Jumat, 30 Desember 2011

Ungu


Sejak dulu, saya jatuh hati dengan warna ungu. Saya letakkan itu di belakang setelah perasaan saya untuk mu. Karena kamu masih sebagai prioritas alasan mengapa hati saya harus jatuh; jatuh hati.

Saya seperti merah pekat. Hidup saya monoton dan gelap. Lalu diperjalanan, saya menemukan mu. Mengenalmu di sudut pandang lain sebagai biru. Biru langit yang cerah, sumringah, berubah-ubah. Saya butuh sosok sepertimu di sini. Untuk membantu mencerahkan apapun yang awalnya kelam. Mendekap saya lekat dan membiarkan bahasa tubuh kita berbicara. Mencari sebuah getar luar biasa jauh di dalam mata. Menikmati nyeri di ujung dada yang semakin semena-mena. Mensyukuri cinta kita yang ‘kegemukkan’.

Saya Merah. Hei, Biru, mari membuat dunia ungu dengan saya.

Tidak perlu lebih pekat merah ataupun lebih banyak biru. Karena kali ini tujuannya untuk membuat saya dan kamu sebagai kita, juga menyatukan apapun yang dulu masih masing-masing.



Sabtu, 31 Desember 2011, oo:o8. Kamar Ungu ; Sambil menunggu LED Ungu BlackBerry saya berkedip-kedip.

Sabtu, 24 Desember 2011

Selamat Hari Malaikat Tak Bersayap


*Banyak yang bilang beliau mirip wanita Batak
dan saya mirip bocah Cina
(sewaktu masih putih dulu).
Namun wanita dan calon wanita di atas
adalah keturunan Jawa asli tepatnya
di Candi Losmen yang siap
mendobrak dunia.





*Ibu, saya, dan Ma'e (panggilan orang Jawa untuk seorang Nenek)
Calon seorang Ibu sukses duduk di antara pendaran kasih sayang Ibu dan Nenek sukses.
Merayakan pesta ulang tahun yang sangat sederhana sekali di ruang tamu yang tidak kalah sederhananya dengan kue buah karya Ma'e, jajaran tas jajanan yang dengan sabar di-lipat dan di-lem satu persatu oleh Ibu, karpet, rok kami yang mewah pada waktu itu, meja yang kacanya pecah setengah, kursi sudut yang seratnya mulai terlihat dan sering saya sobek sedikit demi sedikit, balon yang ditiup Bapak, juga kasih sayang dari mereka untuk saya dan dari saya untuk mereka yang ikut berkumpul bernyanyi, meniup terompet, makan dan minum sepuasnya, berdoa dan berharap banyak untuk kebahagiaan saya.
Seolah keadaan ekonomi waktu itu dapat di-jeda beberapa jam special untuk ulang tahun saya seperti dua kali pesta di tahun-tahun sebelumnya.
Wanita tiga generasi di atas cukup bahagia hanya dengan saling bertukar cinta.




*Saya posting 15 menit sebelum memasuki tanggal dua puluh dua desember. Dengan harapan esok paginya saya ada nyali untuk mengucapkan langsung kepada beliau.
Lalu seharian penuh saya seperti berdiri di antara gengsi dan takut -melihat air mata terharu Ibu.
Hingga 17 kali dari 83 kali Hari Ibu, tak satupun kata saya ucapkan kepadanya tentang Terimakasih dan Maaf -dua kata sederhana yang sangat sulit diucapkan- untuk 17 tahun belakangan ini.




Karena bicara tentang Ibu tiada habisnya, maka, ini saya pinjami earphone warna pink, lalu pasang di kedua telinga Ibu dan dengarkan banyak di sela-sela waktu Ibu menjadi Ibu rumah tangga.


Dari
Cinta penghabisanmu,

Ung

Rabu, 26 Oktober 2011

Mendadak


Saya sedang suka melamun lama di sudut kamar tepat di samping jendela sambil mendengarkan semua lagu Kahitna dan Chrisye. Jendela masih saya buka sebagian, karena siang jelang sore kali ini matahari masih cukup terik. Tidak ada mendung, angin, apalagi gerimis. Namun mendadak hujan datang keroyokan. Jendela semakin saya buka lebar. Seperti biasa, saya memainkan tangan di tetesan hujan. Saya ambil nafas dalam untuk menghirup petrichor. Saya saksikan ribuan hujan yang kali ini jatuh dengan cukup ragu -tidak semantap hati saya yang mendadak jatuh cinta padamu.

Mendadak saya ingat kamu dan tulisan-tulisan saya beberapa waktu lalu yang terlalu meng'elu-elu'kan dirimu. Ingin tertawa malu, sembunyi saja. Takut hujan tau bahwa mendadak saya butuh kamu di sini. Mendadak saya menyerngitkan dahi dan sedikit berfikir tentang banyak pertanyaan. Tidak ada jawaban. Mendadak saya ingat lagi, bahwa jawaban dan alasan seutuhnya ada di kamu.

Seperti hujan, yang awalnya saya pikir kamu mudah ditebak namun justru serba mendadak. Mendadak begini. Mendadak begitu. Mendadak saya tertarik untuk tau tentang kamu lebih dalam. Mari bersama saya mengahapus kelam yang mendadak datang dan susah hilang.



Kamar Ungu. Sabtu, 22 Oktober 2011, 15:08 ; Hidupkan bluetooth di handphone mu, akan saya kirimkan lagu-lagu favorit saya itu.

Kangen


Aduh saya malu. Saya sudah sok tau. Saya kira 16 adalah nomor absen mu, ternyata bukan. Padahal di Surat Kaleng #16 saya sudah berkomitmen mati-matian. Namun, Tuhan ada maksud lain -untuk kita. Mungkin tuhan ingin agar saya tidak berhenti menulis dengan kamu sebagai inspirasinya. Mungkin, jauh-jauh hari, Tuhan sudah faham bahwa satu tahun ini harus dibagi menjadi empat fase untuk saya dan kamu. Jatuh cinta, patah hati, rancu. Hingga tiga bulan terakhir di tahun ini, saya mantap untuk jatuh cinta dengan mu lagi -untuk waktu yang tidak terbatas.

Pagi buta yang tidak sebuta cinta saya, kali ini cukup dingin. Maklum semalam hujan. Namun ujung dada ini justru terasa panas, nyeri lagi. Semalam mimpi tentang kamu sedikitpun tidak, lalu kamu juga belum ada di atas bantal yang sengaja saya siapkan di sebelah kiri bantal saya. Dan pagi ini seperti ada firasat kuat yang memaksa saya untuk tidak dapat melanjutkan tidur. Sementara pukul 3 kali ini, saya perhatikan embun di kaca jendela kamar saya melukiskan wajahmu. Pantulan lampu jalan raya di dinding ungu membentuk tubuh lengkap dengan perut buncit mu. Sebotol air mineral yang selalu saya siapkan di sebelah bantal, juga ikut berusaha mencoba membuat siluet mu. Lalu, gerimis tipis yang meresap di selimut berbisik, katanya, saya hanya sedang kangen dengan kamu.

Berharap, kamu juga sedang tidak bisa tidur karena saya. Karena saya yang sudah mulai kamu izinkan untuk membuat nyeri ujung dada mu; jatuh cinta. Lalu kamu juga menjadi bingung tentang perasaan mu di pagi buta ini. Dan gerimis, juga, ikut meresap di selimutmu mewakili saya, bilang, bahwa sebenarnya kamu hanya sedang kangen dengan wanita yang juga sedang -lebih- kangen dengan mu; saya.



Kamar Ungu, Sabtu, 22 Oktober 2011, 03:19 ; aduH Kangen!

Sim-Card


Melipat tangan di atas meja kayu coklat. Mencoba mengontrol emosi di ujung dada. Memakai sweater rajutan warna ungu di siang terik ini. Memasang headset di kedua telinga namun tak satupun lagu aku putar. Sengaja. Aku hanya sedang kangen dengan nada bicara mu yang dilagukan itu. Lucu. Ingin tertawa seperti dulu, sekalipun sekarang tidak harus dengan mu lagi. Namun aku tidak terlalu ingin memperlihatkannya -kepedulianku.

