangi. Pelangi bahkan tidak peduli jikalau anak-anak kecil nanti akan takut, jikalau hati mereka nanti akan menjadi pilu kembali, asalkan pelangi dapat memamerkan kepada dunia bahwa memang petir pantas untuk dia.

Sepertinya pelangi bermimpi lagi. Tidak apalah. Biarkan dia bermimpi, bukannya cinta itu cinta? Seburuk apapun akan selalu termaafkan.

Sore ini, aku terkejut, petir yang datang di daun jendela kamarku tanpa suara itu, mengatakan

''Sampaikan banyak terimakasih ku kepada hujan yang sudah membuat pelangi ada. Sampaikan juga maaf ku kepada pelangi''

Kali ini petir pergi juga tanpa suara, di sambut datangnya pelangi tanpa hujan memulainya, kali ini juga aku melihat pelangi, pelangi di mata mu , di mata mu yang duduk di samping ku untuk meminta maaf ke padaku. Iya, aku telah memaafkan sebelum kau membuat kesalahan. Benar bukan, pemaaflah seperti pelangi.

Robin Hood, Pahlawanku Ketua Hatiku!



Hai, sudah kamu sampaikan terimakasih banyak kepada Robin Hood, sahabat mu itu? Kemarin dia menyelamatkan ku dari perampok di tengah hutan.


Oh haha itu terlalu berlebihan. Intinya aku ingin sedikit berbasa-basi, bagaimana kabarnya? Pastikan kepadaku bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja.

Lalu, apa kamu sudah menyampaikan, belakangan ini aku terus-terusan ingin melihatnya, melihat tahi lalatnya, melihat rambutnya yang sedikit bergelombang itu, melihat apapun tentang dia.
Aku tidak tau ini apa. Yang pasti setiap malam selalu ada dia di fikiran ku, setiap minum kopi, bayangannya ada di dalam gelas, embun sehabis hujanpun membentuk wajahnya dari luar jendela kamarku. Kesederhanaannya, manisnya, tanggung jawabnya, apapun itu yang ada di setiap inci hidupnya, aku hanya sedang ingin memilikinya.

Menurutmu aku jatuh cinta atau bukan?

Sudah! Jangan di jawab. Aku hanya sedang berusaha menutupi semuanya walaupun hatiku selalu terbuka untuknya. Aku hanya sedang berusaha membuat semuanya biasa saja walaupun setiap saat aku berbunga-bunga.
Aku hanya sedang membuat semuanya terhapus walaupun sudah ketauhan oleh kopi dan hujan sahabatku.

Aku takut kalau ini benar-benar cinta. Benih-benih cinta ini hanya akan tumbuh seperti tunas tanpa dosa. Bagaimana menurutmu kalau benih cintaku kepada Robin Hood sahabat mu tidak aku beri makan 'rindu', biar layu dan mati saja di teras belakangku. Bukannya lebih baik layu sekarang, daripada sebentar lagi, nanti, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan?
Tapi bagaimana kalau dia juga merasakan hal yang sama? Ah, aku belum berfikir sejauh itu. Dapat mengobrol dan menyapanya ketika berpapasan sudah sebuah anugrah.

Jadi apakah kamu sudah membuat kesimpulan? Aku sedang jatuh cinta kepada Robin Hood sahabatmu atau tidak?

Apapun itu, ajak dia main ke rumah ku, ajak aku jalan-jalan keluar bersamanya, ke tempat-tempat sederhana saja, seperti Baskins Robins mungkin, atau kamu mengajakku berkunjung ke kelasnya, atau apalah usahakan semuanya, aku mohon. Kamu itukan sahabatnya, sahabat yang baik pasti akan banyak membantu, iya kan?

Hai, sudah kamu sampaikan, bahwa aku sekarang sudah mulai menjaga benih-benih cinta yang aku tanam di teras belakangku ini agar tidak cepat layu? Jangan kaget kalau aku berubah fikiran, kata hujan dan kopi aku tidak boleh putus asa karena tidak semua lelaki akan menyakiti juga seperti yang lalu, katanya juga hujan akan turun ketika Robin Hood lewat di depan rumah ku agar dapat berlindung dari dingin. Terimakasih hujan, kopi, dan kamu. Aku fikir, untuk sekarang sudahlah Robin Hood saja ketuanya!

Sabtu, 22 Januari 2011

#PelajaranHujan #2 Di Dunia Ini Tidak Ada Yang Sendiri


Aku pernah dengar pertanyaan tidak bermutu sepeti ini
''Kenapa orang takut hujan? Soalnya hujan datangnya keroyokan''

Percaya tidak percaya, itu sebuah pertanyaan tidak bermutu dari Havid, ketua kelas ku yang rajin dan bertanggung jawab, calon BAPEPAM itu (amin).

Pagi buta ini hujan sudah mengetuk jendela kamarku. Tenanglah, segera aku akan bukakan, kasihan sekali kalau hujan harus merembes lewat dinding ataupun genteng.

Terasa sudah sejuknya dari dalam selimutku. Ah hujan, aku jadi malas untuk sekolah.

Membuat kopi lalu berjalan ke teras belakang. Aku duduk di sana. Mata masih sipit, seperti ada mentega nya. Aku juga belum gosok gigi, apalagi mandi.

Di teras belakang semuanya basah. Ini pemandangan yang indah.
Aku lihat ke arah depan. Ribuan lampu di sana. Sepertinya ini benar-benar pagi buta. Adzan Subuh pun belum terdengar. Dingin, sejuk, hujan, kopi panas. Aku suka semua itu.

Biasanya aku takut sendiri. Apalagi gelap seperti ini. Tidak tau kenapa pagi ini seperti ada bisikkan dari mulut-mulut mungil yang meyakinkan ku agar aku tidak takut sendiri. Seperti embun di kaca membentuk tanda panah agar aku mengikutinya dan keluar ke teras belakang. Seperti di luar ada aroma khas yang membuatku terpesona.

Di sana aku menemui semacam drama. Drama musikal lebih tepatnya. Hujan dengan mulut mungilnya, dengan embunnya, dengan aroma khasnya, menari. Menari dengan tungkai kaki jenjangnya, menghentakkannya ke tanah, tanpa sepatu, mulut mungilnya mengeluarkan harmoni 'tik tik tik', jari lentiknya saling bergenggam, seakan takut lepas dari yang lain. Pagi itu aku lihat semua hujan bentuknya sama, mereka kompak. Ketika harus jatuh bersama, hujan saling melengkapi satu dengan yang lain. Yang jatuh dengan deras, akan mengisi hujan lain yang jatuhnya jarang. Indah, lihatlah, bayangkanlah!