Ada dua handphone di depan mu. Milik ku, milik mu. Katanya, kamu masih simpan aku di sana. Entah harus bahagia atau apa. Namun kata mereka, aku harus bersyukur. Bersyukur masih kamu simpan. Sementara hanya ada beberapa orang saja yang kamu simpan di Sim-Card. Aku salah satunya. Sim-Card yang tidak akan kamu ganti sekalipun nanti kamu akan berganti handphone. Mungkin maksud mu, agar aku tidak akan terganti.

Aku juga masih menyimpan mu. Spesial untuk kamu, aku simpan di Sim-Card juga. Karena aku tidak akan berganti nomor handphone, lagi-lagi untuk memudahkanmu. Kamu masih akan selalu aku simpan. Dengan nama yang paling istimewa dari yang lain. Dengan ringtone berbeda dari yang lain juga. Dengan LED ungu warna favoritku. Dengan sebuah foto, yang jerawatmu tidak terlalu terlihat jelas di sana. Dengan sebuah catatan kecil yang aku ketik di ujung paling bawah profil kontak mu. Lalu sepertinya, cukup aku, blackberry ungu ini, dan Tuhan saja yang faham apa isinya. Lalu wallpaper, background pesan pendek, semuanya kubuat sedemikian rupa untuk sekedar mewakili perasaan ini bahwa kamu...masih spesial.

Bagaimana jika kita saling menyimpan. Aku meyimpan mu dengan berbagai keistimewaan -yang sedikit berlebihan. Kamu menyimpan ku secara sederhana di Sim-Card yang tetap ada di dirimu sekalipun nanti kamu harus berganti handphone.



Sabtu, 22 Oktober 2011, 11:45 ; Pertanyaannya, kamu akan lebih dulu berganti handphone atau justru nomor handphone?

Selasa, 18 Oktober 2011

Facebook


Tumben sekali saya dapat menikmati sore oranye seperti ini. Karena biasanya nyawa saya baru terkumpul sepenuhnya ketika penutup senja. Merasakan semilir angin di teras belakang, pandangan mata matahari yang tajam seakan enggan untuk tenggelam, puluhan burung sriti, duduk di bangku rotan, air mineral. Dengan mengenakan kaos 'lengan bloon' warna oranye dan celana pendek kuning tiga jengkal di atas lutut, membuat sore ini semakin segar saja.

Saya membuka laptop lama saya di sana. Yang hampir satu tahun tidak terlalu intensif saya gunakan, karena takut kehilangan satu dan lain hal; kamu dan halaman Facebook itu. Di layar dan setiap sisi tombol keyboard-nya banyak debu. Sementara itu saya mengumpulkan nyali dan menarik nafas panjang. Saya buat rileks hati. Saya ikhlaskan pikiran. Saya mantapkan situasi dan kondisi yang lain juga.

Lalu, akhirnya saya buka juga halaman Facebook. Warnanya masih sama, biru, warna favoritmu, warna mayoritas pria-pria lain juga yang pernah menetap di hatiku. Juga masih dengan akun Facebook yang dari satu tahun lalu belum saya 'keluarkan'. Dan saya akan tetap hati-hati agar tidak 'keluar'. Ya, saya hanya berani begini-begini saja. Mengecek notifications, mengecek friend request, mengecek message, mengecek album foto yang sengaja disembunyikan, mengecek status hubungan yang juga disembunyikan, mengecek apapun yang secara tidak jantan kamu sembunyikan. Dan hanya bisa saya lihat ketika saya -terpaksa- membuka -lagi- halaman Facebook di laptop yang satu tahun lalu pernah menginap di kamar kos mu sewaktu hujan itu. Saya tidak berani berbuat lebih. Karena saya tidak memiliki hak lebih atas akun Facebook itu, atas dirimu.

Tumben sekali sore ini ada yang berbisik banyak, seperti
"Cepat ganti passwordnya!"
"Kalau berani, kirim 'In A Relationship' status ke akun Facebook milikmu."
"Remove atau Block sekaligus saja teman-teman wanitanya yang cantik dan seksi itu."
"Setting ulang saja akun Facebooknya itu sesuka hatimu."
"Ayo berikan 'Like' untuk link blog perempuanhujan-mu atas nama akun Facebooknya."

Bisikan-bisikan itu seperti menantang. Tidak, bukannya saya tidak berani. Karena percuma adalah ketika saya sepenuhnya dapat menjalankan hidupmu yang jauh namun sedikitpun tak dapat meraih hatimu yang cukup dekat itu. Seperti berbangga hati telah memiliki mu namun kenyataan berkata saya hanya sedang memiliki 'boneka' yang 'mirip' dengan mu saja. Karena menurut saya, raga bukan apa-apa tanpa hati dan logika. Sementara yang paling saya butuhkan adalah memiliki mu seutuh-utuh-utuh-nya, sekaligus detail hidupmu juga.





Teras Belakang. Sabtu, 15 Oktober 2011, 17;09 ; Masih ada saya di antara daftar teman yang ingin menjadi teman mu.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Sengaja, Tanpa Judul, Teman!

: Tidak akan saya ceritakan sedikitpun. Untuk yang lalu, simpan untuk dirimu sendiri dan akan saya simpan untuk 'kita' selanjutnya.
*Karena ini rahasia teman baru.

Jumat, 07 Oktober 2011

Nyaman


Sore ini saya duduk di sebuah bengkel. Bersama matahari oranye yang seakan ingin membakar penatnya hari ini. Menemani Bapak yang dulu pernah menjadi seorang montir juga. Namun kali ini konteksnya berbeda, kami hanya mengganti oli saja. Lalu, saya pilih untuk duduk di bangku-besi-hijau-panjang yang sepertinya sengaja ditanam kuat di bagian samping teras bengkel. Hanya ada satu yang saya dengar, pantat saya berkata; nyaman.

Bengkelnya di pinggir jalan. Pada jam pulang kerja begini, memang antara macet dan klakson sulit dipisahkan. Bising! Andai saja saya dapat melukiskan bagaimana kondisi sebenarnya. Licin, oli dimana-mana. Sampah bungkus makanan, kardus-kardus bekas, dapat ditemui di setiap ujungnya. Putung rokok, asbak, kopi, air mineral, kacang kulit, seperti sudah tidak layak konsumsi. Bahkan dekat ujung kaki saya, seperti ada bekas orang meludah di sana. Ah sudahlah. Bapak dulu sewaktu menjadi montir juga begitu; asal-asalan. Terkadang saya masih sering heran, apakah yang membuat Ibu betah dengan setiap sore di beri 'oleh-oleh' pakaian kotor dengan banyak oli milik Bapak dulu? Lagi-lagi cinta harus tanpa alasan.

Namun, jujur. Tidak sedikitpun tersirat untuk pergi dari tempat yang notabene jauh dari kata nyaman. Justru di situ saya merasa nyaman. Nyaman dengan apapun yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kali ini, pantat juga otak ikut berkata; nyaman.

Lalu tiba-tiba saya ingat sesuatu... Hei, teman-teman dekat, sekarang saya sudah punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan kalian tempo hari itu. Tentang bagaimana saya bisa jatuh hati kepadanya. Di satu sisi kalian berfikir dia yang kurang tampan, dia yang kurang tinggi, dia yang sedikit hitam, tatanan rambutnya yang berantakan, perutnya yang buncit, kepribadiannya yang -menurut kalian- 'engga banget', dia yang gengsi, juga tentang hari-harinya yang diisi oleh tidur, lagu, dan...apapun itu yang kalian fikir dia masih banyak kekurangan.

Sayangnya, saya terlanjur nyaman.

Nyaman dengan apapun yang menjadi ciri khasnya. Yang banyak orang berfikir itu adalah kekurangannya, justru di sisi lain saya anggap itu ke-unikan-nya.


Karena nyaman, bukan tentang kuantitas sekalipun kualitas. Namun tentang apa yang sedari tadi saya coba definisikan namun terus gagal, mungkin karena sedang tidak ada kamu di sini.





Bengkel Bintang Makmur, Sriwijaya. Selasa, 4 Oktober 2011, 16:14 ; Kenyataannya, 'Nyaman' diawali dengan huruf 'N'.

Selasa, 04 Oktober 2011

Aneh!

: Dulu pertama kali kamu yang menutup, lalu sekarang mengapa saya harus membukanya pertama kali? Ah lemahnya cinta!

Angin Malam


Rambut sebahu ku dan rambut mu yang mulai gondrong tertiup angin. Bergerak ke arah kanan, yang berarti angin malam kali ini datang dari arah barat. Bibir tebal mu cemberut, lucu. Aku ingin ketawa terbahak seperti biasanya kita bercanda. Namun kali ini, tersenyum pun rasanya tabu. Kau sedang banyak masalah bukan? Mungkin di antaranya ada tentang aku yang terselip di sana.

Aku masih berusaha banyak. Tidak sepertimu yang pasif itu. Aku coba memelukmu dari arah belakang. Perutku buncit, perutmu apalagi, tangan ku sedikit tidak sampai. Tapi bukan masalah. Aku hanya sedang ingin menyandarkan kepala ku di punggung mu. Karena sepertinya bahu mu -tempat favoritku- sudah ada yang menempati.

Angin malam, aku ingin minta tolong, sekali ini saja. Perlahan bersandarlah tepat di daun telinganya. Lalu ceritakan semua yang kau dengar dari dalam hati ku, yang kau baca dari air mataku, dan sesuatu di ujung dada yang bergetar lebih cepat dari biasanya. Karena aku canggung, kalau harus memulai percakapan dengan dia duluan.

Angin malam, entah kenapa malam ini dia lebih dingin daripada dirimu. Bahkan dinginnya sampai menusuk tulang. Aku bingung, bahkan tidak tau, mengapa dia mendadak menjadi pendiam kaku begini. Seolah sebagian besar masalahnya karena aku. Yang jelas, aku sudah pernah minta maaf.

Angin malam, bantu aku memecahkan setiap masalahnya. Agar aku dapat bercanda panjang, mencubiti perutnya, menendangi kakinya, menariki rambutnya, dan apapun itu yang sepertinya menyakitkan namun tidak se-menyakitkan cinta. Juga menikmati angin malam bersama hingga kami tertidur di kursi rotan dan aku berbantalan lengannya serta melingkarkan tangan ku di perutnya. Lalu jika waktu akan berpihak lagi, akan ku peluk dia sekali lagi -erat, susah lepas.



Jum'at, 30 September 2011 ; Sekarang hanya ada angin malam dan aku yang memeluk bayang mu erat.

Petrichor


"Bagaimana aromanya? Kamu suka?"

Tetap tidak saya temukan jawaban mu. Kamu masih menyalakan tv, menekan-nekan remote dari angka 1 hingga 9 hingga 0 lalu kembali lagi ke angka 1, terus. Padahal kali ini tv sedang semutan. Gambarnya naik turun. Suaranya serak. Antena mungkin sedang asyik mengobrol bersama petir. Maklum di luar sedang hujan deras. Bukannya ini yang kamu mau? Katanya kamu kangen hujan.

Justru malam ini kamu sedang engga-banget. Endapan kopi yang biasanya kamu tambah air panas lagi, malah kali ini sengaja kamu jadikan asbak untuk ke-empat putung rokok mu. Yang biasanya Jazz, jadi Alternative Rock. Bantal sofa sudah kemana-mana. Lampu sengaja tidak kamu nyalakan sejak penutup senja tadi. Kamu tanggalkan semua kebiasaan-kebiasaan kita.

Yang membuat saya semakin heran, mengapa suasana wajah mu juga ikut se-tidak-karuan ruangan ini?

Saya lepaskan perlahan remote tv dari tangan kiri mu. Saya mencoba menyelipkan ke-lima jari-jari tangan kanan saya ke celah-celah itu. Mungkin benar, celah tangan sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk saling memenuhi dan dipenuhi satu sama lain. Lalu, saya coba genggam -erat. Kamu menonton acara tv, namun hanya kekosongan yang saya temukan di mata mu. Saya bersandar perlahan di bahu kiri mu. Saya mengumpulkan nyali untuk sekedar menatap mu dari sudut bawah. Kamu masih berbeda dari sebelumnya. Memang tidak ada bentuk perlawanan dari mu namun bahasa tubuhmu kaku!

Lalu saya coba tanya,
"Bagaimana tentang petrichor? Kamu suka?"

Masih tidak ada jawaban. Lalu perlahan saya seperti disadarkan bahwa saya terlalu memaksakan dunia saya kepada mu. Tentang angin, tentang gerimis, tentang hujan, tentang pelangi, tentang genangannya, tentang petrichor. Ya sudah, saya pergi saja.

Entah semenjak malam itu apakah kamu sudah menyadarinya atau belum. Kalau saya meninggalkan botol kaca seukuran tiga ruas jari di depan cermin dekat meja tv. Sengaja saya letakkan di sana, agar kamu yang setiap sebelum mandi bercermin dulu bisa melihatnya. Sebenarnya botol itu berisi petrichor. Saya kumpulkan dari teras belakang di saat hujan pertama kali musim ini. Kalau masalah aromanya....saya tidak mampu menuangkannya dalam kata-kata. Yang jelas, jangan kamu sia-siakan petrichor itu. Karena itu parfum terbaik, termahal, terawet, terlangka, dan terakhir yang saya hadiahkan untuk mu di hari '3-tahunan' mu dengan wanita itu.

"Sudah kamu coba? Bagaimana aromanya? Kamu suka?"




Sabtu, 25 Juni 2011, 22:28 ; Kalau saya suka sekali.

Senin, 03 Oktober 2011

Matahari Fajar


Alarm di handphone ku bunyi. Dengan lagu berjudul Kangen milik Chrisye lalu aku lihat hanya emoticon wanita jatuh cinta di layarnya. Oh bukannya itu alarm yang aku aktifkan semenjak Maret lalu. Waktu itu aku memang sedang se-jatuh-cinta-cinta-nya. Juga waktu itu setiap awal bulan, kamu minta aku bangun di saat fajar dan kita 'ketemuan'.

Fajar kali ini, dengan tali be-ha ungu ku yang masih lari kesana kemari, dengan celana futsal hitam-kuning, dengan kaos barong ungu oleh-oleh mu dari Bali yang mulai menyempit di bagian lengan, dengan rambut berantakan seperti rambutmu yang jarang tertata rapih, tanpa cuci muka atau gosok gigi, aku langsung ke tempat itu. Tempat yang dulu pernah kita sepakati untuk bertemu.

Tempat istimewa. Bukan bukit berbunga dengan pemandangan pantai luas yang dapat untuk menikmati matahari fajar secara bebas. Namun kita justru memilih bukit kersen -sejenis buah ceri. Bentuk pohon kersen yang tinggi dan cabangnya tumbuh kemana-mana. Matahari harus mencuri celah pepohonan untuk masuk. Di sana memang lembab, seringkali ada genangan air hujan sisa semalam. Jangankan bunga, lumutpun terpaksa tumbuh di sana. Eum apa ya? Aku suka saja, ya begitu.


Siapa bilang tidak romantis!
Justru di sana, kita dapat menghargai hal sekecil apapun yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma. Mencari matahari fajar dari sela-sela cabang pohon. Mengintip burung yang sedang menikmati buah kersen. Belajar banyak dari genangan hujan yang tersirat sebagai genangan kenangan. Duduk berdua melipat kaki tanpa alas apapun. Memejamkan mata. Mencari tempat yang tepat, agar sinar matahari fajar langsung menyilaukan mata. Sembari kita bercerita apa yang terjadi sebulan belakangan ini. Indah...