Sekarang, aku sudah tidak takut sendiri lagi. Seburuk apapun aku, aku yakin di sana ada yang mau menerima kekurangan ku. Ada yang mau melengkapi aku. Bukannya sela-sala jari ditangan ini dibuat untuk tempat jari-jari lain dari pasangan?

Sekarang aku sudah tidak takut sendiri lagi. Pagi buta ini hujan memberiku rahasia dari kesejukkan, bahwa di dunia ini tidak ada yang sendiri.

#Pelajaranhujan #1 Ikhlas Seperti Gerimis

''Ini gerimis ya, Wik?''
''Ah masak, Pung? Ngga kelihatan kok''
''Tapi kerasa kan, Wik?''

Benar-benar aku tertarik dengan percakapan kecilku bersama Dewik, teman sekelasku, sepulang sekolah Sabtu itu.

Mungkin aku itu seperti gerimis.
Gerimis yang terus-terusan menangis.
Sepertinya siang itu gerimis sedikit malu, untuk menunjukkan rupanya. Atau jangan-jangan siang itu gerimis belum mengaca? Gerimis belum berdandan? Bahkan gerimis juga lupa betapa cantiknya dia?

Bukan itu. Bukan itu semua. Gerimis sengaja tidak menunjukkan tubuhnya yang semampai, tungkai kakinya yang panjang seperti biasanya, karena gerimis takut. Gerimis takut orang-orang menjadi takut. Jika gerimis turun dengan lebatnya, semua orang yang dia harapkan untuk menemaninya sebelum hujan turun akan berlari cepat-cepat, akan mencari tempat yang tepat, untuk sekedar melindungi diri dari gerimis yang menyayat, dan tidak lagi menemani gerimis yang kilat.

Gerimis tidak ingin itu semua terjadi. Gerimis ingin tetap ada orang-orang yang mau menemaninya, terutama seseorang yang dia bela mati-matian agar tetap bisa menetes dan menyentuh sedikit tepat di tangan pujannya. Walaupun setelah itu pujaannya akan mengibaskan ataupun mengeringkan tangannya ataupun juga akan membiarkan gerimis menetes perlahan di tanah dengan sia-sia, gerimis tetap bahagia. Paling tidak, gerimis bangga telah berjuang untuk mimpi dan harapan-harapannya, telah berhasil mengalahkan gerimis-gerimis yang lain, untuk sekedar menetes di tangan pujaannya.

Jujur, tidak jauh beda dengan aku. Aku takut untuk bersedih. Takut untuk menunjukkan kesedihan ku kepada mereka, kepada kamu. Kalau aku sedih, aku takut kamu akan....sudahlah. Beberapa hari yang lalu aku juga seperti gerimis, aku tetap tertawa, tetap bercanda, tetap menyembunyikan semuanya. Paling tidak agar kamu tidak bosan. Paling tidak kalau kamu tidak bosan aku bisa menahan mu untuk duduk di sini lebih lama, untuk mengumpulkan nyaliku untuk menyentuh tanganmu lebih dulu. Ah tapi apa. Kamu justru tidak tau, tidak sadar dengan semuanya. Sekali lagi aku kecewa karena sekali lagi kamu buru-buru pergi dari bangku ini untuk segera menjemput kekasih mu yang jauh di sana.

Saat itu juga datang gerimis, aku menangis, membuat suasana sedikit romantis, sayangnya tidak ada kamu yang manis yang duduk di sampingku persis.

Benar-benar seperti gerimis. Walaupun terkadang tidak terlihat tetapi masih bisa dirasakan keberadaanya.

Kalau begitu, aku akan belajar banyak tentang ke-ikhlas-an melepas seseorang yang sudah aku perjuangkan mati-matian, dari gerimis, seperti gerimis. Aku tunggu kamu, gerimis.

Panadol Merah, Obat Untuk Hati Patah


Malam ini aku tidak seperti biasanya, yang biasa memainkan jempol kaki ku di petakan tanah di teras belakang ku, yang biasanya sudah tambah segelas kopi pahit lagi. Malam ini aku reflek menaikkan kaki ku di bangku panjang itu untuk aku luruskan keduanya, membiarkan kopi itu dingin sia-sia. Tidak tau kenapa. Dan aku masih tetap saja bersantai di sana, karena aku memang sedang butuh santai. Padahal jempol-jempol gerimis telah sedikit bermain di pipiku.

''Ibu juga perempuan''

Kata Ibu yang menyusulku, menidurkan kepalaku di pangkuannya. Berjam-jam kami berdua terdiam. Untuk kali ini aku sedikit gengsi untuk menceritakan patah hatiku yang kesekian kali. Ibu tetap sabar, mengusap-usap dahiku yang, jujur, sedikit membuat aku lebih tenang.

Aku lihat dari ujung wajah Ibu. Ibu melihat jauh ke arah depan, tapi pandangannya kosong. Seperti seseorang yang rindu sekaligus menyesali masa lalunya. Seperti ada satu kalimat yang belum Ibu ungkapkan kepada seseorang. Seperti remaja yang sedang patah hati. Seperti aku, anaknya, pada malam ini.
Aku takut Ibu mengingat-ingat kembali luka hatinya dulu. Baiklah daripada seperti ini, aku akan memulai pembicaraan.

''Ibu....''

''Sudah sudah, Ibu tau''

Ibu masuk meninggalkan ku sendirian di teras belakang. Untung ada gerimis yang menemaniku. Sesaat Ibu keluar, membawa segelas air putih dan Panadol Merah, katanya waktu Ibu sedang seperi aku, Ibu meminum satu kaplet Panadol Merah, tetapi Ibu tidak menceritakan bagaimana hasilnya.
Ya sudah. Aku minum. Aku percaya Ibu.


Paginya, aku terbangun. Sudah benar-benar merasa tenang. Aku berhasil melupakan semuanya. Aku nafsu makan lagi, aku menghentikan tukang bubur ayam itu lagi, aku memainkan jempol kakiku di petakan tanah di teras belakang ku lagi, aku melewati hari dengan kopi pahit lagi. Tidak tau kenapa.

Apa karena Ibu yang membagi pengalamannya dalam diam jauh dari dalam matanya? Apa karena aku tidur karena lelah? Apa karena Panadol Merah? Yang jelas, diam-diam di sana ada sejarah, antara Ibu, hati yang patah, dan Panadol Merah. Aku berjanji, seperti yang mata Ibu katakan kepadaku, aku tidak akan menyerah ketika hatiku patah.