Ini pertama kalinya aku mencoba ke sana lagi, setelah beberapa lama kita sempat melepaskan segalanya yang dulu pernah terhubung. Siapa tau kau sudah ada di sana. Aku lari cepat. Lebar langkahku dua kali dari biasanya. Dan...hei itukah kamu? Dari jauh aku lihat kaos futsal hitam-kuning favorit mu yang terkena sedikit matahari yang semakin menyilaukan mata, tepat dimana tempat mu biasa menyilangkan kaki berdua dengan ku, dulu. Namun, ternyata kudekati, itu bukan kamu. Hanya kaos itu sengaja dibiarkan menggantung berdiri dengan sanggahan tongkat bambu. Di depannya, tepat dibagian dada kaos itu, yang biasanya sangat dekat dengan dada mu, kali ini kutemukan tulisan 'Selamat Tinggal' di amplop yang -jujur- sampai sekarang belum kuberanikan untuk membaca lebih dalam apa isinya.



Minggu, 2 Oktober 2011, 04:44 ; Mungkin aku telat sehari.

Kopi Dan Rokok


Kopi dan rokok. Kamu dan Bapak. Bapak pernah bercerita. Dulu Bapak juga seperti kamu. Seharian rela tidak makan di sekolah untuk membeli sebatang rokok, jaman itu. Sembunyi-sembunyi setiap mau merokok. Sudah begitu kalau ketauan, besoknya Bapak tidak diberi uang jajan. Di mobil, waktu Bapak menceritakannya, saya ketawa sembunyi-sembunyi. Saya mendadak ingat kamu. Belakangan semenjak saya kenal kamu, gaya mu juga begitu, Tidak pernah berfikir panjang, seperti anak-anak bungsu lainnya.

Lalu, kopi. Kamu suka memesan kopi hitam dengan sedikit gula tanpa cream. Sepertinya kamu jarang jatuh cinta. Dilihat dari komposisi kopi favoritmu, hidupmu monoton sekali. Sayangnya, Bapak juga begitu. Malah kadang kopinya dimasak dan ditambah garam. Ah tidak mengerti dengan jalan pikiran pria-pria macho seperti kalian.

Seperti kamu dan Bapak. Kopi dan rokok. Dua hal yang saling terikat satu sama lain. Suka dunia malam. Suka begadang. Suka kacang kulit. Suka teras belakang. Suka sepi. Suka menaikkan kaki di atas bangku rotan panjang. Suka pemandangan lampu-lampu malam. Saling melengkapi. Yang satu hitam pekat, yang satu bercahaya. Satu api satu air, namun tidak saling menjatuhkan. Keduanya punya aroma menyengat yang berhasil membuat saya ketagihan. Sama-sama membuat mata merah, gigi kuning, kuku kotor, juga penyakit dalam lainnya yang lebih sakit daripada sakit hati.

Kopi dan rokok. Kamu dan Bapak. Saya pasif hidup di antaranya.





Teras Belakang, Minggu, 2 Oktober 2011, 22:20 ; Menghirup asap dari kopi dan rokok. Jadi kangen!

Rokok


Senja ini aku bergegas meninggalkan tempat tidur. Tidur siang tadi terlalu nyenyak hingga aku harus bangun terlambat. Tanpa mandi atau apa itu sudah biasa. Hanya cuci muka sekedar untuk menghilangkan siluet bantal di sekitar pipi, dan sesuatu yang telah mengering di sekitar bibir. Katanya, Bapak ingin mengajakku makan sate. Bapak akan mentraktirku. Bapak memang sering begini, suka baik sekali jika sedang tidak banyak pikiran. Atau mungkin Bapak lagi jatuh cinta malam ini. Hahaha. Sudahlah...

Di warung sate pinggir jalan yang antreannya lumayan panjang. Hanya butuh 20 tusuk sate saja harus menunggu tiga kali lipatnya. Akhirnya kami hanya duduk. Aku membaca koran sekenanya, yang sebagian besar sudah ketumpahan kecap. Kalau Bapak sudah tidak perlu ditanya. Di waktu membosankan begini, pasti mengeluarkan senjata andalannya; Rokok.

Soal rokok, aku jadi ingat seseorang yang merk rokoknya sama seperti Bapak.
Hei, kamu apa kabar? Ingat tidak, hujan siang itu, waktu aku pakai jaket kulit coklat yang bau rokok. Serius, berkali aku bilang, itu jaket Bapak. Bapak memang perokok -sangat- aktif. Kamu tidak juga percaya, kamu pikir aku perokok juga, seperti kamu dan Bapak. Sampai pernah menawariku sebatang rokok juga. Jadi ingin cekikikan jika mengingatnya.

Lalu kita bercanda kecil tentang rokok. Tentang api dan abunya. Tentang abu yang tidak bisa menjadi apa-apa tanpa api. Tentang abu yang dibuang setelahnya. Tentang cahaya kecil di ujung namun bisa menghabiskan sampai mulutmu juga. Tentang kamu yang selalu lupa membalas pesan pendekku. Tentang sapu-tangan hijau yang di ujung dekat pita merahnya berlubang kecil. Tentang mata mu yang mulai memerah. Tentang kuku mu yang sering kotor. Tentang gigi mu yang menguning. Tentang nafas mu yang...ah. Semua itu karena rokok!

Aku jauh mengerti kamu daripada rokok. Sekalipun prioritas mu tetap rokok.



Sabtu, 1 Oktober 2011, 18:38 ; Bungkus rokok Marlboro mu masih ku sembunyikan di meja rias ku.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Nyeri


Semakin saya ceritakan, semakin tidak ada habisnya. Malam minggu ini, saya masih tetap di kamar bersama nyamuk-nyamuk yang sudah berpasang-pasangan. Mungkin memang Tuhan belum menghadiahkan untuk saya seseorang yang seharusnya menjemput untuk sekedar menghilangkan penat di saat-saat seperti ini. Saya juga masih dengan kaos ungu muda khas Bali oleh-oleh dari teman saya yang sekarang sudah robek di sisi lengan bagian kiri, dengan pasangan celana pendek futsal kuning-hitam dengan nomor 25, entah apa, saya nyaman saja menggunakannya. Apalagi saat kondisi seperti ini, saat hujan jarang menyapa. Ah kangen hujan.



Saya gigiti kuku, hingga kutek biru tua yang menutupinya perlahan pudar -tidak sengaja. Mengikat rambut setinggi mungkin agar udara sejuk teras belakang sedikit bisa membantu menyegarkan. Air mineral yang tertinggal di dalam tas putih blacu siang tadi langsung saya habiskan. Melipat lutut dan bersandar di kursi rotan. Rasanya lebih dari grogi. Teman, mungkin ini semacam nyeri. Karena nyeri ini semakin menjadi-jadi. Saat mendengar nama mu saja, nyerinya sudah mulai terasa. Lalu perlahan mata ini tidak lagi fokus pada apa yang saya lihat, seperti berbayang. Juga ribuan semut seolah mengkrikiti otak bagian dalam saya, kepala saya berdenyut kencang. Tangan bergetar sejadinya. Menghela nafas berkali-kali. Membanting pintu lalu lari ke teras belakang tanpa lampu -menangis.


Seandainya kau ada di sini, sudah saya siapkan kuncinya agar kau bisa masuk dan sekedar mengintip. Hati ini seperti ingin melangkah maju namun masa lalu menahannya, sementara saya tak punya pegangan satupun untuk kedepannya. Kupu-kupu di dalam dada juga mulai bingung. Sedangkan saya sendiri hanya bisa memainkan ibu jari kaku di petakan tanah teras belakang. Saya menatap ke bawah, karena bulan dan bintang di langit sedang menikmati dunia mereka sendiri. Hingga mata saya mengarah ke bawah dan melihat dua onggok angka, nyeri bertambah, saya memutuskan untuk melihat pemandangan kota saja. Benar Teman, ini nyeri. Juga sudah saya ceritakan kepada Ibu, namun beliau bilang, tak perlu meminum obat karena saya lebih butuh istirahat. Mungkin di satu sisi, istirahat yang cukup memang lebih efisien daripada obat. Di sisi lain, Ibu juga wanita, mungkin nyeri seperti ini bukan sembarang nyeri, Teman.
Hey, kemari. Kenakan pakaian futsal mu juga. Saya sudah cukup senang meski kau tak pernah memamerkannya di tengah lapangan.



Teras Belakang. Sabtu, 1 Oktober 2011, 21:06 ; Ternyata sang pembuat nyeri justru obatnya.