Kamis, 20 Januari 2011

Kacamata




Sepertinya mata kamu minus.
Aku perhatikan kamu harus menyipitkan matamu untuk melihat dari jarak jauh, ya kalau menurutku dari bangku mu hingga papan tulis itu bukan jarak yang terlalu jauh. Ah sudahlah jangan perdebatkan tentang itu.

Bagaimana dengan kaca mata? Apa cukup membantu kamu?
Kalau iya kenapa sore itu kamu harus berkunjung ke teras belakang ku, kenapa kamu tidak memanfaatkan waktumu untuk periksa di optik pinggir jalan sana?

Aku merasa bersalah sekali, waktu itu telah menyuruh mu datang hanya untuk memamerkan kepadamu bagaimana aroma tanah dan rumput sehabis hujan siang itu.

Aku tawarkan, boleh aku menjadi kaca mata mu?
Akan aku bantu menunjukkan padamu betapa indahnya hidup, betapa cerahnya dunia, betapa cantiknya aku :)

Cukup letakkan saja aku tepat di depan kedua mata mu, letakkan di sana, di dekat otak mu, agar kamu selalu mengingat aku. Di dekat telinga mu agar kamu selalu mendengar suara hatiku. Di atas hidung mu agar aku bisa merosot dan jatuh tepat di mulut mu. Ups... Sudahlah abaikan.

Percayalah, aku serius, aku akan bantu masalahmu yang satu itu. Atau kalau kamu takut jelek dan culun ketika menggunakan kaca mata --sebenarnya kamu tetap ganteng, menurutku-- aku akan bantu dengan cara lain.
Akan aku beri kamu bisikkan-bisikkan kecil, seharmoni suara hujan saat jatuh di atas genteng, aku akan bantu menunjukkan padamu bahwa di depan sana banyak masalah yang harus kamu pecahkan, bahwa di depan sana ada masa depan kita, bahwa di samping mu ada seseorang yang selalu membisiki mu yang aku pikir dia jatuh cinta kepadamu...

Aku bisikkan sekali lagi, sepertinya mata kamu minus walaupun kamu selalu plus buat aku.

Saksi Bisu


Kasihan sekali nasib teras belakang ku, sekarang gersang, kotor, rumput liar tumbuh di setiap petaknya. Apalagi bangku kayu panjang itu, banyak sekali debu, akar-akar liar sudah mulai merayap di ke-empat kakinya. Serta meja bundar kecil disebelah kiri bangku yang sebagiannya sudah dimakan rayap, membuat vas bunga ungu itu jatuh, pecah, bahkan tidak ada yang membereskan kepingannya, bunga plastik itupun kini terlihat layu diantara debu.

Seharusnya memang aku. Seharusnya aku yang merawat mereka. Seharusnya aku menghargai mereka. Maaf, 4 tahun belakangan ini aku terlalu larut dalam kesedihan.

Aku sudah tidak tau harus bagaimana. Makan pun aku lupa. Aku terlanjur betah dengan masa-masa 4 tahun lalu.
Masa dimana aku pikir aku sudah dapat berlari cepat dengan mu ke masa depan kita.

Sampaikan berjuta terimakasih ku kepada mereka yang mau menjadi saksi bisu abadi kita.
Pastinya mereka tau, bahwa kita senang sekali duduk dengan menaikkan kedua kaki kita, bercanda, bercengkrama, bersandar di bangku itu.

Saat kamu menarik meja itu ke depan, katamu agar lebih dekat camilan dan kopinya. Dasar doyan makan! Tapi aku suka, suka sekali dengan kamu yang apa adanya, yang tidak seperti teman-teman mu yang sedang mati matian membuat enam kotak di perutnya.

Aku ingat, beberapa kali aku kamu gombali. Kamu selipkan bunga plastik itu di telinga ku yang sebelumnya sudah kamu semprot dengan parfum re-fill mu. Katamu, aku lebih manis seperti itu.

Ada juga saat kita hening. Saat aku mendengar semua cerita dan masalah hidupmu. Jujur, aku belum pernah dan tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya, karena aku akan menjadi satu-satu nya yang tau banyak tentang kamu. Ada juga saat sebaliknya, waktu kamu harus jadi pendengarku, waktu aku sedikit menangis, waktu aku bersandar di pundakmu, waktu aku dapat mendengar suara mu dari ujung pundakmu, waktu kamu tau bahwa pundak mu adalah tempat paling damai di muka bumi ini, kamu lebih terlihat dewasa dari ujung pundak mu seperti itu.

Tapi aku fikir itu hanya kenangan 4 tahun lalu. Bangku, meja, vas, taman belakang dan isinya pasti merindukan kamu, merindukan kita, merindukan aku yang paling merindukan mu.

Baiklah, pagi ini aku akan membersihkan mereka dan merawat mereka lagi, seperti belum pernah ada kamu, kita, seperti belum pernah ada sakit itu. Tapi mereka saksi bisu, mereka menyimpan semuanya dalam bisu, dalam diam, dalam sepi.
Siapa tau ada seseorang yang kehujanan lalu aku tawarkan untuk singgah sebentar, seperti awal kita bertemu dulu, lalu lama-lama akan ketagihan dengan teras belakang ku yang mulai hidup itu, akan aku ulang cerita bersama mu, tapi sekarang tidak dengan mu.

Resah


''Terimakasih, akhirnya kamu datang juga. Telah lama aku tunggu kamu di teras belakangku. Lihat lah, kopi hitam tanpa gula ini yang dulu sempat dingin, kini menjadi hangat kembali. 9 bulan kemarau tanpa jeda, 9 bulan aku duduk di sini, 9 bulan juga ku biarkan kopi ini menemaniku menunggumu''

''Maaf, Cantik, aku telah membuatmu resah menunggu lama, tenanglah aku sudah disini, sudah mengakhiri kemarau ini, mulai sekarang aku akan terus menjengukmu di teras belakang ini, Cantik''

''Lantas, kabar apa yang kamu bawa di pagi buta seperti ini?''

''Hum....''

''Sudahlah, katakan, aku akan menerima apapun kabar darimu''

''Janji ya, Cantik?''

''Iya, aku janji''

''Baiklah, sekali lagi maaf sudah membuat mu menunggu lama. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin melawan kemarau panjang ini, syukurlah akhirnya aku bisa mulai jatuh malam tadi, sudah ku buat se-elastis mungkin tubuhku agar dapat meresap di 'keset selamat datang' tepat di depan pintu kamar kosnya, agar dengan mudah aku dapat merembes masuk dan melihatnya di dalam kamar kos itu''

''Jadi, kamu sudah tau bagaimana dia sekarang? Apa kabar dia?''