Foto

Meski sekedar hitam-putih dan terdapat semburat keriput di kertas foto 3x4 tua itu, namun tak pernah lupa ku pandangi di setiap malam sebelum tidur. Maaf, beberapakali sempat aku cekikikan. Tidak, bukannya kau jelek, namun kau imut sekali. Pipi tomat mu. Mata telur mu. Hidung kacang mu. Bibir kentang mu. Kau yang tampil apa adanya. Seperti anak-anak seusia mu waktu itu juga. Akan selalu aku simpan di balik kupon universitas favoritku di dalam dompet ungu ini. Karena aku berjanji, aku akan meletakkan mu sejengkal tepat setelah masa depan ku.

Ah andai aku ada cukup nyali untuk memberitahukan kepada dunia, bagaimanakah kau waktu itu.



Jl. Karangrejo Raya, Semarang. Rabu, 22 September 2011, 13:57 ; Hanya tersisa maaf dan cinta setiap kali memandanginya yang polos itu.

Lagi...




Semalam, saya buka sebuah akun twitter yang dulu sempat menjadi kebutuhan saya. Saya buka lagi. Saya scroll hingga ujung paling bawah. Hingga tweet pertama mu sekitar awal tahun ini. Saya suka membacanya, saya nikmati di setiap kata hingga kalimatnya, atau sekedar tanda baca dan emoticon-emoticon lucu yang menggambarkan suasana hatimu benar-benar tak ingin saya lewatkan. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir memang tak ada gunanya dengan hanya membaca "Mandi dulu yeee" atau "Jangan telat lagi ah" lalu juga "Begadang lagi yo!". Namun yang saya tau, terkadang cinta di luar batas pikiran manusia.

Tulisan mu memang tak pernah seindah penulis-penulis di luar sana. Namun, justru saya kerasan. Seperti ada banyak tangan yang menggenggam tangan saya ini lalu menahannya agar saya tidak perlu kemana-kemana lalu mencoba memeluk saya dari belakang tetap dengan usaha untuk menahan lalu saya...jatuh cinta lagi...

Rasanya memang beda jauh dari sembilan bulan yang lalu. Dulu yang hanya bergetar, sekarang lebih ke arah 'nyeri' yang awalnya saya pikir semacam sesak nafas yang menyumbat dada. Kedua tangan tidak hanya mendingin, namun mendadak kaku. Dahi juga ekor mata ikut berkeringat bersamaan. Dulu sembari membaca tulisan hatimu itu, saya sering juga menikmati teh dan camilan manis, namun kini sudah tidak ada waktu, saya hanya memfokuskan segalanya kepadamu. Lalu, dulu, saking penasarannya saya dengan cerita-cerita mu selanjutnya, sampai saya tergesa membacanya, tidak dengan sekarang, karena saya tidak ingin ada satupun yang terlewat. Dilewati itu tidak enak.

Ya, begitu terus. Hingga akhirnya, tiga bulan pertama di awal tahun ini saya jatuh cinta. Lalu tiga bulan selanjutnya saya paksakan untuk menghapus inspirasi yang pernah ada. Namun, tiga bulan belakangan ini saya rancu. Hingga semalam, tepat tadi malam, saya mantapkan lagi untuk, ehem, jatuh cinta lagi...dengan kamu.

Tolong, jangan buat tiga bulan terakhir saya sebagai penutup tahun menjadi tak karuan. Jangan buat saya trauma dengan angka tiga seperti saya yang sempat trauma dengan hari ke-tiga di setiap minggunya. Ngomong-ngomong, berkali saya perhatikan dengan seksama, ternyata belum saya temukan satupun 'obrolan' kita. Mungkin lebih tepatnya tidak ada. Karena kamu tidak pernah mencoba untuk membuka, sekalipun kamu yang menutup.



Teras Belakang. Rabu, 28 September 2011, 22:47 ; Masih meringis mengumpulkan nyali dan menahan nyeri.

Kamis, 29 September 2011

Kopi


Awalnya aku tidak terlalu tertarik, karena kopi adalah sahabat mereka yang sedang dalam posisi sama dengan ku. Kopi itu…pasaran, tidak ada gregetnya. Mungkin mereka pikit, dengan meminum kopi, mereka sudah menjadi ‘sesuatu’ seperti kebanyakan remaja masa kini. Justru untukku, kopi adalah sekedar penghilang kantuk di beberapa malam yang aku rencanakan untuk terjaga.

Aku tidak pernah sukses dalam membuat kopi, itu alasan ku mengapa aku tidak terlalu memprioritaskannya. Terkadang pahit, takaran gula terlalu sedikit. Terkadang hambar, air panasnya berlebihan. Sesekali pekat, serasa bubur yang bisa dihabiskan semua hingga endapannya. Juga pernah mencoba memasak kopi seperti Bapak, namun hasilnya tetap saja nihil. Lalu dari situ, aku lebih memilih menikmati air mineral, walau aromanya tidak seharum aroma kopi, namun aku diberi jalan pintas untuk dapat sesegera menikmatinya di sana.

Kau itu seperti kopi. Atau mungkin kopi yang seperti mu. Kopi yang mengikuti gerak-gerik mu selama ini. Aku tau kok, sangat tau bahwa kau dan kopi seperti closet dan isinya; kompak! Mungkin aku juga tidak bisa untuk menjadi kopi untuk mu, yang selalu menjadi pemanis di malam-malam pekat mu, atau malam mu yang hambar, atau malam mu yang membosankan. Semua itu bukan karena aku tidak mampu atau apa, hanya saja kau belum pernah memberiku izin untuk menggantikan posisi kopi di hati mu.

Juga, kopi perlahan mulai tertular penyakit mu yang paling tidak aku sukai. Kopi mulai susah ditebak, mulai membuatku meringkuk di teras belakang menangis sendirian, lalu memberi warna hitam di hidupku. Namun, terkadang aku kangen. Aku kangen dengan suara sendok yang bertabrakan dengan sisi dalam gelas. Kangen dengan air panas yang asapnya bergandengan saling menari menjauh setelah ku usir dengan tiupan dari bibir ku. Kangen dengan semut-semut yang berebut gula dengan ku. Kangen dengan rokok yang di tidurkan di ujung gelas. Aku kangen dengan kopi seperti kau kangen dengan kopi, seperti kopi kangen dengan mu, seperti aku yang kangen dengan orang yang menghidupkan kopi; Bapak dan engkau.

Dan aku berjanji, akan membuat kopi dengan benar. Membuat tiga gelas kopi dengan takaran yang cukup di setiap gelasnya untuk setiap malam panjang. Satu gelas untukku, anak tunggal Bapak sebagai penikmat kopi baru. Lalu satu gelas lagi untuk Bapak. Dan satu gelas terakhir untuk calon menantu tunggalnya yang menginspirasi ku tentang kopi selama ini. Karena bagiku, tanpa mu dan Bapak, kopi hanya sebatas bubuk hitam yang memahit.

Jumat, 23 September 2011

Bahu


Benar-benar kutemukan sebuah dunia kecil nan cantik di sana.

Masih terobsesi dengan huruf ‘B’. Ada beberapa. Yang pertama, jelas engkau, sayang, yang berinisial huruf kedua dari alphabet itu. Lalu ada Bali, sebuah tempat yang tertunda ku kunjungi, namun aku yakin bahwa suatu hari aku akan tetap pergi ke sana di waktu dan bersama seseorang yang lebih tepat. Belle dan Beast, tokoh favorit yang mengajarkan kepadaku bahwa cinta tak selamanya tentang kesempurnaan fisik. Juga salah satunya ada bahu. Ah dasar B! selalu membuatku tak karuan.

Ngomong-ngomongm bahu mu, ya…ujung bahu mu itu. Aku suka bersandar manja di sana. Mendengarkan dag…dig…dug…yang entah suara apa terdengar jelas sekali dari sana. Merasakan sebuah getaran lembut dari dalam dada bidang mu. Melihat mata teduh mu dan senyum gugup mu dari sudut bawah adalah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan oleh pelukis manapun. Mendekapmu utuh dengan menangis atau tertawa sungguh tiada beadanya. Karena berada di sana memang sudah solusinya. Tidak! Kau tidak perlu berbicara panjang lebar, bahu mu sudah menjelaskan banyak keadaan.