''Sudah, tampaknya dia baik-baik saja, lebih baik, maksudku jauh lebih baik dari 9 bulan yang lalu''

''Bagaimanakah juga kabar wanitanya? Wanita yang satu agama dengannya. Wanita yang dia bela mati-matian di depan orang tuanya daripada aku!''

''Aku sedikit tidak tau. Yang jelas ketika aku merembes masuk kedalam selimutnya, hanya ada dia sendiri sedang mendekap erat sebuah foto, bahagia sekali tampaknya dia dan wanitanya di foto itu, dengan gaun dan jas putih abu di depan gereja di ujung jalan sana''

''Oh, mungkin itu adalah hari pernikahannya. Satu lagi, apa kamu tidak menyampaikan pesan ku? Pesan yang ku sampaikan kepadamu 9 bulan yang lalu, bahwa aku sedang mengandung anak, anak dari hasil perbuatannya''

''Maaf Cantik, untuk itu aku tidak bisa. Kamu lupa atau sengaja lupa? Masih ingatkan kalau aku ini HUJAN? Aku hanya bisa memberikan kabar agar kamu tidak resah lagi. Cukup dengarlah langkah ku, rasakan jejak kaki ku, tapi aku tetaplah hujan yang tidak dapat berbicara!''

''Iya, sedikit banyak aku masih ingat siapa kamu''

''Lalu, mana anakmu? Mengapa perutmu datar saja?''

''Anakku yang 9 bulan ini aku pendam, yang 9 bulan ini aku tahan agar tidak lahir sampai aku mendapat kabar tentang dia darimu, akan segera aku lahirkan, di depan mu, di depan kopi ini, di teras belakang ini juga, akan aku lahirkan agar aku lega dan tidak resah, aku akan lahirkan lewat mataku yang sedari dulu sudah mengantung ini. Hujan, jaga dia baik-baik, tetaplah merembes masuk ke dalam kamar kosnya, ke dalam selimutnya, ke dalam hidupnya, lalu kabari aku, aku tunggu kamu di sini, satu kemarau lagi''

''Baiklah Cantik. Sudah, sudah, jangan menangis, jangan kau biarkan anakmu membasahi pipimu''

Itu terakhir kali aku bercakap dengan hujan, sudah berkali kemarau pendek berlalu, aku tunggu dia disini, tepat di teras belakang saat aku menulis ini, sampai detik ini pun hujan tak juga datang.

Atau hujan takut melihatku sedih?
Atau hujan ingin hanya hujan saja yang menitikkan air?

Untuk terakhir kali sebelum aku berangkat ke Masjid, sebelum kebaya ini lusuh, sebelum sanggul ini jatuh, sebelum dandanan ku luntur, sebelum....ah sudahlah kasihan Bapak Penghulu sudah menunggu lama. Baiklah Hujan, jagalah dia, jagalah wanitanya yang seharusnya itu aku, jagalah anak-anaknya, jagalah mantan calon keluarga cantikku itu. Agar aku tidak lagi resah.

Izinkan Aku Memiliki Tubuhmu Seutuhnya


Izinkan aku memiliki tubuhmu seutuhnya. Akan aku tukar tubuh ku dengan tubuh mu itu, tetapi tidak sepaket dengan muka ku. Muka ku yang natural ini. Tidak juga dengan pipiku, ataupun mata bulat ku.

Izinkan aku memiliki tubuhmu seutuhnya. Akan aku tukar tubuh ku dengan tubuh mu itu, tetapi tidak satu paket dengan rambut ku. Rambut lebat ku. Rambut alami ku. Rambut yang blow pendek sebahu yang sengaja aku biarkan tanpa poni ini. Tidak juga dengan kuku ungu ku.

Izinkan aku memiliki tubuhmu seutuhnya. Akan aku tukar tubuh ku dengan tubuh mu itu, tidak sepaket dengan hidup ku.
Kan aku sudah bilang, aku fans berat hidupku. Aku mencintai hal-hal sederhana di dalamnya. Aku sudah merasa betah. Betah dengan semuanya. Betah dengan rutinitas ku. Betah dengan sahabat ku, teman-teman ku, keluarga ku, dan semua orang yang berlalu lalang di hidupku, ada yang sekedar masuk lihat-lihat lalu keluar lagi, ada juga yang mempunyai tujuan dari semua itu.

Atau kamu mau coba sebentar masuk di hidupku? Janji ya sebentar saja. Tetapi jangan iri. Mungkin memang secara fisik kita beda jauh. Percayalah, kamu akan iri, sedikit saja kamu melongok di daun jendela hidupku, kamu akan menemukan berbagai hal yang tidak sempurna tetapi tidak ada duanya. Aku tegaskan, tidak ada duanya!

Tetapi ketika kamu mulai masuk, seolah di dalam hidupku kosong melompong. Hum.... Berbagai keajaibannya telah aku rapikan, telah aku masukkan di dalam lemari yang aku kunci rapat-rapat, sisanya aku pendam dalam-dalam di teras belakangku. Agar tidak dapat kamu curi, agar tidak dapat kamu 'copy'. Sekali lagi jangan heran, jangan iri, bahwa hidupku penuh dengan keajaiban.

Izinkan aku memiliki tubuhmu seutuhnya. Biarlah aku juga bisa berlangganan di butik favoritmu itu. Biarlah aku juga bisa mengoleksi sepatu sepatu mungil seperti sepatu mu. Biarlah aku juga bisa berfoto dengan pose imut seperti mu. Biarlah aku juga bisa menambah satu keajaiban lagi di hidupku. Biarlah aku juga bisa berpacaran dengan pacarmu.

Aku Tidak Mungkin Jatuh Cinta Dengan Pria

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang tidak mempunyai jakun

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang bertato di hatinya

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang mulutnya ada dimana-mana

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang mengantungi banyak air mata

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang akan memberiku air matanya

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang menafkahi ku dengan bulu dadanya

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang membuat rupiah dari spermanya

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang menggantungkan hidupnya di dalam celana

Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang jelas-jelas lebih cantik dari pada kekasihnya

Selasa, 18 Januari 2011

Cemburu




Aku cemburu
Cemburu kepadanya yang menyentuh bibirmu
Cemburu kepadanya yang kau pegang erat erat disela kedua jarimu
Cemburu kepadanya yang menyeruak masuk ke dalam kerongkonganmu sampai seluruh jiwamu
Cemburu kepadanya yang setiap saat kau cumbu

Aku memang tidak seputih dia
Aku memang tidak setinggi dia
Aku memang tidak semampai seperti dia

Jujur aku ingin seperti dia
Kau perlakukan seperti dia
Kau selipkan di sela telingamu agar kau dapat selalu mendengar ceritanya hingga tangisnya yang rencananya akan ia simpan sendiri dalam hidupnya
Atau kau letakkan di ujung hidungmu untuk menikmati aroma tubuhnya agar kau semakin bernafsu untuk mencumbunya

Sayangnya,
Sayang sekali
Aku berada disebrang duniamu, dunianya
Aku terlalu cemburu sampai aku memerah, mengeluarkan api yang tak lagi biru
Aku terlalu cemburu sampai menangis abu
Andai aku dapat mengingatkan bahwa kau akan merasakan sakit, lebih dari sakit hati
Jangan terlalu sering mencumbunya!

Sudahlah aku tau
Aku bukan dia
Bukan rokokmu yang setiap saat kau cumbu
Jujur, lama-lama aku cemburu

Mutiara Hitam Ku

Dia mutiara hitam ku. Jangan merendahkannya, jangan menganggapnya sepele.

Aku dan dia sama-sama senasib. Banyak sekali kendala di perjalanan kami. Dari suka, duka, tertawa, sampai menangis. Mungkin setengahnya kalian tidak percaya kalau dia dapat menangis.

Dia lebih sering menitikkan air mata dari pada aku. Tapi kenyataannya, aku lebih lemah, aku lebih mudah galau daripada dia. Aku mulai tau, dia menangis bukan berarti dia lemah, justru kuat, dia dapat melepaskan bebannya melalui air mata dan setelah matanya kering dia akan berkata ''Selamat tinggal air mata'' lalu melanjutkan bercandaan kami yang sempat tertunda tadi.

Sedikit banyak aku mulai mengenal dia. Dari jiwanya yang jantan sampai raganya yang macho. Yang aku maksud jantan adalah sifat jantan yang benar-benar bertanggung jawab, siap menerima resiko, dan tidak asal dalam menjalani hidup. Seperti contohnya, dia tidak mau asal mengikuti sebuah seleksi untuk coba-coba peruntungan, karena menurut dia tidak ada gunanya kalau tidak dapat memetik hasil maksimalnya. Jadi, wanita pun juga dapat bersifat jantan, tetapi tidak semua laki-laki juga jantan.

Belum ada seperempat windu kami kenal, aku sudah dapat banyak pelajaran hidup dari dia. Terutama yang selalu aku ingat bahwa Tuhan tidak pernah tidur, ber'komitmen'lah kepada Tuhan untuk motivasi dan penambah semangat. Jika memang sudah waktunya, Tuhan akan menukarkan komitmen mu yang lalu dengan keindahan hidup. Tunggulah saja.

Seperti mutiara hitam asli, ketika kau merawatnya dengan baik maka akan tampak keindahannya, bahkan lebih indah dari mutiara putih yang pasaran itu.
Ya, coba tatap matanya dalam-dalam, berbicaralah dengan matanya, kau akan tau betapa cantik hatinya, betapa tulus cinta & perhatiannya, betapa wanita-nya dia.

Sekali lagi aku tegaskan. Dia mutiara hitamku, tidak peduli angin topan yang dapat membelai rambutnya. Tidak peduli bagaimana otot lengannya yang dia perlihatkan kepadaku setiap tengah pelajaran yang membosankan. Tidak peduli bagaimana suaranya yang dia pamerkan setiap bernyanyi tepat ditelinga ku. Tidak peduli SriRatu Swayalan adalah tempat favoritnya. Tidak peduli kepada mereka yang berkalung mutiara putih mewah.

Dia tetap mutiara hitamku. Teman senasib ku. Penambah pelajaran hidupku. Teman sebangku ku. Ruthana Priskila Rumaropen ku.


Takkan Mampu Jatuh Cinta




Takkan mampu bila kau jatuh cinta dengan saya. Saat kau mulai jatuh cinta, kau takkan mampu mengimbanginya. Saya hanya takut kelak kau akan menyesal. Karena saya tidak bisa bahkan tidak akan menjadi seperti yang kau minta.

Saya adalah saya, saya fans berat hidup saya. Mencintai hal-hal sederhana dalam hidup saya. Seperti menghirup aroma air mineral yang mereka pikir hambar, air mineral yang saya bawa setiap pagi dengan segel rapat masih menutup mulutnya.

Saya juga mencintai hujan, aroma tanah, aroma rumput, aroma bunga kaktus yang ditanam Ibu saya, 2 porsi mie instant goreng berkuah yang ditambah bombai, dan kalau sudah seperti itu saya akan sedikit mengeringkan bangku teras belakang yang basah karena hujan, saya duduk disana, untuk apa lagi kalau bukan menatap dan berbicara kepada hujan.

Saya sarankan agar kau mencintai hal-hal sederhana dalam hidupmu. Seperti saya yang mencintai kamar cat ungu itu, teras belakang, dan selalu merindukan pulang untuk segera membuka jendela lebar-lebar. Duduk disana sambil membawa laptop untuk membantu hati saya menulis coretan sederhananya.

Saya tegaskan lagi, kau tak bisa mengubah saya, karena saya mencintai hidup saya dan bagian-bagiannya yang sederhana itu.
Sambutlah bagian sederhana dari hidupmu dengan baik, maka mereka akan berbalik baik kepadamu, tidak akan menyakitimu. Kalau kau belum bisa, datanglah kepada saya, akan saya ajarkan bagaimana menikmatinya.

Takkan mampu bila kau jatuh cinta dengan saya, wahai orang mewah.
Kecuali kau sanggup mencintai hal-hal sederhana dalam hidupmu. Dan kita akan buat sebuah cinta yang sederhana tanpa sebuah kemewahan.

Senin, 17 Januari 2011

Latihan Jalan



Pernah melihat seseorang latihan jalan lalu terjatuh? Yang jelas, dia bukan jatuh dengan sendirinya, dia dijatuhkan orang lain yang terukir pada setiap inci hatinya, dijatuhkan dengan mimpinya sebagai perantara, pujaannya itu menjatuhkan dia dengan sengaja.

Di otaknya juga di hatinya, dia bingung. Sangat bingung. Setengahnya tidak percaya. Selebihnya dia mulai malas bermimpi.

Apakah dia harus duduk terjatuh tersungkur dengan memangku semua mimpi kelabunya sambil menangis berharap pujaan hatinya tadi yang sudah berjalan dengan bidadarinya kembali untuk membangunkan dan membimbingnya latihan jalan lagi?
Atau harus berusaha bangun sendiri, mengumpulkan keping-keping mimpinya untuk disatukan dan diperkuat?