Lalu, kelak, suatu waktu nanti kau akan butuh bahu. Pakailah bahu ku! Bersandarlah di sini. Bahwa kau akan merasakan suara-suara yang sedikit ramai daripada sebuah karnaval. Seperti jeritan-jeritan kedamaian. Karena aku damai ketika menjadi dan berada di bahu mu. Akan ku tunjukan, ada sesuatu di sana, yang lebih dari sekedar segalanya. Rasanya, rasa itu , menuntun hati dan logika ku untuk berjalan sejajar bebarengan menuju sebuah pintu jawaban. Ya, bahu, bahu mu itu, seolah sebuah solusi dari segala solusi terbaik yang pernah ada.

Asal kau tau, aku kerasan untuk tinggal di bahu mu. Sebuah petakan kecil yang berhasil membuatku merasa ‘liburan’ ke Bali setiap kali ku berkunjung ke sana. Menyeret air mata ku keluar yang sedari tadi mengintip di ekor mata, bahwa aku ingin syukur haru sepenuhnya kepada Tuhan karena telah menciptakan dan membawaku ke sebuah tempat yang tidak pernah memandang bagaimanakah aku itu.

Dan aku harap, bahu mu menjadi satu-satunya tempat di mana kepala dan hati ku bisa berdiskusi barang sejenak. Izinkan aku pergi ke sana untuk berbagi apapun dengan mu, karena aku menemukan sebuah dunia kecil nan cantik di bahu mu.

Kehilangan


Saya buntu, teman. Saya butuh teman.

Saya takut banyak orang salah persepsi tentang saya, tentang blog ini, terutama juga tentang seseorang di sebrang sana yang sedikit banyak telah menginspirasi. Beberapa pasti tau bahwa saya sempat kehilangan. Bukannya saya lupa menaruh, namun saya hanya teledor menjaganya. Kau pikir sengaja? Tidak kok, serius, yang benar saja saya sengaja menghilangkan mu yang notabene adalah hal terpenting di hidup ini. Waktu itu saya sepenuhnya tidak sengaja dan sedikit tidak peka dengan keadaan.

Kehilangan…

Kehilangan waktu itu rasanya lebih dari patah hati. Patah hati kebanyakan remaja labil yang memilih menangis setelahnya. Atau patah hati khusus mereka, mungkin kami, orang-orang yang jatuh cinta diam-diam yang setelahnya berhenti mendoakan. Atau mungkin patah hati yang entah siapa bisa sukses menyembunyikan semuanya dengan tampilan kuat di luar.

Bukan itu semua, teman.

Sudah saya bilang, kehilangan waktu itu rasanya benar-benar lebih dari patah hati. Saya yang uring-uringan sampai tidak dapat menangis, mungkin air mata terlanjur membeku di dalam dada. Saya yang tidak hanya sekedar mendoakan, namun juga yang selalu menceritakan mu dengan tersenyum kepada Tuhan. Saya yang tetap konsisten dengan tetap mengabaikan dunia ketika mata kita bertemu, malu, pura-pura tidak sengaja. Juga semua yang saya simpan sendiri lalu membusuk.

Teman, kehilangan mu seperti kehilangan hati dan logika ku sekaligus. Logika ku ini perlahan menjadi se-berantakan tatanan rambut mu itu. Kalau hati, entah apa kabar, sudah di bakar menjadi api dan di larung ke tengah laut. Saya buntu, teman. Saya butuh teman.

Entah apa yang pantas untuk memulai sebuah percakapan kecil dengan mu lagi,saya rancu, saya bimbang, kita gengsi!

Hanya di suatu waktu, saya ingin kau meluangkan waktu untuk mengintip busuknya bunga-bunga di diri ini yang dulu selalu kau hujani. Lalu, kau sadar, dank au akan dating lagi, tanpa alasan untuk pergi lagi, membawa segalanya yang dulu sempat kau bawa hilang.

Dan saya juga akan sadar, akan memanggil mu…teman. Karena kita memang teman tanpa kemajuan dalam lain hubungan.

Hati


Pelan-pelan aku menyelusup masuk ke dalam hati. Yang dulu aku sangat takut, kini mulai kuberanikan kembali. Karena aku bosan berada di posisi ‘Hambar’; titik di mana aku sedang tidak jatuh cinta apalagi path hati. Pelan, sangat pelan, aku menuju ke dalam hati, degup kaki ku juga tak terdengar dengan harapan segalanya yang tertidur dan asyik bermimpi tidak lagi terbangun untuk kenyataan yang jarang berpihak kepadanya. Berbekal sebuah kunci. Kunci yang dulu kau tanyakan namun aku berbohong berkata hilang, sebenarnya masih ada, masih ku simpan di labirin rahasia, yang ketika aku mencarinya, aku sempat tersesat di sana. Bukannya aku sengaja membuat mu geram, namun waktu itu aku benar-benar ingin menguncimu di dalam hati dan membuatkan mu rumah di sana, yang berseblahan dengan rumah baru Tuhan yang tidak lagi di masjid ataupun gereja; di dalam hatiku.

Akibatnya?

Kau memaksakan keluar, mendobrak pintu hati tanpa kunci. Hati ku rubuh. Untungnya kemarau belakangan ini, dengan ngos-ngosan, aku dibantu Tuhan membenahi segalanya yang dulu pernah rusak, agar di musim hujan berikutnya aku dapat memboyong mu lagi untuk masuk ke hati yang sudah siap huni.

Aku janji, sepenuhnya aku berjanji. Kelak, jika kau mau masuk ke ‘rumah’ itu lagi, akan ku berikan kunci aslinya ini untukmu. Agar kau tetap bisa merasa bebas, karena aku pikir, untuk apa memiliki seseorang yang raganya bersama ku namun hati dan pikirannya entah di mana dan bersama siapa. Menurutku, itu yang namanya kekalahan. Sebenarnya bukan sesuatu yang jauh dan tak dapat dicapai sekalipun berusaha, namun yang di genggam ternyata pergi diam-diam.

Oh iya, sepertinya kau tidak perlu takut. Waktu itu Tuhan tidak marah ketika kau tinggalkan sendiri di dalam hati, malah, senja selanjutnya Ia mengajakmu menikmati kopi bersama. Itu pesan-Nya untuk mu yang dititipkan kepadaku di sertai beberapa penutup sebelum Ia menutup selimutnya di malam musim hujan ini, kata-Nya “Bawalah lagi, menjadi ‘tetangga’-Ku kembali, di dalam hati, asal dia sejati.”

Rabu, 14 September 2011

Rumah


Dari dulu, aku ingin menjadi rumah mu.

Menjadi keset di depan pintu yang hanya bisa berkata 'Selamat Datang' setelah sekian lama kau lupa pulang. Menjadi daun pintu yang terbuka lebar saat kau jenuh dan tak tau harus pulang ke mana. Menjadi ruang tamu yang berisi sambutan mawar segar agar kau tak kapok berkunjung dan tak pergi-pergi lagi. Menjadi ruang keluarga, sesuatu yang selalu menyambutmu hangat dengan pelukan erat dan dukungan hebat. Menjadi ruang makan yang selalu tercium aroma semangat setiap saat. Menjadi dapur yang menuntut mu untuk mencari makan sendiri ketika tak satupun dapat kau jadikan sandaran. Menjadi kisi-kisi jendela agar kau bisa tetap menikmati rokok mu di sana. Menjadi gorden pembatas yang berarti bahwa aku membebaskan mu namun tetap dalam batas kewajaran. Menjadi teras yang bisa membuat mu rileks sekedar menikmati hujan dan menghilangkan penat. Menjadi taman rumput segar, petrichor, parfume paling mahal itu sudah menunggu mu di sana. Menjadi ruang ibadah, sebuah tempat penting untuk menyusun batu bata yang akhirnya menjadi tiang penyangga yang kuat. Menjadi ruang kerja, tempatmu mengukir masa depan. Menjadi kamar mandi, sebuah ruang yang membuat mu bisa 'telanjang' tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Menjadi pagar yang memelukmu lekat.