Tuhan memberinya jawaban. Ketika dia ditengah persimpangan. Dia memilih jawaban kedua dengan satu alasan yang sangat kuat.
Seingatku dia berkata ''Aku akan lebih memilih bangun sendiri, latihan jalan sendiri, siapa tau di sana ada seseorang yang menginginkan wanita tegas, tegar, kuat, mandiri, dan dia yang akan sepenuhnya membimbingku latihan jalan bahkan mengajakku lari mengejar surga dunia kami, melewati pujaan hatiku yang mendadak bosan dengan bidadarinya, seperti dia bosan denganku dulu. Dan kalau sudah seperti itu, aku hanya akan melambaikan tangan, oh atau mungkin berhenti sejenak untuk mengenalkan pemilik hatiku yang baru kepadanya''

Sepertinya cukup sekali saja latihan jalannya, karena berkali jatuh itu sakit.

Balon


Sebelumnya, terimakasih untuk semua harapan-harapan itu.

Terserah kalau kamu mau menyebutku balon. Ya memang kenyataannya seperti itu.

Kamu mengisi hidup ku dengan harapan kosong bak nitrogen. Lama aku terbang. Seolah hidupku sudah penuh sudah sempurna sudah semuanya. Poor me! Itu kosong, itu cuma nitrogen, itu cuma harapan kosong.

Tapi terlambat, aku sudah terbang terlalu tinggi. Aku takut, jikalau aku akan pecah dan lebih hancur dari sebelumnya. Aku mencoba untuk tetap diam pun aku sudah tidak bisa, apa lagi untuk kembali turun melawan angin, jelas lebih tidak bisa. Aku hanya mengikutimu, mengikuti harapan mu mengajakku kemana, mengajak untuk terbang lebih tinggi, mungkin.

Hum, ternyata selama ini aku belum sadar aku belum tau, bahwa di sana terdapat satu semangat yang tidak bisa dipecahkan oleh siapapun. Semangat seorang gadis, maksudku wanita. Semangat yang membangunkannya dari tidur, krn dengan cara itu sebuah mimpi akan terwujud. Atau paling tidak, semangat itu dapat mengimbangi harapan kosong tadi.

Baiklah, aku mengalah, aku mengaku, aku akan mengikuti mu mengikuti harapan mu karena aku masih sangat membutuhkannya sebagai semangat untuk tetap bangun pagi menyambut hari. Aku tidak lagi takut terbang tinggi, ataupun terlalu tinggi, karena hanya dengan terbang tinggi aku bisa melihat pemandangan indah.

Setelahnya, terimakasih sekali lagi untuk harapan-harapan (kosong) mu itu.

Tapi Jangan Sekarang



Aku suka hujan turun. Tapi jangan sekarang. Sekarang, malam ini, sudah tidak ada kamu. Tidak ada kamu dibalik gorden coklat tua itu. Tidak ada kamu dengan jaket putih biru. Hampir aku rindu!

Ya, memang sudah tidak ada kamu lagi yang selalu aku gombali, yang selalu menjadi inspirasi.

Mau kamu datang lagi? Dua gelas kopi hitam tanpa gula, martabak, dan vas bunga ungu itu telah menunggu, menunggu kamu, sebagai saksi bisu saat kita bertemu, bahkan telah menunggu lebih lama daripada aku yang duduk di atas bangku ruang tamu.

Kalau kamu mau lagi datang, cukup saja bilang, karena hatiku selalu mengundang.
Kelak, kopi, martabak, dan vas bunga itu akan aku pindahkan ke teras tanpa lampu special untuk kamu.
Biar bintang, bulan, kalaupun perlu akan ku panggilkan kunang-kunang sebagai penerang agar kita tetap dapat saling memandang.

Dan saat itu aku hanya berharap hujan turun tipis tipis agar aku dapat menikmatinya dengan kamu yang manis.

Tapi, jangan sekarang. Sekarang sudah tidak ada kamu untuk menemaniku menikmati hujan tanpa jemu. Dan sekarang, aku bukan hanya hampir rindu, tapi benar-benar rindu!

Minggu, 16 Januari 2011

Aku Sudah Biasa Kecewa


Inget banget waktu kamu curahin semua mimpi mu ke aku

'' Enak ya, lihat hujan, duduk di kursi teras ini, sambil minum teh khas buatan Ibu kamu sama martabak Bang Kohar yg dibeliin Bapak kamu. Kamu suka petrichor ya? Yaudah deh KALAU AKU BISA MEMASUKKAN AROMA TANAH & AROMA PEPOHONAN YG KHAS ITU SEHABIS HUJAN, BAKAL AKU BUAT PARFUME DAN TERUS KIRIMKAN KE RUMAH SESEORANG''

Tanpa bawa kaca aku juga udah tau, kepala ku membesar, pipiku jadi merah, jantung&hati ku berebut waktu siapa dulu yg mau copot.

''Iya, jadi aku ngga berharap buat melamar gadis ku besok di bulan dg kemeja dan jas berlian, ataupun di pulau kemarau yg serisau galau dengan gaun gaun pisau. Aku harap besok cukup aku datang ke rumahnya yg sederhana, dengan keluarga, mengucap Basmalah dan di akhiri Hamdalah''

Kamu ngomong panjang lebar sana sini. Ujungnya buat harapan ku yg mirip balon ini terbang terlalu tinggi, yg ternyata dalamnya kosong, yg ternyata kamu isi nitrogen, iya harapan kosong lebih tepatnya.

Yap. Semuanya udah terjawab. Bener banget, kamu mau melamar gadis mu, gadis teman lama mu, gadis di kampung mu itu, gadis jebolan pesantren & berkrudung dambaan mu.

Oh bukan aku ya? Iya bukan :)

Terus buat apa waktu itu cerita sama aku?

Buat apa aku tunjukin ke kamu tentang hujan? Petrichor? Pelangi? Yg ternyata kamu lbh buruk dari petir!

Buat apa kamu jd nitrogen yg cuma bisa buat terbang tinggi balon yg ternyata dalamnya kosong?

Atau kamu mau jadi api yg awalnya buat melting terus lama lama jd beneran panas?

Maunya apa?

Bener deh, waktu itu rasanya aku udah bisa lari. Tapi ternyata aku sadar sekarang aku baru latihan jalan. Pernah lihat seseorang latihan jalan terus jatuh? Dia itu bingung, mau tetep jatuh duduk diam nunggu seseorang yg udah jalan jauh di depan sana sama pasangannya buat balik dan nolongin buat bangun terus bimbing dia latihan jalan atau berusaha bangun sendiri krn dia fikir mana mungkin orang yg udah jalan ditemani pasangannya yg hampir sampai ke ujung dunia mereka mau berbalik arah cuma buat nolong bangun dan membimbing latihan jalan? Ha-ha tabu rasanya!