Aku juga ingin menjadi....kamar tidur utama mu, sebuah tempat di mana kau bisa seharian mengurung diri di sana. Tersenyum-senyum sendiri, berkaca, menangis, terharu, atau sekedar menekuk kedua kaki di paling sudut ruangan dengan tidak tau apa yang harus dilakukan kecuali berbicara lirih dan jujur tentang perasaan mu yang paling rahasia.

Aku ingin menjadi rumah untuk mu yang lebih detail daripada sebuah rumah. Karena rumah bukan sekedar bangunan. Namun di mana aku juga menjadi sebuah alasan utama mu untuk bersegera 'pulang'.

Dari dulu, aku masih ingin menjadi sebuah rumah untuk mu. Dari dulu, mengapa kau masih belum tau juga? Dari dulu, sebenernya aku belum memberi tau.

Jumat, 26 Agustus 2011

Pesan Maaf

Aku,
Tak jauh beda dari lebaran lalu
Masih dengan dada berdegub dan jemari kaku
Mencoba mengetik huruf beribu
Ku lanjutkan untuk nomor mu
Lalu,
Aku kembali dan menunggu dulu
Bukan ragu,
Hanya pesan maaf itu tidak lagi pantas untukmu

Selasa, 19 Juli 2011

Hambar



Saya suka berada di sebuah titik di mana saya tidak sedang jatuh cinta apalagi patah hati.

Ini titik paling hambar di hidup saya selama ini. Baru sekarang ini. Baru kali ini semenjak belakangan ini. Ini semua tentang perasaan saya baru-baru saja ini. Memang tidak mudah di jabarkan bagaimana rasanya. Mungkin ini yang namanya ‘hambar’. Ya, hambar. Seperti aroma air mineral yang saya hirup sebelum saya meminumnya setiap pagi. Seperti rasa makanan sehari-hari nenek saya yang jauh dari kata lezat. Seperti saat saya terpaku di bawah AC atau di depan kipas angina terlalu lama. Seperti berpanas-panasan mencari vitamin E saat upacara di lapangan bola sekolah saya. Seperti rasa kopi yang dimasak Bapak dengan garam.

Hambar di hati saya memang bukan itu semua, namun tidak jauh beda. Yang saya tau saat ini, saya sedang tidak jatuh cinta apalagi patah hati. Saya memang merasakan hambar, namun bahagia, dan tidak merasakan rasa hambar yang menyiksa. Padahal di hari-hari saya kini sudah benar-benar tidak ada hujan bunga. Padahal hati saya sudah tidak lagi merah jambu. Padahal kupu-kupu sudah malas menari di dalam dada. Padahal pagi hari terasa mendung. Padahal segalanya sudah tak senikmat ketika jatuh cinta dulu. Lalu saya juga tidak lagi uring-uringan, mencurahkan isi hati dengan cicak, menangis bawah bantal, iri dengan hujan yang tidak perhah sendiri. Tidak, saya sudah tidak seperti orang yang sedang patah hati, walaupun sakit namun, jujur, saya tertantang untuk melaluinya, ya seru begitu.

Justru kali ini saya tidak merasakan apa-apa. Tidak senang tidak sedih. Tidak terpuruk tidak melambung tinggi. Yang jelas, saya suka berada di titik ini. Saya seperti hujan yang bebas bermain kapan saja, dengan siapa saja, di mana saja, juga kapan saja, ketika Tuhan ketiduran. Hujan tidak perlu takut pulang terlambat atau sembunyi-sembunyi dari Tuhan mengambil deadline matahri untuk bermain.

Ah, yang saya bingungkan sekarang, bagaimana menjaga hati saya agar tetap di posisi ini sepanjang yang saya butuhkan. Karena saya tidak ingin terburu-buru patah hati ataupun terlambat jatuh cinta.

Senin, 13 Juni 2011

Surat Kaleng #16 untuk Absen 16


Ingatkan aku, ini bagian terakhir tentang mu. Jika nanti aku akan menulis tentang mu lagi, cegah aku sesegera mungkin.

Ternyata nomor absen mu itu 16. Aku pikir 15, atau yang lain. Dan entah jodoh atau apa, kali ini benar-benar tepat sekali aku menulis Surat Kaleng #16 untuk Absen 16. Tau tidak, aku sebenarnya sudah merencanakan menulis hal ini sejak lama namun aku tidak juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengetahui satu hal tentang mu yang belum aku tau; nomor absen mu. Mungkin agar aku tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu. Agar semuanya tepat dan aku tidak lagi perlu untuk berlebihan dalam satu atau lain hal. Mungkin juga Tuhan memberiku jeda untuk berpikir apakah aku harus tetap menjaga hatiku untuk mu atau menyudahi dengan tulisan terakhirku untuk mu ini.

Robin, buka jendela mu lebar lebar. Ambil lalu baca surat ini yang baru saja diantar burung hantu yang sedang kesepian.

Januari, Februari, Maret. Satu, dua, ya tiga bulan aku kepincut berat dengan mu. Cari tau semua informasi tentang mu. Memenuhi tags 'Ketika Jatuh Cinta' di blog ku dengan semua harapan-harapan ku yang aku biarkan tumbuh dengan sehat dipundakmu. Menunggu mu untuk sekedar lewat di hadapan ku dan tersenyum. Salah tingkah seperti kecoa yang pertama kali merasakan closet mewah. Maunya senyum dan ketawa ketawa kecil sendiri. Terkadang merasa dewasa yang sudah siap dengan segalanya, terkadang merasa ini semua hanya cinta monyet rabies yang kalau monyet rabies itu cepat mati maka semua perasaan yang ada juga ikut cepat mati.

April, Mei, Juni. Satu, dua, ya tiga bulan sudah rasaku terlalu biasa dengan mu. Hapus nomor handphone mu. Unfollow akun twitter mu. Tidak lagi menunggu mu lewat sambil tersenyum. Membuang semua informasi tentangmu yang susah payah aku cari. Menghentikan untuk memenuhi tags 'Ketika Jatuh Cinta' di blog ku karena aku memang sudah tidak lagi jatuh cinta. Robin, aku galau, aku rancu, aku tersesat di labirin yang aku buat sendiri. Dulu ada kamu yang aku jadikan bekal di masa depan, yang aku masukkan ke saku baju ku setiap saat. Tapi sekarang, sudah tidak lagi. Jangan tanyakan aku masih cinta atau tidak, tolong jangan tanyakan itu. Aku tidak berani jatuh cinta dengan mu. Aku takut di adu domba dengan cinta.

Ya, tiga bulan sudah aku sanggup menjalani semuanya serba sendiri, tanpa bekal, tanpa motivasi, tanpa inspirasi, tanpa segalanya yang dulu itu adalah kamu, Robin. Bantu aku bagaimana mengisi kesepian ini agar aku tampak ramai. Seperti burung hantu yang kesepian, ia merebut secara paksa pekerjaan merpati yang senantiasa mengantarkan surat. Tapi kali ini, burung hantu angkat tangan, tidak sanggup mengantarkan surat kaleng ini ke bulan untuk Robin si pawang hujan.

Eh Robin, selain nomor absen mu, 16 juga urutan inisial ku di alfabet. Lagi-lagi aku tidak tau ini jodoh atau apa.

Hati Membanting Tulang


Kau pasti lebih tidak tau tentang aku dibandingkan cicak cicak itu. Tidak tau tentang ada apa di hari Rabu, tentang mengapa aku hanya fokus di satu warna kutek saja, tentang keinginan ku untuk lebaran, tentang usaha ku agar tidak lagi peka, kebersediaan menunggu, mencoret-coret sepuluh kuku ku seperti orang gila, tentang gengsi. Dan masih banyak lagi yang kau belum tau dan juga yang kamu belum berusaha untuk tau. Salah satunya, tentang hati ku. Itu lho hati ku yang merah jambu, yang sebagai dompet untuk menyimpan ribuan maaf walaupun setiap saatnya harus aku jadikan kado untuk mu yang tidak pernah kau sadari.