Tapi paling engga, sekarang aku udah tau mana yg harus aku pilih. Iya, aku mau bangun sendiri latihan jalan siapa tau ditengah jalan nanti aku dapet seseorang yg mau ngajak aku lari, lari berdua nyelip kamu, dan sampai ke ujung dunia kami lebih dulu drpd kamu dan pasangan mu!

Engga, aku ngga mau balas dendam atau apa. Egois banger dong aku kalau cuma menomor satukan perasaan ku, tanpa peduli orang sekitar, kamu, dan gadis mu itu.

Tenang aja, aku udah biasa kecewa :)

I totally understand and I hope the best for you.

Longlasting. Everlasting. And thankyou, you make me waiting for nothing!!!

The Unpublished Story (curutsalto)


Aku dulu adalah merah.. Yang menyangka, kalau aku menemukan biru, aku akan berubah menjadi ungu. dan hidup dalam sebuah dunia baru.. lalu, aku menyusuri setiap petak tanah.. berharap akan menemukan biru.. ** aku tiba2 berhenti.. di petakan tanah yang kesekian puluh ribu. Aku melihat sesuatu yang aku cari. sebuah biru, yang membuat aku, berjalan sejauh ini.. Tanpa berpikir panjang.. Aku memeluknya, menyandingkan kilau birunya.. dengan cerah merahku. dengan sayang.. aku memamerkannya.. dan setiap keputusanku.. sejak saat itu, kuberikan bisikan biru.. berkali-kali, berkali-kali.. dan aura merahku semakin indah, Aku berubah.. Dengan dunia baru. Dunia yang memberiku berjuta-juta warna ungu. ** tapi.. semakin kubiarkan biru menyentuhku, duniaku semakin gelap. Unguku berubah menjadi terlalu pekat. TERLAMBAT!! ungu yang kumau untuk duniaku, merubah aku menjadi kaku.. Aku tersungkur lemah, aku lelah.. Aku bukan ungu.. Apalagi merah.. Aku tidak lagi cerah, Tidak lagi indah.. Karena aku berubah suram.. Ungu yang kelam. Terlalu banyak biru, dan merah tidak akan muncul lagi, Tergantikan oleh ungu, yang dominan oleh biru. gelap.. aku.. takut!!!!! setengah mati ingin melihat, tapi duniaku sudah terlalu pekat. TERLALU KELAM!! aku berubah, aku.. hitam.. ** Semua sudah terjadi, tidak mungkin lagi meminta merahku kembali. tidak mungkin berubah ungu. tidak akan juga menjadi biru. tersentuh apapun, aku akan semakin hitam. ahhh... kenapa terlalu banyak biru? kenapa biru tega mematikan aku? ** petakan tanah selanjutnya, aku mencari jawaban, mencari apa yang bisa mencerahkan.. setidaknya, sedikit untuk penerangan... ** "putih..." jawaban yang kudengar... dan wujudnya kutemukan. aku sadar.. Gelapku punya harapan! ** putih tidak akan menciptakan warna baru.. kecuali dengan AKU, karena sifat putih.. mencerahkan.. oh!!!!! aku akan punya hidup yang baru, nama yang baru.. Abu-abu. ** dengan putih, aku bukan hitam yang dulu, aku.. abu-abu. tidak secantik ungu, tidak secerah merah.. tapi aku.. tetaplah aku. ** dengan putih, aku belajar dari masa lalu.. Menerima merah sebagai merah, tanpa tergoda mencampurkan biru, untuk merubahnya menjadi ungu... Aku memang bukan lagi merah. aku memang, berubah abu-abu. tapi aku tidak akan menjawab pertanyaan.. kemana merah? apa kabar biru? bagaimana hitam? Dan kenapa aku menjadi abu-abu. "karena aku... mau menguburnya dalam-dalam." ** putih mengantarkanku tidur, kali ini, aku tidak lagi takut akan pekat.. Besok, aku akan tetap bisa melihat.. aku tidak takut lagi pada suram.. dengan putih, "aku percaya.." abu-abuku, tidak akan.. kembali, berubah hitam..

Tidur (curutsalto)


2008

Aku melihatmu tidur. Memandangi setiap raut yang ada, kelopak yang terpejam, dan kepolosan wajah yang menanggalkan semua masalah hidup, terutama rasa sakit itu.. Keringat mulai membulir pertanda suhu badanmu normal perlahan. Kamu tidur menghadapku dan masih menggenggam tanganku, tidak...aku tidak akan kemana-mana, karena digenggaman inilah perasaanku selalu berpulang. Nafasmu menderu tanpa terburu-buru...hangat. Istirahatlah, hingga esok kamu menemui ragaku tetap di sini, menjagamu. Cepat sembuh dan temui aku dengan kegilaan yang baru.

2009

Sekali lagi melihatmu tidur. Dengan tangan kanan terkalung di perutku, dan kepala menyender di bahuku hingga aku bisa tetap terjaga menikmati aroma rambutmu. Setiap sisi kulit kita bersentuhan halus...setiap sisi, tanpa terhalang apapun. Aliran darah di setiap nadiku masih melaju cepat. Aku masih bisa merasakan hangat lidah, lembut bibir, lekuk tubuh dan apapun itu yang menjadikan setiap detik malam ini terasa nikmat. Tak percaya malam ini kita terpaut...aku denganmu. Aku mencintaimu...dengan emosi dan logika. Selamat tidur. Tenanglah bersamaku hingga umur kita habis.

2010

Sekali lagi melihatmu tidur. Dengan pipi menggelembung dan perut buncit. Di dalamnya ada seorang lagi yang kucintai, entah siapa namanya...belum terpikirkan. Aku berusaha mencerna kesederhanaan cinta ini dengan sebaik-baiknya. Memeluk dua orang kucintai sekaligus tanpa menyisakan jarak, sungguh sebuah penawar segala rasa sakit yang pernah ada. Hangat. Kamupun tersenyum dalam tidur. Entah apa yang ada di dalam mimpimu, aku tak tahu. Semoga aku yang selalu ada di sana.

2011

Sekali lagi melihatmu tidur. Lucu sekali melihatmu pulas dengan mulut terbuka. Seakan menjadi gerbang keluar bagi keletihanmu yang teramat sangat hari ini. Keletihan yang ditentang habis-habisan oleh kesabaran. Menggantikan popok, menyusui, bercanda, menidurkan, dan beribu kegiatan yang kau salurkan dengan kasih sayangmu...untuk anak kita.Guratan ketulusan itu terus tertoreh di wajahmu malam ini. Aku bangga mencintai seorang pencinta.

2013

Sekali lagi melihatmu tidur. Dan hai, kita masih di sini...menikmati hidup. Apa kabar kiamat 2012 yang diselenggarakan para penganut kalender Maya? Itu tidak penting, yang terpenting aku masih di sini berbagi setiap detik denganmu. Kamu membalikkan badan memunggungiku. Ada raut kekecewaan di sana. Aku, si manusia tak sempurna, telah menyisakan kekesalan mendalam di hatimu. Aku hanya bisa terdiam. Memandangmu ditemani keheningan malam adalah luar biasa. Membawaku ke alam pemikiran untuk selalu membenahi kesalahanku dengan segera. Aku hanya bisa mencium rambut belakangmu malam ini, dan mengisi mimpimu dengan bisikkan ”Maaf”.

2035

Sekali lagi melihatmu tidur. Dengan kulit menua dan rambut putih menyembul. Kita masih di sini...masih menggilai satu sama lain. Ketidaksempurnaan makin tercetak di wajah masing-masing. Setiap raut keriput menceritakan sejarah. Punggung tanganku mengelus pipimu dengan hati-hati, tidak ingin mengusik mimpi indahmu di sana. Sekali lagi kamu menyunggingkan senyuman. Membuat sudut bibirku tak kuasa bergerak membentuk simpul bahagia. Damai. Sekarang kita kembali berdua. Si kecil berkembang dan kini sudah memiliki cinta sendiri. Mencintai seorang yang juga mencintainya. Seperti kita mencintainya. Seperti aku mencintaimu.

Entah kapan

Giliranmu melihatku tidur. Tidur panjang...dengan senyum ikhlas kaku terpajang. Jangan menangis, isteriku sayang. Waktuku sudah habis. Tapi cinta ini takkan pernah habis. Kecup keningku terakhir kali...dalam-dalam. Agar cintamu ikut bergulir menemaniku di sana dalam diam. Seperti selama ini...dan setiap malam.

Good Rainy Days My Rain

hujan ngga selamanya simbol kesedihan, simbol air mata
iya, aku tau sebelum ada hujan pasti ada mendung yg mengawali itu mendung gelap, tapi apa selamanya ini kamu tau mendung bukan yg mengawali hujan tapi hujan lah yg mengakhiri mendung buat digantikan sama pelangi :)

dan hujan buat aku adalah anugrah
rainy days are the best because I'm not the only one crying, the sky is crying with me

hujan itu asik lagiiii!
bisa nari lompat lari main air
hey boy, do you remember when we were dancing in the rain?
yg paling asik lihat jatuhnya hujan persis dr bawah langit, apa lagi bau tanah yg kena air hujan hmm baunya khas banget

jujur, aku butuh banget hujan
I need now if the rain to fall from the sky, to wash away my pain inside

ngga perduli aku sendirian ngga peduli kamu ngga nemenin aku tapi hujan dengan ribuan temannya yg lain yang bersamaan rela jatuh di bumi yg akhirnya buat basah halaman rumah ku dan sebagian percikannya masuk ke kamar ku lewat jendela yg sengaja aku biarkan terbuka, terus menurut kamu buat apa lagi kalok bukan hujan pengen nemenin dan meramaikan sepiku ini?

yang aku tau hujan ngga pengecut kayak kamu, hujan berani mengambil keputusan untuk jatuh ke bumi walau ada petir sekalipun walau ada angin yg menghempas sampai tubuhnya terpontang-panting :)

jadi please, hujan jangan marah, aku ngga tau gimana jadinya aku kalok ngga ada hujan, dan aku seperti pelangi yg setia menunggu hujan datang supaya aku bisa memunculkan diriku ini
and I believe, God places rain in our life for a reason!

Are you okay, Irene Sule?

aku nulis note ini habis baca status mu tanggal 28 Juli 2010 kemarin ---> happy birthday yusuf gida candra buana ☺ wish you all the best. God Bless you :)

aku langsung mbrambang

aku tau ren apa yg kamu rasain, aku tau banget malah

well, kita sama sama suka dan berharap dengan masa lalu.

bedanya masa lalu ku msh bisa aku lihat setiap hari di sekolah, aku masih bisa lihat senyumnya, candanya, tas sepatu buku dan tulisan latinnya yg besar besar yang ngga pernah berubah dari dulu, oh iya dia bangga punya kulit hitam, dia bukan tipe cowo metrosexual, dia menghibur :) tapi itu dulu ren, waktu aku sama dia msh kecil belum punya image yg musti dijaga!! aku tau alamatnya no hp nya ultahnya keluarganya plat nomor motornya ukuran sepatunya parfumnya dan SEMUA MANTANNYA. walaupun sekarang aku dan dia satu sekolah tapi sama sama ngga pernah menyapa satu sama lain. sumfaaaaah sakit ren berasa jauh banget :'( maaf jadi curcol gini

okay, bedanya kalo masa lalu kamu itu jauh, kamu ngga ngerti dimana dia tinggal, km ngga ngerti nomor hp nya, kamu ngga ngerti apa motornya sekarang, kamu ngga tau siapa pacar dia sekarang, (maaf) kamu ngga tau semua tentang dia sekarang ini ren!

mungkin masalah kalian putus ngga usah aku umbar disini kali ya, itu prifasi km bgt

hey ren, km msh inget waktu km ngomong gini ''wah cowo itu ganteng bgt mirip Ucup alumni smp 10 dia itu lahir 1993 tp nunggak hihi Ucup itu tingginya 181 aku aja se-dada-nya dia doang'' kamu selalu ngucapin kata kata itu, kamu pasti bangga? aku aja yg denger bangga kok :D

hey itu masing masing dari kita berdua ren dan kita belum menjadi satu, itu masih 'sekarang' fine mungkin kita ngga tau apa kabar 'seseorang masa lalu kita sekarang'? iya kan? tapi bukan berarti kita ngga bakal tau dia di masa mendatang, mungkin kita berdua bukan sebuah 'present' dari 'seseorang di masa lalu kita' yg bakal hilang kalau ada 'future'. HEY REN bukankah bukan tidak mungkin kalau kita berdua ditakdirkan menjadi 'future' bagi orang di masa lalu kita? haha

aku janji ren, aku bakal bantu apa yg aku bisa karena rasanya sakiiiiiiiiiiiit banget. yes ren, you and me against the world!