Hati ku itu wanita. Kemayu sekali. Dia sedang belajar pakai mascara dan eyeliner yang benar. Suka pakai blush-on warna oranye di sekitar tulang pipinya. Bibir segarnya justru ditutup lipstick coklat pucat. Apalagi eyeshadow-nya yang tidak kalah mencolok dari kutek-kuteknya. Ah dasar hati. Mungkin hati sedang mencari hobi sekaligus hiburan baru daripada penat melulu mengurusi hatinya hati. Hatiku jarang sekali piknik. Dia selalu bekerja, bekerja, dan bekerja.

Hatiku membanting tulang.

Tidak tau bekerja apa ataupun untuk siapa. Yang aku tau, dia sering memeras keringat, oh atau jangan-jangan hatiku mengeluarkan air mata. Hatiku itu mandiri, tidak pernah dipermasalahkan ketika dia sedang berdua atau sendiri. Dia juga tidak pernah berhenti ditengah jalan ketika harapan-harapannya berhenti ditengah jalan. Tersenyum ketika air mata memojokkannya. Menghidupkan hidup ditengah semangatnya yang harus mati. Bersabar ketika jarum jam memaksanya tergesa. Tidak memperdulikan pujaannya ketika sedang mengejar dunia dengan wanita lain. Hatiku tidak punya bekal apa-apa, karena ini hidup sesungguhnya, bukan piknik yang sudah direncanakan sedetail-detailnya. Hatiku hanya sedang membanting tulang untuk hatinya agar sekeras tulang.

Besok, suatu saat nanti aku juga akan bekerja keras membanting tulang seperti hatiku. Tidak peduli berdua atau sendiri, kalau bisa berdua. Aku akan merubah semuanya. Terutama hidupku yang hitam pekat agar tampak cerah seputih putih-tulang. Siapa tau ada seseorang yang mau membantuku mewarnai hidupku.

Reflek


Reflek, refleksi dari hidup yang terkadang menuntun mu diam diam memasuki sudut rahasia yang tak pernah pura pura.

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kurang lebih 4 sampai 5 pesan pendek dari pengirim yang berbeda. Isinya kurang lebih seperti ini:

" Pejamkan mata mu, sebutkan nama seseorang yang paling kamu sayang, sebut namanya perlahan, sambil berdoa kepada Tuhan; semoga dia juga mencintaiku dan malam ini aku diberi kesempatan memasuki mimpinya. (Kirim ke 13 orang teman mu dan tunggu keajaiban yang akan datang, jangan diremehkan) "

Bodoh! Sampai sekarang saya masih belum yakin jika saya benar-benar menyebarkannya ke 13 nomor yang ada di handphone saya. Masih belum yakin bahwa saya melakukan hal yang sebelumnya saya anggap 'freak'. Masih belum yakin saya percaya sekaligus takut dengan beberapa potong kata ancaman yang terdapat di akhir. Yang saya yakin, satu satunya yang saya paling yakin adalah tiba tiba saya memejamkan mata, lalu menyebut nama mu perlahan, dan berdoa sedikit dengan Tuhan, sama seperti anjuran pesan pendek itu; reflek.

Ya, saya reflek.

Reflek, refleksi dari hidup yang terkadang menuntun mu diam diam memasuki sudut rahasia yang tak pernah pura pura. Mungkin malam itu ketika saya membaca pesan pendek, reflek sedang duduk disamping saya, lalu sedang mood untuk menuntun saya ke sebuah tempat yang saya tidak tau apa ataupun dimana. Seingat saya, saya belum pernah mengunjungi tempat itu, khususnya sudut yang paling rahasia di tempat itu. Mungkin selama ini saya memang belum belum pernah se'reflek' ini. Saya belum pernah mengunjungi sudut paling rahasia di dalam hati saya. Karena belakangan dan sebelumnya juga saya selalu berpura-pura, terlalu gengsi, terlalu malu untuk mengenalkan air-air mata saya kepada dunia. Intinya agar saya tidak kecewa...lagi.

Diam-diam, reflek membantu saya untuk jujur. Kalau tidak reflek mana saya tau apa yang sebenarnya. Sayapun kalau tidak reflek juga tidak tau apakah benar benar ada yang spesial untukmu di dalam sudut paling rahasia. Namun sekarang saya sudah yakin. Tentang reflek yang tidak pernah pura pura. Semoga kamu juga banyak reflek untuk saya. Karena kalau tidak dibantu dengan reflek, kita berdua tidak akan berusaha mengerti yang sebenarnya. Atau mungkin memang hanya reflek yang mempunyai peta untuk menuju ke sebuah sudut paling rahasia.

Rahasia


Tuhan, kapan kita bisa ngobrol hangat berdua? Saat jarum jam Kau izinkan beristirahat sejenak untuk sekedar minum air es dan mengeringkan keringatnya sehingga memberikan waktu luang untuk kita. Ketika cicak, nyamuk, serangga kecil lainnya yang biasa bermain, bergosip, berjalan-jalan di kamar ku, bahkan debu sekalipun tak Kau izinkan hadir. Pokoknya cuma kita berdua bersama hujan yang mengendap untuk menguping obrolan kita dari balik jendela kayu kamarku, cahaya bulan yang memaksa masuk dari celah ventilasi, matahari dan bintang dengan cueknya berbagi kutek warna nude sambil mengangguk setuju. Aku tidak mengerti semua itu. Mungkin Kau mau datang siang hari, mungkin malam hari, mungkin berbagi senja denganku. Mungkin dimana siang dan malam akan menjadi satu. Yang jelas aku butuh kehadiran-Mu ke kamarku yang sudah aku kunci rapat agar Ibu dan Bapak pun tidak tau bahwa anak tunggalnya ini sedang rancu. Sambil menikmati teh celup dan martabak, aku ingin cerita banyak dengan Mu, Tuhan.

Cerita tentang masa lalu yang ada di pundak ku, yang selama ini membuatku kesulitan dan keberatan setiap kali lari dalam mata pelajaran olahraga. Cerita tentang keadaanku sekarang yang membebani otak dan hatiku sekaligus, sampai terkadang aku bingung, harus mendahulukan perasaan ataukah logika. Juga masa depan, yang berpegang erat pada pergelangan kaki ku, yang mendorongku untuk lari dan berfikir lebih cepat daripada ini, yang membuatku merasa terlalu ambisius.

Kau pasti lebih mengerti dari aku kan, Tuhan? Meskipun aku yang punya hidupku sendiri, tapi jujur, aku 'nol' dalam mengendalikannya, bahkan aku tidak mengerti harus bagaimana. Aku terlalu bodoh untuk sekedar memikirkan harus bernafas dengan lubang hidung kanan ku atau lubang hidung kiri ku. Bahkan untuk melangkah dengan kaki kanan atau kaki kiri duluan, aku masih bingung. Bimbing aku, Tuhan, agar aku tidak salah melangkah, agar tidak boros bernafas, agar bisa menyeimbangkan antara logika dan perasaanku.

Burulah kemari, Tuhan. Airmataku sudah di ekor mata, cerita panjangku sudah diujung bibir, bahkan ingusku sudah diujung lubang hidung, mereka yang sedang siap-siap untuk keluar bersamaan ketika nanti aku berbagi rahasia ku yang...begitulah. Tapi Tuhan harus janji, jangan bilang siapa-siapa, kalau soal hujan, cahaya bulan, bintang, matahari, mereka sudah aku ancam kalau kalau sampai berani membeberkan rahasiaku dengan Mu, nanti.

Oh Tuhan, Kau mengerti maksudku kan? Iya. Kemarilah, terserah Kau saja mau terjun bebas bersama hujan, atau menumpang burung sriti yang setiap senja berterbangan di atap rumahku, asal cepat sampai sini. Aku sudah lelah menunggu, make up baruku juga ikut luntur.

Uh lama sekali datangnya. Kira-kira Tuhan sedang apa ya? Coba aku intip saja, selagi hatiku bolong jadi mudah melihat rumah baru Tuhan yang aku buatkan di dalam hatiku. Oh iya, Tuhan kan juga punya urusan sendiri, punya rahasia-Nya sendiri. Sudah ah jangan terlalu merepotkan Tuhan.